
Jarak dari Nusa Dua menuju daerah Pejarakan, Buleleng Barat kira-kira 168 KM ditempuh dengan waktu kurang lebih 4 ˝ Jam bersama sebuah mobil Pick Up Carry, merupakan perjalanan yang cukup melelahkan. Nengah Suastra adalah seorang Crop Logger Nusa Dua daerah Sawangan dan Peminge bersama I Made Suwika juga Crop Logger Nusa Dua daerah Kutuh, berangkat sejak pukul 16.00 Wita menuju Desa Pejarakan Kec. Grokgak, Kab. Buleleng dan baru sampai di Pantai Pejarakan pukul 17.30 Wita. Di daerah yang didominasi oleh hutan dengan topografi dataran rendah, pada sebuah laut yang menyerupai teluk dengan kedalaman kurang lebih 15 meter inilah dikembangkan bibit Eucheuma cottonii Maumere pertama di Bali. Bibit ini ditebar dengan metode long line.
Topografi Pantai Pejarakan dengan pantai yang menyerupai teluk serta arus laut yang relatif konstan membuat rumput laut ini berkembang dengan pesat. Tallus yang relatif besar memungkinkan bibit ini bertahan dari hempasan gelombang. Bibit ini berkembang bagus dan diadopsi oleh 16 petani dari 30 petani anggota kelompok tani di Pejarakan. Mayoritas petani mengembangkan bibit Eucheuma cottonii Maumere ini berhasil dengan baik. Bibit ini menjadi produk unggulan dan terkenal sampai ke daerah Sumber Kimo dan Musi, Kec. Grokgak, Kab. Buleleng.
Berkat pendampingan teknis dari IFC – PENSA, bibit ini mulai dikembangkan di berbagai daerah di Bali seperti daerah Nusa Dua, Kutuh, Ungasan Kab. Badung dan daerah Nusa Lembongan, Kab. Klungkung - Bali. Bibit ini telah didistribusikan sejak tanggal 13 Mei 2006 di Nusa Dua dan Kutuh, dan selanjutnya tanggal 16 Mei 2006 didistribusikan ke daerah Nusa Lembongan, Kab. Klungkung melalui Crop Logger disana.
Peran IFC – PENSA begitu berarti bagi petani untuk meng-upgrade produksinya di satu sisi dan pengetahuan observasi di sisi lain. Antusias petani untuk mencoba merupakan modal utama bagi pengembangan sumber daya yang ada di masing-masing daerah sehingga harapan PENSA untuk mensejahterakan petani bias menjadi kenyataan.
Melalui program Trial ini, diharapkan para petani dapat mengelola pertanian secara profesional sesuai standar yang dibutuhkan pasar internasional. Bibit Eucheuma cottonii Maumere, diharapkan dapat berkembang di daerah baru sehingga dapat menguntungkan petani dari sisi kualitas maupun kuantitas. Secara awam bibit ini diperkirakan memiliki kandungan gel yang cukup tinggi di daerah asalnya (daerah Pejarakan). Trial bibit E. Cottonii Maumere yang diujicoba di daerah Nusa Dua khususnya Sawangan dengan tingkat salinitas yang tinggi dan struktur pasir yang relatif kasar diharapkan dapat bertahan dan berkembang dengan baik. Bilamana bibit ini dapat berkembang dengan baik, bibit ini akan menjadi bibit unggul setelah bibit E. Cottonii Sakul.
Bibit Eucheuma cottonii Maumere yang disumbangkan oleh PENSA telah ditebar di Sawangan oleh Petani Kertha Segara tanggal 14 Mei 2006 dengan jumlah 200 Kg. Walaupun keadaan alam (cuaca) yang kurang menguntungkan bagi berkembangnya rumput laut di Sawangan bulan-bulan ini, tapi petani tetap optimis bahwa jenis Eucheuma cottonii Maumere ini akan berhasil. Bibit ini ditebar terpusat pada satu tempat dan dikelola oleh Kelompok Kertha Segara. Pengelolaan ini rencananya akan dibagi kepada anggota kelompok apabila cukup umur sebagai bibit yaitu umur 30 hari. Bibit ini rencananya akan disebar luaskan secara estafet dari satu petani ke petani lainnya.
Dari awal penebaran bibit Eucheuma cottonii Maumere ini, yaitu tanggal 14 Mei 2006 sampai tanggal 21 Mei 2006, bibit ini belum mengalami perubahan yang mengarah kepada pertumbuhan, justru pada tallusnya terjadi perubahan yang mengkhawatirkan seperti terjadi pembusukan pada ujung-ujung tallusnya. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah bibit yang diperoleh dari Desa Pejarakan mempunyai kondisi yang kurang sehat, dan faktor lingkungan yang baru berpengaruh terhadap proses adapatasi dan pertumbuhan bibit baru ini.
Pembusukan ini nampak semacam ice-ice yang menyerang pada ujung tallusnya dan diperkirakan bukan karena dimakan ikan. Penebaran bibit ini dikerjakan dengan metode patok dan lepas dasar. Tujuan dilakukannya dua jenis metode penanaman ini adalah untuk mencari perbandingan dalam pertumbuhan, ketahanan terhadap hama dan penyakit serta ketahanan terhadap perubahan cuaca. Pada umur 7 hari belum menampakkan perubahan yang mengembirakan, bahkan sangat mengkhawatirkan petani. Apakah si Bule Gondrong ini (sebut saja demikian) akan mampu bertahan di Sawangan dengan topografi laut terdiri dari pantai yang dibingkai oleh hamparan karang dan pasir putih bagaikan hamparan mutiara yang berkilau atau tidak?
Memang sesungguhnya Si Bule Gondrong Maumere, menjadi perhatian dan buah bibir bagi petani di Sawangan, selain karena tergolong bibit baru, juga kerena penampilannya yang menawan dan tallusnya yang besar, bagaikan tentakel-tentakel gurita yang siap menerkam mangsa. Penampilan ini membuat petani jatuh cinta dan bahkan memberikan perhatian lebih terhadap si Bule Gondrong, dengan harapan dapat beradaptasi dengan lingkungan (cuaca) di Sawangan. Bagi pengurus Kertha Segara yang dipercaya oleh anggota kelompok untuk mengelola si Bule Gondrong justru berharap-harap cemas dengan kondisinya yang begitu memprihatinkan. Tetapi dalam harapan ini semua Pengurus Kertha Segara selalu mengontrol si Bule Gondrong Maumere agar tidak sakit terlampau parah. Dengan melakukan Tendence Loving Care diharapkan kecemasan pengurus kelompok ini dapat berkurang.
Kini tanggal 24 Mei 2006, dalam umurnya yang ke-14 hari si Bule Gondrong tampak masih pucat diikuti busuk pada batangnya. Tallusnya yang kekar tidak lagi dapat bertahan melawan keadaan alam di Sawangan, dan bahkan beberapa helai telah rontok terbawa arus. Kalaupun demikian beberapa tallusnya telah bermunculan tunas-tunas baru, yang mudah-mudahan dapat menggantikan tallus-tallus yang lain yang telah rontok. Semoga saja usaha para Pengurus Kelompok Kertha Segara untuk merawat si Bule Gondrong dengan kondisi yang kritis berangsur-angsur dapat berkembang dengan sempurna.
Harapan Pengurus Kelompok Kertha Segara selalu optimis, walaupun ada semacam harap-harap cemas tentang keberadaan si Bule Gondrong. Harapan lain dari Pengurus Kelompok Kertha Segara, semoga PENSA tidak kapok memberi bantuan seperti itu lagi, walaupun trialnya belum berhasil dengan sempurna.