
Nama saya Mustafa Dg. Ngalle, umur 62 tahun.
Usaha budidaya rumput laut, telah saya tekuni sejak 3 tahun yang lalu. Awalnya, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus tanaman kelapa yang saya miliki dan pada musim-musim tertentu, saya bercocok tanam jagung.
Saya mendengar dari beberapa teman-teman petani yang telah lebih dulu bertanam rumput laut, bahwa usaha rumput laut memberikan penghasilan yang menjanjikan. Oleh karenanya, di awal tahun 2003, saya juga mencoba untuk menanam rumput laut.
Jenis rumput laut yang saya tanam untuk pertama kalinya adalah jenis local, dengan hasil panen sekitar 0.5 ton untuk 200 bentang. Akan tetapi sepanjang tahun 2003, saya hanya mampu panen sekali dalam setahun, dan selebihnya rumput laut yang tersedia hanya digunakan untuk bibit. Saya melihat, jenis local mudah terserang penyakit dan hanya cocok pada periode tertentu sehingga produksi yang saya dapat masih rendah. Selain itu, pengetahuan kami tentang teknis budidaya rumput laut yang baik juga masih sangat rendah.
Pada tahun 2004, selain menanam rumput laut jenis local, saya juga mencoba menanam jenis spinosum, dimana petani menyebutnya sebagai bibit pemburu. Meskipun bibit jenis ini lebih tahan terhadap hama lumut, ikan serta musim kemarau akan tetapi harganya sangat murah sehingga usaha rumput laut jenis ini kurang menguntungkan.
Pada bulan Juni 2005, IFC-PENSA memperkenalkan jenis bibit rumput laut yang disebut sebagai bibit Maumere. Akan tetapi, saya baru menanam bibit jenis ini pada bulan November 2005. Untuk panen pertama bibit maumere, dari 65 bentang yang telah saya panen, mampu mencapai 251 Kg berat kering. Hal ini tentunya jauh lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan hasil yang saya peroleh tahun lalu yakni dengan jumlah bentang sebanyak 200 hanya mampu menghasilkan 500 Kg kering. Selain memberikan jenis bibit unggul, PENSA juga telah memberikan bimbingannya tentang teknis budidaya yang benar misalnya penggunaan spasi tanam 20 cm, penggunaan bibit yang lebih besar dan penjemuran dengan menggunakan sistem gantung atau menggunakan para-para.
Hal yang paling bermanfaat bagi saya adalah diperkenalkannya sistem jemur gantung. Menurut pihak PENSA, metode jemur gantung mampu mengurangi penyusutan rumput laut pada saat dikeringkan. Hal inilah kemudian yang telah saya buktikan. Dari hasil ujicoba yang telah saya lakukan sendiri, ternyata 10 Kg rumput laut segar yang dijemur dengan metode gantung mencapai 2.3 Kg kering sedangkan 10 kg lainnya yang dijemur dengan para-para hanya mencapai 2 Kg kering. Ini berarti bahwa metode jemur gantung mengurangi nilai susut sebesar 7%. Selain itu harga rumput laut yang dijemur dengan system gantung juga sangat bagus, sekalipun di desa kami bibit local mengalami penurunan harga sampai Rp 2700/kg, bibit Maumere yang saya tanam dengan bibit besar dan dijemur gantung, saya bisa mendapatkan harga Rp 4700/kg. Kalau tidak percaya, coba lakukan dan alami sendiri.