
Rumput laut yang merupakan salah satu produk yang memberikan nilai ekonomis tinggi sebagai sumber devisa negara, saat ini mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah Departemen Kelautan dan Perikanan melalui program “Gebrak” (Gerakan Bersama Rakyat) menanam rumput laut. Melalui pencanangan program “Gebrak” yang dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan di Desa Kutuh, Badung, Senin 13 Maret 2006, diharapkan mendorong UMKM untuk ikut memberdayakan potensi yang ada dan menopang ekonomi di wilayah pesisir dan sektor lainnya.
Salah satu propinsi penghasil rumput laut di Indonesia yaitu Bali, adalah daerah yang mengawali masuknya gerakan kerjasama antara pemerintah, swasta, perbankan dan petani dalam bentuk kucuran kredit kepada petani rumput laut untuk Kabupaten Karangasem dan Badung. Target sasaran adalah untuk 500 orang petani, yang dialokasikan untuk Kabupaten Karangasem sejumlah 300 orang petani, dan untuk Kabupaten Badung 200 orang petani. Masing-masing petani mendapatkan kredit maksimum 7 juta rupiah. Dalam pola ini pemerintah melalui DKP adalah pelaksana teknis untuk pendampingan petani dalam budidaya rumput laut, perbankan sebagai pelaksana dalam pola pendanaan, dan perusahaan (PT.Kapal Api) sebagai penjamin pasar.
Sambutan-sambutan dalam pencanangan program ini diberikan oleh Wakil DPRD prop. Bali, Bupati Badung, Gubernur Bali, Deputi BI, dan Menteri Kelautan dan Perikanan serta dihadiri oleh instansi-instansi terkait yaitu PNM, PT Kapal Api, DKP, BPD, dan kelompok-kelompok petani rumput laut.
Seperti dalam sambutan Mentri Kelautan dan Perikanan yaitu Freddy Numbery, program kerjasama ini adalah salah satu bentuk tindaklanjut dari program revitalisasi yang telah dicanangkan Presiden yang meliputi Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sedangkan sektor pertanian adalah sektor yang terpenting. Dengan revitalisasi dimaksudkan untuk membuka lapangan pekerjaan (pro job), mengentaskan kemiskinan (pro poor), dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Nasional (pro growth). Revitalisasi adalah salah bentuk program untuk memerangi kemiskinan dalam kerangka MDG’s (Millenium Development Goals) dimana pada tahun 2015, penduduk miskin tinggal setengahnya.
Menurut Bupati Badung bahwa pemanfaatan sumber daya kelautan belum optimal permasalahannya karena kualitas SDM dan permodalan. Diharapkan ada program-program sinergis antara pemerintah dengan perbankan dalam meningkatkan sektor ekonomi daerah. “Gebrak” dapat sebagai pemicu tumbuhnya sektor pertanian dan perikanan.
Ditegaskan pula oleh Gubernur Bali melalui sambutannya bahwa perairan laut di Indonesia dengan garis pantai sekitar 80,000 km mempunyai potensi kelautan yang besar. Menurut survey design ekonomi BI, Bali adalah salah satu daerah yang mempunyai potensi besar untuk pengembangan rumput laut. Tercatat 555 jenis rumput laut dan 55 diantaranya adalah jenis yang berpotensi besar untuk dikembangkan. Salah satu pola kerjasama untuk medorong UKM adalah dengan modal kemitraan terpadu. Kerjasama dengan PT Kapal Api merupakan pola inti plasma dengan tujuan meningkatkan peran UMKM agar mampu mendayagunakan lingkungan sekitarnya.
Adapun dalam kesempatan ini dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama yaitu antara lain; Perjanjian Kerjasama yang meliputi BPD Bali, Bupati Badung, Bupati Karangasem, Unit Pelayanan Pengembangan, dan PT Kapal Api yang disaksikan oleh Gubernur dan Direksi PNM. Dilanjutkan penandatanganan nota kredit oleh kelompok-kelompok tani dengan BPD, penandatanganan serah terima kebun bibit, penandatangan serah terima mesin pengolah rumput laut kepada kelompok Sari Segara (Kutuh).
Konsekuensi kerjasama harus mampu dilakukan secara jujur dan disiplin, agar target yang dicapai dalam program ini tercapai.