
Jakarta, 7/4 (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya untuk meningkatan produktivitas kelautan dan perikanan secara terpadu tahun ini. Kebijakan industrialisasi merupakan upaya meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan daya saing. Alhasil, KKP telah menetapkan empat komoditas industrialisasi untuk budidaya, yaitu udang, bandeng, patin dan rumput laut. Disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo dalam acara panen raya rumput laut di Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (7/4).
Sebagai salah satu komoditas unggulan KKP, budidaya rumput laut mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Budidaya ini menggunakan modal kerja yang relative kecil dengan teknologi yang sudah dikuasai dan diikuti oleh masa tanam yang relatif pendek sekitar 45 hari, sehingga memungkinkan usaha budidaya rumput laut ini meningkatkan pendapat masyarakat setempat sekaligus menyerap banyak tenaga kerja. Pada Tahun 2011, produksi rumput laut secara keseluruhan mencapai 4.305.027 ton. Sebanyak 95.200 ton merupakan produksi rumput laut jenis glacillaria kering mencapai 95.200 ton, utamanya berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan, sedangkan Provinsi Jawa Barat baru memberikan kontribusi sebesar 2,4 persen atau sebesar 2.300 ton. Sebagai catatan, tahun 2011 Indonesia juga telah mengekspor agar-agar sebesar 1.827 ton dengan nilai total 12,6 juta dolar.
Pada Tahun 2012, KKP telah menargetkan produksi rumput laut sebesar 5.100.000 ton dan menjadikan Indonesia sebagai produsen utama rumput laut dunia. Diprediksi kebutuhan produksi agar-agar (hasil olahan rumput laut) Indonesia sebesar 9.850 ton atau sekitar 157.600 ton rumput laut jenis gracillaria kering. "Dengan melihat angka produksi Gracillaria kering tahun lalu, yakni sebesar 95.200 ton, maka peluang pengembangan budidaya Gracillaria masih cukup besar," terang Sharif. Ia berharap, dalam pemanfaatannya keterlibatan masyarakat, pembudidaya, swasta di bidang perikanan budidaya dan juga perbankan dapat bersinergi dalam upaya meningkatkan produksi perikanan yang memiliki nilai tambah dan daya saing ini.
Dikatakannya, untuk mengoptimalkan kawasan pertambakan Pantura di provinsi Banten, Jawa Barat, termasuk wilayah cirebon seluas 20.000 Ha. KKP akan segera merevitalisasi tambak melalui perbaikan infrastruktur berupa saluran primer, sekunder dan tertier. Pada kesempatan itu, Sharif mengapresiasi atas kerja keras kelompok pembudidaya rumput laut Binaan Yayasan Al Bahri yang dipimpin Rokhmin Dahuri dalam meningkatkan produksi rumput laut di Jawa Barat. Menurut Sharif, inisiasi dan kemandirian kelompok ini merupakan indikator bahwa usaha di bidang perikanan dapat dijadikan alternatif usaha masyarakat. Oleh sebab itu, sepatutnya dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki potensi pengembangan perikanan sejenis. Atas dasar itulah, KKP menyerahkan bantuan kepada Perwakilan Pesantren berupa Paket Modal Pesantren sebanyak enam paket senilai Rp450 juta Ambulu (satu paket) dan kempek (satu paket). Sharif juga turut menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara PT. Multi Arta dengan HNSI DPC Kabupaten Cirebon. Ia menyampaikan harapannya, agar perjanjian kerjasama ini dapat berjalan dengan baik sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mendorong peningkatan produksi dan nilai tambah dari produk yang dihasilkan, KKP menyerahkan bantuan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pembudidaya bagi masyarakat Cirebon. Untuk Bantuan Kabupaten Cirebon yang diserahkan diantaranya, benih ikan nila dan ikan mas sebanyak 100 ribu ekor senilai Rp20 juta, vaksin ikan aeromonas sebanyak 100 botol senilai Rp10 juta, probiotik sebanyak 1.000 Kg senilai Rp100 juta, bibit mangrove untuk rehabilitasi tambak sebanyak 50 ribu bibit senilai Rp200 juta, excavator sebanyak satu unit senilai Rp1,35 miliar, kartu nelayan sebanyak 1.000 kartu serta kebun bibit rumput laut sebanyak tiga paket.
Disamping itu, KKP juga memberikan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) bagi Kabupaten Cirebon berupa, Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) perikanan tangkap sebanyak 21 paket senilai Rp2,1 miliar dan PUMP perikanan budidaya sebanyak 20 paket senilai Rp1,3 miliar, sedangkan untuk program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) sebanyak satu paket senilai Rp9,335 miliar dan Pabrik Es sebanyak 1 unit senilai Rp2,3 miliar. Kabupaten Cirebon berada di daerah pesisir Laut Jawa.
Kabupaten Cirebon memilki potensi perikanan yang cukup besar untuk dikembangkan. Sektor perikanan merupakan kontributor kedua penyumbang Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) setelah Sektor pertanian. Selain Kabupaten Cirebon, KKP juga memberikan bantuan kepada kota Cirebon berupa, PUMP Perikanan Tangkap sebanyak 10 paket senilai Rp1 miliar dan PUMP perikanan budidaya sebanyak tujuh paket senilai Rp455 juta, serta Kartu Nelayan sebanyak 5.000 Kartu. Lebih lanjut, KKP juga menyerahkan bantuan kepada perwakilan nelayan yang diwakili oleh KSU Bina Usaha Sejahtera Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan berupa bantuan alat pemurni garam sebanyak satu paket senilai Rp400 juta dan Sertifikat Hak atas Tanah Nelayan (SeHat).
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Indra Sakti, SE., MM, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (HP. 0818159705)