
Majene, Sulbar (ANTARA News) - Pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, perlu mendapat perhatian serius sebab besarnya potensi tidak diimbangi dengan pengelolaan dan pola budidaya yang memadai oleh warga pesisir.
"Untuk sementara, kami baru mengembangkan budidaya rumput laut di Kecamatan Banggae seluas 10 hektar. Lahan tersebut dikelola oleh sejumlah warga melalui pembinaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)," ungkap Kepala Bidang Budidaya Perikanan DKP Majene, Indrawati di Majene, Selasa (7-2-2012)
Dia menyebutkan, jika dikalola dengan baik, potensi rumput laut Majene jauh lebih besar dibanding kabupaten lain di Sulbar. Di sepanjang pesisir pantai kabupaten tersebut dihuni oleh nelayan yang juga memiliki potensi untuk mengembangkan dan membudidayakan rumput laut.
Minimnya pengetahuan serta motivasi warga dianggap menjadi penghambat berjalannya budidaya rumput laut di daerah itu. Padahal, jika dilakukan pengembangan dan perluasan, lahan produktif yang telah digarap warga telah mencapai ribuan hektar.
"Sementara waktu, kami hanya mengembangkan beberapa luas area budidaya agar mampu merangsang dan memotivasi warga lain untuk ikut membudidayakan rumput laut sebab kami mengakui, rendahnya pengetahuan sarta ketersediaan sarana juga merupakan salah satu penghambat," ungkap Indrawati.
Dia juga mengatakan, pengelolaan yang dipusatkan di Banggae lebih mudah dikontrol dan diawasi oleh pengelola teknis DKP sehingga ditargetkan dalam beberapa bulan ke depan akan diperluas ke kecamatan lain sesuai dengan pola dan kemampuan teknis pengembangan yang diterapkan di Banggae.
"Secara umum, sepanjang kawasan pantai Majenen tidak bisa seluruhnya dijadikan kawasan budidaya rumput laut sebab harus disesuaikan dengan peta topografi pantai. Selain budidaya rumput laut, kita juga memiliki potensi budidaya perikanan serta beberapa budidaya kelautan lainnya," katanya.
Indrawati menyebutkan, khusus untuk potensi budidaya rumput laut nantinya akan dikembangkan di Kecamatan Pamboang, Malunda dan Kecamatan Sendana dengan pola pengembangan yang terpusat dan terkonsentrasi dalam waktu tertentu di tiap kecamatan hingga seluruh petani mampu dilepas dan mengelola sendiri lahannya masing-masing.
"Kami sangat berharap, perlu ada perubahan pola pikir oleh sejumlah warga pesisir agar berkonsentrasi dan secara intensif menekuni budidaya tersebut sebab hasilnya akan nampak jika pengelolaannya diseimbangkan dengan situasi suatu daerah," katanya.