
“Betapa senangnya andai saja saya bisa terus mengelilingi kebun-kebun rumput laut ini, terima kasih karena baru hari ini dan di tempat ini saya dapat memahami soal rumput laut” demikianlah ungkapan Presiden Bank Dunia sesaat setelah keluar dari perahu milik petani di Tambung Cina. Pak Presiden melakukan TLC (kasih sayang), dengan menggoyang-goyangkan bentangan di kebun pak Haeruddin, yang saat ini sudah menanam 130 bentangan bibit Maumere dengan ukuran bibit yang besar. Sesungguhnya acara kelaut tidak diagendakan untuk pak Presiden, namun karena keinginannya untuk melihat secara langsung bagaimana petani mengusahakan kebunnya, pak Rusli dan pak Haeruddin memawa perahu sapai di kebunnya.
Pak Paul Wolfowitz beserta rombongan yang didampingi Bupati Bulukumba mengunjungi Lingkungan Tambung Cina pada 8 April 2006. Rombongan disambut dengan tarian selamat datang yang dipentaskan oleh para remaja kelurahan BontoBahari. Acara Tudang Sipulung di tempat ini diawali dengan pengamatan pak Paul di kelompok pengikat bibit, dimana sejumlah ibu-ibu dan bapak-bapak tani sedang mengikat bibit Maumere. Pak Haeruddin dan pak Rusli menceritakan cara mengikat mereka sebelum dan sesudah berkenalan dengan IFC-PENSA. Beberapa bentangan lama (tali no 3 dengan jumlah ikatan 3 buah dalam tiap jengkal) dan beberapa bentangan baru (tali no 5 dengan jarak ikatan 20 cm) diperlihatkan kepada beliau. Selain itu para pengikat ini juga menjelaskan keunggulan bibit yang mereka terima dari IFC-PENSA yang telah diujicoba sejak November 2005.
Selanjutnya pak Paul bertanya tentang cara pengeringan yang saat ini diterapkan di Tambung Cina, melihat semua hiasan tempat pertemuan adalah rumput laut yang dijemur dengan sistem gantung. Kami menjelaskan keuntungan menggunakan system gantung, yaitu selain kualitasnya bagus (bersih) petani juga akan mengkasilkan pendapatan yang lebih tinggi sebab, dengan menggantungnya rumput laut kering lebih berat dibandingkan dengan yang dipurus. Dimana harga rumput laut untuk mutu yang tinggi seperti ini sama sekali tidak mengalami penurunan.
Pak Zubair ketua koperasi Juku Ejaya, melaporkan secara kronologis ihwal perkenalan dengan IFC-PENSA dan kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan, mulai dari mengikuti musyawarah petani di Denpasar, uji coba penanaman bibit Maumere, tudang sipulung dengan exporter dan pemerintah daerah, penyediaan terminal jasuda, pembentukan koperasi sampai pemasaran kotonii putih. Pak Paul sangat gembira karena bantuan informasi yang diberikan IFC-PENSA dirasakan sangat bermanfaat oleh para petani di tempat ini. Menurutnya kedepan dengan bantuan dari Pemerintah Daerah dan IFC-PENSA diharapkan dapat lebih cepat meningkatkan taraf hidup petani rumput laut dan masyarakat pesisir.
Pak Saparuddin mengajukan sebuah pertanyaan tentang perlunya bantuan Bank Dunia memfasilitasi para petani untuk mendapatkan kemudahan dalam pengajuan kredit ke perbankan. Menurut pak Sapar, dari segi teknis budidaya sampai pasca panen mereka sudah mendapatakan pengalaman yang cukup, namun demikian karena di Tambung Cina petani tidak bisa menanam rumput laut sepanjang tahun (berhenti pada musim barat), kebanyakan petani membutuhkan modal yang banyak untuk membeli bibit pada masa awal tanam. Tanpa dukungan perbankan para petani hanya mampu memanen 2-3 dalam setahun karena jumlah bibit yang sangat terbatas, umumnya panen pertama dan kedua hanya digunakan untuk perbanyakan bibit. Pak Paul meminta pak Chris Richard (General Manager IFC-PENSA) untuk menjawab pertanyaan pak Sapar. Menurut pak Chris, saat ini IFC-PENSA bersama perbankan sedang mengujicoba system peminjaman kepada UMKM melalui program SME Lending. Dimana diharapkan pihak perbankan tidak hanya menerapkan jaminan berupa sertifikat, tetapi kelayakan usaha dijadikan jaminan pinjaman.
Sebelum mengakhiri kunjungannya di Tambung Cina, Pak Paul juga sempat berbincang-bincang dengan para Crop Logger Bulukumba di terminal Jasuda. Beliau berharap terminal jasuda dapat digunakan secara maksimal oleh para petani.