
KALANGAN industri meminta pemerintah memperjelas prioritas pengembangan rumput laut menyusul rencana target industrialisasi perikanan hingga tiga tahun mendatang. Selama ini, target produksi rumput laut yang terlalu tinggi melebihi kebutuhan dunia, akibatnya hasil tidak mampu diserap pasar.
"Kami ingin pemerintah memberi prioritas agar industri bisa fokus dalam beberapa tahun mendatang, namun kami pun berharap agar semua jenis rumput laut bisa didorong untuk dikembangkan." kata Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis Husein saat dihubungi, di Jakarta, Rabu.
Dia mengemukakan, jika industri dalam negeri tidak mampu menjamin hasil produksi, maka diharapkan pemerintah melarang ekspor bahan baku rumput laut ke luar negeri. Untuk itu, perlu dipetakan dengan pasti antara kebutuhan rumput laut dalam negeri dan pasar ekspor serta fokus pengembangan di Industri pengolahan.
Dia menjelaskan, selama ini komposisi rumput laut untuk ba-han baku agar-agar jenis grasilaria sebanyak 80 persen dikonsumsi di dalam negeri, sedangkan jenis eucheuma seki tar 80 persen untuk kebutuhan pasar ekspor di antaranya ke China, Filipina, dan Eropa.
Safari mengatakan jika industri memang sudah semestinya didorong untuk turut memberdayakan hasil produksi nelayan, dan pemerintah tinggal mengatur regulasi saja. Dengan begitu, akan tercipta Sinergitas dalam menentukan arah pengembangan komoditas di antara masyarakat, pemerintah, dan pengusaha