
Kamis, 9 Maret 2006 Terminal Jaringan Sumber Daya (Jasuda) yang ke 10 di Indonesia di launching lagi di Tepatnya di Dusun Tambung Cina, Kelurahan Sapolohe Bulukumba. Dalam pertemuan ini yang bertemakan “pertemuan petani rumput laut dan launching terminal jasuda” dihadiri oleh para petani, pengumpul, eksportir, pemerintah serta IFC PENSA Makassar.
Kelompok Tani Juku Ejaya sebagai tuan rumah sekaligus pelaksana kegiatan ini mengundang petani-petani rumput laut di sentra-sentra produksi rumput laut, para pengumpul di Bulukumba. Walhasil Juku Ejaya berhasil menghadirkan petani rumput laut sekitar 200 orang. Kesuksesan ini juga ditandai dengan hadirnya pemerintah setempat mulai dari lurah, camat, DKP Bulukumba anggota dewan dari komisi C sampai pada bupati. Bupati Bulukumba A. M. Syukri A. Sappewalli yang sangat antusias memberikan kata sambutan sekaligus menekan tombol enter sebagai tanda peresmian terminal jasuda bulukumba yang diikuti dengan pengguntingan balon jasuda.
Dalam kegiatan ini Drs. A. Zubair sebagai ketua panitia pelaksana sekaligus ketua kelompok tani budidaya rumput laut juku ejaya mengawali sekapur sirihnya dengan menceritakan awal berdirinya Juku Ejaya, yang sudah dibentuk 10 tahun yang lalu. Seiring dengan perkembangan rumput laut di Sulse, sejak 3 Januari 2005 Juku Ejaya mulai memberanikan diri untuk terjun dalam kegiatan budidaya rumput, hasil panen tahun lalu dirasakan cukup memuaskan. Dengan adanya jasuda ini para petani di Bulukumba bisa memanfaatkan computer sebagai sumber informasi baik metode penanaman, panen, maupun informasi harga dan akses ke lembaga–lembaga keuangan. Dan tentu saja dapat bertukar pengalaman dengan petani rumput laut di daerah-daerah lain.
Hal senada juga ditekankan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bulukumba. bahwa dengan berkembangnya komoditas rumput laut sudah banyak menyerap tenaga kerja baik dari laki-laki maupun dari kalangan perempuan. Komoditas unggulan tambak seperti udang dan ikan bandeng yang sudah menurun produksinya mengakibatkan banyak masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan. Menurut data DKP Bulukumba, di Kecamatn Bontobahari sendiri dengan hadirnya rumput laut sudah menyerap hampir 1500 tenaga kerja dibidang ini.
Bupati mengucapkan terima kasihnya kepada IFC-PENSA atas fasilitas yang diamanahkan kepada masyarakat bulukumba serta bantuan teknis yang diberikan kepada petani. Sehingga pak Bupati sangat menyangkan jika fasilitas ini tidak bisa dimanfaatkan oleh petani atau bahkan rusak diakibatkan oleh penggunaan yang kurang benar. Dalam kegiatan ini juga, pak Bupati sudah mempunyai login tersendiri dalam website Jasuda.net yang berarti bupati dapat mengetahui perkembangan produksi, keadaan dan harga rumput laut di daerahnya setiap pekannya.
Pertemuan ini dihadiri pula oleh eksportir dari makassar yaitu PT. Rapid Niaga (Ibu Ahma). Diskusi yang cukup menarik diantara petani – Pemerintah setempat - IFC-PENSA dan Eksportir berlangsung kurang lebih 1 jam. Rapid Niaga mengakui penanganan pasca panen oleh petani di Bulukumba sudah cukup baik jika dibandingkan dengan petani di kebupaten lain di Sulsel, namun demikian Ibu Ahma terkadang masih menemukan adanya rumput laut yang dipanen kurang dari 45 hari. Semoga mutu rumput laut Bulukumba semakin OK karena hanya dengan mutu yang baik para petani bisa mendapatkan harga yang lebih baik. Seperti diungkapkan Ibu Ahma untuk kadar air 35 %, tingkat kekotoran 3% dan tidak “dipurus”, Rapid Niaga memberikan harga Rp 4800 di Makassar.