
Panambea, salah satu desa pesisir di Kabupaten Konawe Selatan, Propinsi Sulawesi Tenggara kini telah berbenah diri. Masyarakat lokal yang tinggal di Panambea dari multi etnis beragam suku seperti Bugis, Tolaki, Muna, Buton dan Bajo hidup berdampingan membangunkan desa yang dulunya sepi dan mati.
Bulan Maret sampai Juli, kehidupan masyarakat pesisir Panambea tak seperti bulan lainnya. Mereka bersuka cita menikmati Panen Raya. Anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua bekerja bersama menikmati hasil usaha.
Sejak mereka mengenal cottonii, pendapatan dan ekonomi keluarga lebih baik. Salah satu indikatornya, mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar. Tempat tinggal layak, kebutuhan pokok sembako dan biaya sekolah anak bisa dipenuhi dari hasil usaha cottonii.
Cottonii, nama dagang rumput laut atau macro alga yang banyak manfaatnya bagi berbagai industri telah menjadi usaha utama hampir semua warga Panambea. Setiap keluarga mempunyai dan memasang tali bentang yang berisi ikatan cottonii dan ditanam berjajar rapi di perairan Panambea.
Pak Mading, salah satu warga Panambea yang tergolong sukses dan menjadi lead farmer telah menjadi panutan dalam usaha cottonii yang lebih dikenal dengan sebutan agar di Panambea mengisahkan usahanya.
“Saya pertama kali menanam agar mengalami kegagalan. Lima tahun lalu, beberapa kali mencoba hasilnya mengecewakan karena agar tak tumbuh. Setelah mencoba terus selama dua tahun, saya bisa menemukan pola tanam dan daerah yang bagus untuk lokasi tanam disesuaikan dengan musim tanam yang bagus.
Pada awal sampai pertengahan tahun, perairan Panambea bagus untuk tanam agar. Bulan berikutnya tidak bagus lagi. Saya mencoba menanam di lokasi lain dekat pulau Galah yang tak jauh dari Panambea. Setelah beberapa kali uji coba, sekarang saya bisa tanam dan panen agar sepanjang tahun karena punya tiga lokasi yang berbeda dan sangat subur jika ditanam pada bulan yang berbeda.
”Pak Mading bercerita sambil menikmati kopi dan melanjutkan kisahnya. “Saya berusaha meyakinkan warga untuk menanam agar sejak tiga tahun yang lalu. Pada mulanya mereka tak mau ikut menanam karena untuk dapat uang harus menunggu empat puluh lima hari dan tak punya modal usaha. Waktu itu masih banyak warga yang memilih bekerja menjadi buruh dan kuli di Kendari atau merantau ke Jawa dan menjadi TKI di Malaysia paling diminati warga Panambea.”
Mata Pak Mading menerawang masa silam mengenang kembali liku-liku kehidupannya bersama warga Panambea. Sesekali dia mencatat jumlah timbangan hasil panen bibit agar yang ditimbang beberapa anggota kelompoknya.
Panen Raya Panambea tahun ini memberikan berkah bagi warga karena cottonii dari Panambea yang dikenal dengan agar merah banyak diminati desa tetangga seperti Tambeanga yang masyarakatnya juga tertarik membudidayakan agar merah karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah berkembang biak dengan memecah rumpunnya setiap tiga atau empat minggu sekali.
Bulan Maret, kelompok Pak Mading menjual lima ton bibit agar merah dari Panambea ke Wawoni. Bulan April, pembeli dari Tambeanga datang silih berganti. Buku catatan Pak Mading menunjukkan hampir dua puluh ton bibit agar merah terjual dengan harga Rp 2,500/kg bibit ke petani agar Tambeanga.
“Untuk menggerakkan warga Panambea menanam agar, akhirnya saya pinjamkan tali bentang dan bibitnya kepada warga yang mau menanam, hasilnya dibagi dua. Setelah panen, mereka mulai merasakan manfaatnya, apalagi jika banyak permintaan bibit seperti dua bulan terakhir ini. Setiap tiga sampai empat minggu langsung panen bibit dan jual ke pembeli.
Satu tali bentang panjang 50 meter bisa menghasilkan bibit 200 - 250 kg. Tak perlu menunggu empat puluh lima hari lagi. Pembeli datang, kita timbang bibit dan uang langsung ditangan.”
Dua bulan terakhir ini, ada sekitar enam puluh juta rupiah hasil penjualan bibit cottonii yang diterima kelompok Pak Mading yang terdiri dari sepuluh orang petani.
Ribuan bentang cottonii yang masih berjajar rapi siap dipanen bulan Mei sampai akhir Juli di Panambea. Sebuah penghasilan yang lebih dari cukup untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir. Jika Panen Raya Panambea bisa dijaga, masyarakat Panambea pasti bisa tegak berdiri di negeri bahari dan berkata “Good Bye Malaysia”