
Salah satu kunci keberhasilan bertanam rumput laut cottonii adalah lokasi tanam. Ternyata, cottonii bisa “bicara” dengan bahasa cinta. Seperti halnya bisnis warung makan, lokasi “hoki” memberi keuntungan tersendiri. Dua kali panen cottonii saja bisa balik modal dalam 4 bulan. Bayangkan berapa laba yang didapat jika bisa panen cottonii 4 – 6 kali setahun? Nah, disinilah seni bisnis cottonii. Carilah lokasi tanam terbaik dengan bertanya langsung pada cottonii.
Mencari lokasi tanam, adalah tahap awal dari bisnis cottonii. Menanam cottonii perlu kecermatan dan keuletan. Ada indikator atau tanda-tanda lokasi yang baik menurut teori budidaya cottonii. Banyak buku referensi dari pakar dunia memberikan berbagai saran untuk menanam cottonii. Diperlukan pengenalan lokasi lokasi tanam dengan pertimbangan fisik dan kimia berikut ini:
1. Lokasi terlindung dari gelombang atau ombak, arus dan angin yang terlalu kuat, pergerakan air (arus) baik, selalu bergejolak (turbulent) tetapi tidak sampai mengakibatkan kerusakan cottonii atau lokasi tanam. Lokasi sebaiknya juga jauh dari muara sungai untuk menghindari masuknya air tawar ketika hujan deras atau banjir yang dapat merusak cottonii.
2. Kecepatan arus 20 – 40 meter / menit sangat baik untuk aerasi dan pertukaran unsur hara. Selain itu pastikan suhu air optimal antara 25° - 30°C dengan fluktuasi harian maksimum 4°C. Suhu tinggi mengakibatkan cottonii pucat kekuningan dan tidak tumbuh baik.
3. Kedalaman air antara 0.5 – 1.5 meter saat air surut dan pasang untuk metode tanam lepas dasar dan antara 2-15 meter untuk metode tanam apung. Hal ini mencegah cottonii kekeringan terkena sinar matahari langsung pada saat surut dan memperoleh penetrasi sinar matahari secara langsung ketika air pasang.
4. Dasar perairan lokasi tanam berlumpur, berpasir atau berkarang akan menentukan konstruksi dan metode tanam cottoni. Dasar perairan terbaik untuk pertumbuhan cottonii adalah yang stabil, terdiri dari patahan karang mati (pecahan karang dan pasir kasar) serta bebas lumpur.
5. Tingkat kecerahan air laut tinggi diperlukan cottonii agar penetrasi cahaya masuk ke dalam air. Intensitas cahaya yang diterima secara sempurna oleh cottonii merupakan faktor utama proses fotosintesis. Kondisi air jernih dengan tingkat transparansi tidak kurang dari 5 meter cukup baik untuk pertumbuhan cottonii.
6. Kadar garam (salinitas) air laut di lokasi tanam cottonii berkisar 28-35 ppt. Penurunan salinitas akibat air tawar yang masuk akan menyebabkan cottonii tumbuh tidak normal.
7. Lokasi tanam cukup makanan berupa makro dan mikro nutrient. Kadar fosfat dan nitrat pada kisaran 0,10-0,20 mg/1 dan 0,01- 0,70 mg/1 menunjukkan tingkat kesuburan lokasi tanam yang baik untuk cottonii.
Referensi pakar dunia dari Dr. Maxwell S. Doty, Arthur C. Neish, Anne Hurtado dan Iain C Neish tersebut sangat penting untuk peneliti dan cottonii farm development. Demikian juga pengalaman lapangan Vicente Alvarez dan Made Simbik dalam budidaya cottonii memberikan warna tersendiri dalam industri rumput laut, terutama cottonii. Bahkan nama latin cottonii sekarang ini Kappaphycus alvarezii, mencomot nama belakang Vicente Alvarez. Petani Filipina ini berjasa membudidayakan rumput laut liar dari alam yang sekarang tumbuh pesat di negeri tropis dan dikenal dengan nama dagang cottonii.
Petani dan masyarakat pesisir yang belum menanam cottonii bisa jadi pusing memikirkan apa yang akan dilakukan dalam mencari lokasi tanam. Bisa dibayangkan betapa susahnya mencari lokasi tanam cottonii dengan pertimbangan fisik dan kimia tersebut diatas. Petani jelas tidak punya alat ukur untuk menentukan kadar air, suhu, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan air serta kadar fosfat dan nitrat untuk menentukan kesuburan lokasi tanam.
Nah ternyata mereka mempunyai cara tersendiri yang sangat praktis dalam penentuan lokasi yaitu bertanya langsung dengan bahasa cinta cottonii. Bahasa yang dipakai sangat mudah. Apa maunya cottonii dan ingin hidup di lokasi tanam seperti apa? Ikuti saja dengan mencari lokasi yang ditumbuhi rumput laut (makro alga). Biasanya lokasi yang ditumbuhi rumput laut liar yang tumbuh alami cocok buat lokasi tanam atau budidaya cottonii.
Selanjutnya lakukan test plot dengan mengikat bibit cottonii pada tali bentang 50 meter, atur jarak tanam satu ikat cottonii dengan lainnya antara 20 – 25 cm. Tancapkan tali bentang di lokasi tanam daerah yang dangkal (metode tanam dasar) atau ikat tali bentang yang berisi cottonii yang tergantung rapi pada tali kapling di lokasi dalam (metode apung). Atur jangkar dan pelampung sehingga tali bentang tidak tenggelam atau berada 10 – 30 cm dari permukaan laut. Jarak tali bentang satu dengan lainnya antara 1 -2 meter agar tali tidak terbelit karena pergerakan arus dan gelombang air laut.
Idealnya ada 10 tali bentang untuk test plot agar bisa dilihat pertumbuhannya selama 6 minggu atau 45 hari. Jika ada cottonii yang dimakan bulu babi, penyu dan ikan, cottonii test plot tidak bakalan habis. Masih ada yang bisa diamati pertumbuhannya. Pengamatan dilakukan setiap minggu sekali. Akan lebih baik lagi kalau setiap hari dilakukan perawatan atau tender loving care (TLC). Tali bentangnya cukup digoyang-goyang. Kotoran dan epifit atau rumput laut liar yang nempel di badan cottonii dan tali bentang berjatuhan sehingga tidak mengganggu pertumbuhan cottonii.
Setelah 6 minggu atau 45 hari kemudian, berat cottonii bisa mencapai 4 – 6 kali dari berat awal (bibit). Artinya cottonii senang hidup di lokasi test plot. Apalagi jika tiap hari ada sentuhan TLC, maka cottonii juga akan membalas cinta petani dengan memberi hasil produksi yang lebih tinggi.
Inilah bahasa cinta cottonii. Langkah berikutnya tinggal membuat kalender musim dengan melakukan cara tanam yang sama pada bulan berbeda untuk mengetahui musim tanam terbaiknya. Selanjutnya tinggal memperbanyak bibit dan tali bentang ketika musim tanam tiba dan memetik hasilnya. Selamat mencoba dan bercinta bersama cottonii.