
21 Februari lalu, PENSA menyelenggarakan Exporter and Farmer Meeting, merupakan forum diskusi (tanya-jawab) antara petan dengan pedagang pengumpul/eksportir. Pertemuan tersebut dilakukan di tiga Kabupaten, yaitu Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba.
Eksportir yang hadir adalah CV. Sumber Rejeki yang berlokasi di Makassar diwakili oleh Ibu Nony selaku Direktur dari perusahan tersebut. Sebagai eksportir rumput laut, CV Sumber Rejeki telah berpengalaman selama 12 tahun, sehingga keahliannya mengenai kualitas rumput laut tidak diragukan lagi. Dengan demikian, CV tersebut merupakan pihak yang tepat untuk dijadikan rekan petani rumput laut untuk berbagi pengalaman didalam pengelolaan budidaya rumput laut secara tepat (Best Practise).
Forum diskusi di ketiga Kabupaten tersebut berlangsung sangat dinamis. Dengan sangat antusias para petani rumput laut mengutarakan segala permasalahannya di lapangan, baik kepada pihak PENSA maupun Ibu Nony.
Pada intinya, permasalahan petani antara lain mencakup permasalahan di bidang produksi, pemanenan/penanganan setelah panen, dan pemasaran. Berbagai solusi, masukan saran, dan bimbingan telah diberikan secara rinci oleh pihak PENSA, Ibu Nony, maupun petani lain untuk memecahkan keempat permasalahan petani tersebut.
Teknik Budidaya - Produksi
Hampir semua petani rumput laut di ketiga Kabupaten tersebut mengalami permasalahan yang sama di lapangan, terutama bagaimana teknik budidaya/produksi rumput laut yang tepat untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas produksi yang sesuai dengan permintaan pasar (dalam hal ini terutama adalah eksportir). Pertanyaan tersebut diantaranya dilontarkan dengan semangat oleh Haji Sunusi, seorang petani rumput laut sekaligus pengumpul dari Bonto Bahari (Kabupaten Bulukumba).
Teknik budidaya rumput laut telah dipaparkan secara rinci oleh Ibu Nony kepada para petani. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam budidaya rumput laut, pertama, bibit yang digunakan. Selain berkualitas baik, jumlah bibit yang ditanam harus tepat yaitu sekitar 200 gram per ikat. Kedua, jarak tanam/ikatan bibit pada bentang diperluas sekitar 20 cm untuk memberikan ruang yang cukup bagi bibit rumput laut untuk berkembang dengan baik.
Ketiga, oleh karena jumlah bibit pada setiap ikatan cukup berat, maka kekuatan tali bentang maupun pengikat perlu diperhatikan agar mampu menahan bibit dengan baik hingga panen. Disarankan untuk bentangan sebaiknya digunakan tali nomor empat (No.4 atau 5) dan untuk pengikat digunakan tali rafia/rumput Jepang. Dan keempat, pemeliharaan rumput laut perlu diperhatikan dengan baik, yang dikenal dengan istilah TLC (Tender Love Care) atau Pemeliharaan dengan Kasih Sayang. Rumput laut merupakan jenis tanaman MANJA, sehingga sangat diperlukan pemeliharaan cukup serius setiap harinya agar rumput laut tersebut dapat tumbuh dengan sempurna.
Pemanenan dan Penanganan Setelah Panen
Aspek pemanenan dan penanganan setelah panen merupakan faktor kritis, dan sering menjadi permasalahan utama bagi petani didalam menjaga kualitas rumput laut yang akan dipasok kepada eksportir. Permasalahan tersebut banyak diungkapkan oleh para petani baik di Jeneponto, Bantaeng maupun Bulukumba, diantaranya yaitu Bapak Muh. Akep (petani rumput laut di Bonto Bahari-Bulukumba) dan Bapak Ilham (petani dan pedagang asosiasi Pallantikang-Bantaeng).
Para petani pada umumnya memanen rumput laut dengan cara “dipurus” (merenggutnya dari tali bentangan), sehingga rumput laut menjadi patah-patah. Akibatnya, gel yang dikandungnya keluar dan secara otomatis kualitas dan bobot rumput laut menjadi menurun. Kandungan gel merupakan salah satu indikator penting dalam penentuan kualitas rumput laut.
Oleh karena itu, teknik pemanenan yang tepat adalah dengan cara melepas tali pengikat atau memetik pangkal ikatan rumput laut menjadi dua bagian apabila menggunakan sistem belit (loop system). Minimal ada dua keuntungan yang langsung didapat oleh petani dengan melaksanakan teknik pemanenan sesuai dengan cara diatas, pertama adalah kualitas rumput laut yang baik, dan kedua adalah rumput laut kering menjadi lebih berat (harus diingat bahwa patahan rumput laut yang kecil-kecil waktu dipurus, akan terbuang setelah rumput laut tersebut kering, dan juga secara langsung akan mengurangi kandungan gel didalam rumput laut kering).
Banyak petani yang mengeluhkan cara panen dengan melepas satu per satu rumput lautnya, apalagi bagi mereka yang mempunyai bentangan lebih dari 500-1000, namum demikian dari hasil diskusi, petani yang mempertahankan cara “purus” mulai terbuka wawasannya untuk mengalola rumput lautnya dengan prinsip-prinsip bisnis.
Bagi pebisnis yang paling penting adalah banyak hasil yang berkualitas baik, bukan banyak bentangan, karena menggunakan banyak bentangan akan memakan biaya yang sangat besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. Melepas rumput laut dari ikatannya satu per satu tentu saja perlu menggunakan tenaga kerja yang dibayar terutama bagi petani yang memiliki cukup banyak bentangan.
Meskipun demikian, pemasukan yang diperoleh akan jauh lebih besar mengingat kualitas rumput laut yang dihasilkan juga lebih baik. Sebagai informasi, CV Sumber Rejaki membeli dengan harga Rp 4700/kg (di Makassar) untuk rumput laut yang tidak dipurus, sedangkan rumput laut yang dipurus hanya dihargai Rp 3500-4000 di desa-desa di ketiga Kabupaten tersebut (sebagian besar dibeli oleh pedagang liar).
Dalam hal penanganan setelah panen khususnya pengeringan rumput laut, masih terlihat ketidakseragaman cara yang dilakukan oleh petani, sehingga kualitas rumput laut kering yang dihasilkan pun tidak seragam. Cara pengeringan sangat berkaitan dengan tingkat kebersihan rumput laut. Beberapa petani telah memenggunakan para-para sebagai alat penjemur rumput laut, sementara beberapa petani lain masih menjemur di atas tanah.
Penjemuran di atas tanah menyebabkan rumput laut kering menjadi kotor, sehingga kualitasnya menurun dan tidak sesuai dengan standar eksportir. Dengan demikian, teknik pemanenan dan penanganan setelah panen yang sesuai dengan harapan eksportir adalah cara panen tidak dipurus dan dijemur di atas para-para atau digantung untuk menjaga kebersihannya.
Pemasaran
Selama ini, pemasaran rumput laut tidak terlepas dari campur tangan pedagang liar. Umumnya, pedagang liar tidak memiliki standar kualitas dan harga. Tidak jarang pedagang liar tersebut menyamaratakan harga rumput laut kering pada berbagai standar kualitas, sehingga terkesan tidak ada penghargaan terutama bagi petani yang mampu menghasilkan rumput laut dengan kualitas prima. Kondisi pasar demikian telah mengakibatkan menurunnya gairah para petani untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas rumput laut.
PENSA hadir untuk memberikan solusi akses pemasaran bagi petani rumput laut. Pada forum diskusi tanggal 21 Februari 2006 lalu, PENSA telah mempertemukan petani dengan eksportir (Ibu Nony). Dapat disimpulkan bahwa selama rumput laut memenuhi kualitas standar ekportir, Ibu Nony akan bersedia membeli bahkan mengadakan kontrak pembelian dengan para petani berkualitas dalam jangka waktu tertentu.
Ada beberapa persyaratan terkait dengan standar kualitas yang harus dipenuhi agar mampu menembus pasar ekspor, antara lain pertama, kandungan gel harus lebih dari 26%; keuda, kadar air harus 35 %, dengan kata lain rumput laut yang akan dijual harus dalam keadaan kering; dan ketiga, rumput laut harus bersih, tingkat kotoran (pasir dan garam) tidak boleh lebih 3%. PENSA akan membantu memfasilitasi petani mengakses pasar ekspor melalui pembimbingan secara intensif di lapangan.
PROFIL CV. SUMBER REJEKI
CV. Sumber Rejeki adalah salah satu eksportir rumput laut di Makassar, yang dikelola dan dikembangkan oleh Ibu Nony. CV. Sumber Rejeki telah berpengalaman sekitar 12 tahun sebagai eksportir rumput laut ke berbagai negara, diantaranya Philipina, China, Spanyol dan beberapa negara Eropa lainnya. CV. Sumber Rejeki sangat terkenal sebagai eksportir yang sangat menomorsatukan kualitas. Hampir semua negara importir rumput laut sudah tidak meragukan lagi kualitas rumput laut yang dipasok oleh CV. Sumber Rejeki.
CV. Sumber Rejeki selama ini memperoleh pasokan rumput laut dari petani-petani di Bonto Ujung, Sulawesi Tenggara, NTT, dan petani di beberapa tempat lainnya. Untuk menjaga kontinuitas pasokan gudangnya, CV. Sumber Rejeki mengadakan kontrak pembelian dengan beberapa petani berkualitas.
Di dalam kontrak tersebut, CV. Sumber Rejeki mengajukan beberapa persyaratan kualitas minimal yang harus dipenuhi oleh petani rumput laut apabila ingin memasok produknya, dan harga minimal yang akan diperoleh petani. Untuk dapat memenuhi standar kualitas minimal yang disyaratkan oleh CV. Sumber Rejeki, Ibu Nony menegaskan bahwa petani harus memanen rumput lautnya dengan tidak dipurus dan dijemur di atas para-para atau digantung untuk menjaga kebersihannya.