
Pernahkah Anda bayangkan harga barang naik lima kali lipat dalam setahun? Ketika menjelang lebaran harga cabe naik berlipat-lipat sampai wajah ibu rumah tangga ikut pula terlipat alias berkerut karena beli sebiji cabe merah seharga lima ribu rupiah. Anehnya, kejadian tersebut berulang kembali menjelang lebaran. Ironis sekali, kejadian ini terjadi di negeri agraris yang tanahnya subur dan luas terbentang.
Ternyata hal tersebut juga terjadi pada rumput laut laut cottonii yang merupakan salah satu primadona ekspor Indonesia dari hasil laut. Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan sedang memacu produksi rumput laut kering termasuk cottonii sebesar satu juta ton. Target tersebut dicanangkan untuk mengejar China yang masih menjadi penghasil rumput laut kering dunia dengan total produksi sekitar 699,329 ton atau 47% total rumput laut kering dunia.
Sebagai negeri bahari, Indonesia bisa berbangga karena telah menggeser dominasi Filipina sebagai penghasil dan pengekspor cottonii kering terbesar dunia sejak tahun 2008. Namun sayangnya bukan negeri ini yang mengendalikan harga. Ironis sekali, negeri bahari penghasil 95,120 ton cottonii kering tahun 2009 atau 60% total produksi cottonii kering dunia tunduk pada kekuatan pasar China dan Filipina. Tahun 2009, Filipina hanya menghasilkan 75,000 ton cottonii kering dan China tidak sampai 3,000 ton karena cottonii hanya cocok berkembang di negeri tropis.
Mengapa Indonesia tak mampu mengendalikan harga cottonii? Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena rantai nilai cottonii Indonesai tidak optimal. China menyerap cottonii dari negeri ini sebesar 50%, Filipina 20% dan sisanya diserap pasar Spanyol, Denmark, Korea Selatan, USA, Perancis, Chili dan Brazil.
Ironisnya tidak lebih dari 15% cottonii kering diproses di dalam negeri sebagai tepung rumput laut atau karaginan yang mempunyai nilai tambah sepuluh kali lipat dari bahan bakunya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, industri pangan, pakan ternak, kosmetik, farmasi dan pengguna karaginan negeri ini harus impor dari luar negeri.
Apa yang salah dengan rantai nilai cottonii Indonesia? Idealnya rantai nilai cottonii mencakup semua aktivitas yang sebagai berikut:
• menjadikan cottonii mempunyai nilai tambah melalui Riset and Development (R&D)
• ketersediaan bahan baku, peralatan dan keahlian teknologi pengolahan
• mengubah cottonii menjadi produk akhir yang langsung dapat dikonsumsi
• distribusi dan pemasaran ke pelanggan yang didukung informasi
• tata kelola dan praktik usaha yang baik dengan perbaikan berkelanjutan
Indonesia masih tertinggal dalam R&D yang mampu mengubah cottonii menjadi produk yang dapat langsung dikonsumsi. R&D tidak hanya kemampuan mengolah cottonii menjadi produk bermutu tinggi yang dibutuhkan pelanggan. Pada tahapan pembibitan dan budidaya juga diperlukan R&D untuk perbaikan bibit yang punya daya tahan terhadap penyakit.
Dalam hal ini Filipina lebih maju karena lebih dulu berpengalaman dan didukung oleh tumbuhnya industri pengolahan dengan teknologi tinggi dan tenaga ahli. Sebagai penghasil karaginan terbesar dunia, berbagai macam produk akhir yang dihasilkan Filipina banyak diserap untuk aplikasi food ingredients, health and personal care, and nutraceuticals.
Ketersediaan bahan baku, distribusi dan pemasaran cottonii di Indonesia masih perlu dibenahi karena tingginya biaya transportasi. Biaya pengiriman satu container cottonii kering dari Ambon ke Surabaya lebih mahal dibandingkan Surabaya ke China. Selain itu pusat produksi cottonii seperti Sulawesi Tenggara dan Selatan tidak mempunyai akses ekspor secara langsung.
Untuk mengeksor satu container cottonii dan hasil olahannya dari Makassar ke Eropa, produsen harus menempuh jalur domestik Makassar – Surabaya – Jakarta. Setelah itu, container baru bisa dikirim langsung ke Eropa.
Informasi, tata kelola dan praktek usaha yang baik juga sangat diperlukan pada setiap tahapan rantai nilai cottonii. Informasi tentang kondisi perubahan cuaca, pasang surut air laut, curah hujan sangat menentukan keberhasilan budidaya. Informasi ketersediaan bahan baku di sentra industri, harga di tingkat petani, pedagang dan pasar dunia menjadi salah satu kunci untuk menjaga kestabilan harga sehingga tidak ada permainan dan fluktuasi harga tidak terlalu tajam.
Terjadinya krisis cottonii menjadi pengalaman berharga bagi Indonesia ketika harga membumbung tinggi hingga lima kali lipat harga normal pada tahun 2008. Ironisnya, tingginya harga tidak disertai mutu yang tinggi. Semua cottonii yang ada di petani langsung dibeli dan masuk container.
Terjadi panic buying sehingga cottonii yang belum cukup masa panen dan kering juga dibeli. Akhirnya beberapa pabrik olahan dalam negeri tidak berproduksi karena tidak mampu membeli bahan baku. Hampir semua bahan baku disapu spekulan dari China yang merusak pasar cottonii.
Semoga dengan adanya perbaikan rantai nilai yang berkelanjutan, krisis cottonii tidak terjadi lagi. Negeri bahari ini bisa mengejar mimpi tidak hanya menjadi penghasil rumput laut kering terbesar dunia. Idealnya lima tahun lagi, negeri bahari ini bisa mengalahkan Filipina sebagai penghasil dan eksportir olahan cottonii terbesar dunia sehingga menjadi kebanggaan tersendiri negeri ini.
Source data: Prospects for Seaweed Product Development in Global Markets