
Menjadi petani bagi penduduk Tambeanga bukanlah satu cita-cita. Hanya karena rasa syukur untuk mengolah alam atau terlahir di lingkungan dengan keterbatasanlah yang menempa mereka menjadi petani sejati. Petani yang dengan setia bekerja di ladang, sawah atau kebun mereka dengan tetesan keringat dan air mata karena tidak mampu keluar dari rantai perdagangan komoditas yang menjadikan mereka pada posisi paling bawah penanggung beban ekonomi dan kehidupan.
Tambeanga, salah satu desa pesisir pantai di kecamatan Laonti, kabupaten Konawe Selatan terletak sekitar satu setengah jam perjalanan dengan boat atau perahu kayu 40 PK dari teluk Kendari. Deburan ombak laut Banda sangat kuat terasa ketika agin selatan kuat menerpa pesisir Tambeanga. Nasib penduduk Tambeanga sepertinya sedikit berubah sejak menanam rumput laut lima tahun lalu. Paling tidak sekarang ada tiga hasil usaha yang bisa diandalkan untuk menopang keuangan keluarga.
Jambu mete, cengkeh dan rumput laut menjadi tumpuan penghasilan petani Tambeanga. Hanya saja tingkat kesejahteraan hidup masih jauh dari harapan karena pohon mete dan cengkeh yang sudah puluhan tahun tidak menghasilkan buah seperti dulu. Hanya rumput laut yang sekarang ini jadi harapan, itupun jika cuaca bersahabat dan ada pengumpul lokal yang mau memberikan pinjaman modal usaha untuk membeli bibit, tali, jangkar dan pelampung.
Pengumpul lokal tidak bisa dipisahkan dari rantai nilai usaha rumput laut. Tanpa peran pengumpul lokal yang “berjasa” memberikan modal awal dan pemasaran tidak akan ada usaha rumput laut di pesisir Tambeanga, yang mungkin juga terjadi di daerah pesisir lainnya. Lembaga keuangan non bank, apalagi bank komersial tidak tertarik melirik dan mau memberikan pinjaman modal kepada petani karena usaha ini tergolong “high risk”.
Belum lagi sulitnya akses transportasi dan informasi pasar menjadi penyebab rendahnya harga beli rumput laut di Tambeanga. Ketergantungan petani kepada pengumpul lokal menjadi semakin kuat jika terjadi “monopoli” jaringan perdagangan rumput laut. Hanya pemain besar dengan modal kuat menguasai pasar dan mendikte harga di tingkat lokal dengan alasan kualitas.
Pernahkah kita bayangkan jika hasil kerja keras tidak dihargai dengan adil? Beberapa petani telah bekerja keras mengeringkan rumput laut seperti yang diminta pembeli. Nasib petani Tambeanga sepertinya belum bisa berubah selama pembeli masih memberlakukan potongan harga dan berat rumput laut kering sampai 20% dari harga yang semestinya dibayarkan petani.
Dengan terpaksa petani Tambeanga harus kehilangan 200 kg yang setara dengan Rp 1.600.000 setiap menjual satu ton rumput laut kering ke pembeli di Kendari. Mekanisme pasar dan rantai nilai yang tidak dikelola dengan baik telah menjadikan petani Tambeanga terpuruk.
Petani tidak mungkin menarik rumput laut keringnya yang dikirim ke gudang pembeli di Kendari karena biaya transportasi sewa perahu motor dan tenaga kerja senilai Rp 500.000 setiap pengiriman rumput laut kering dua ton sudah terlanjur keluar. Jika dibawa pulang kembali, petani rugi dua kali karena hilangnya biaya operasi dan petani tidak mendapatkan uang untuk keperluan sehari hari dan membayar hutangnya.
Entah sampai kapan petani Tambeanga bisa mandiri, mempunyai alat transportasi, mendapatkan akses keuangan dari bank, menemukan mitra bisnis dan pasar yang adil? Semoga saja koperasi Bina Bahari yang hampir dua tahun berdiri dan mendapatkan dukungan dari petani bisa memberikan solusi meskipun saat ini baru bisa memberikan kredit tanpa bunga untuk pembelian bibit, membantu secara teknis peningkatan produksi dan kualitas serta mencarikan pembeli yang bisa menghargai kerja keras petani.
Harapan selalu ada bagi petani Tambeanga untuk mengubah nasibnya asalkan petani dan pemangku kepentingan mempunyai komitmen untuk melakukan perubahan dan perbaikan yang berkelanjutan.