
Masa lalu dan masa depan tidak selalu sama, bisa lebih baik, bertambah buruk atau sama saja. Bagaimana dengan masa depan bisnis cottonii dan karaginan? Beberapa member yang sering berinteraksi di situs jaringan sumber daya (jasuda) berpendapat harga cottonii fluktuasinya tinggi. Naik turunnya harga lima tahun terakhir berkisar antara Rp 500 – 2.000/kg padahal lima tahun lalu fluktuasi harga hanya Rp 50 – 150/kg. Kondisi ini lebih baik atau buruk? Apakah harga cottonii bisa stabil dan fluktuasinya seperti lima tahun lalu?
Sebelum menjawab pertanyaan, ada baiknya melihat kondisi masa lalu, kini dan masa depan bisnis cottonii. Lima tahun lalu tingkat harga cottoni kering atau Dried Eucheuma Seaweed (DES) pada tingkatan Rp 3.000 – 5.000/kg di tingkat petani. Sejak 2006 harga DES antara Rp 8.000 – 12.000/kg bahkan pernah “abnormal” sampai Rp 20.000/kg sehingga banyak petani “panen raya”. Lima tahun ke depan fluktuasi dan harga DES seperti apa?
Jawaban tepat untuk persoalan tersebut diatas adalah serahkan saja pada mekanisme pasar. Ketidakpastian harga komoditas pasti terjadi dan bisa dilihat dari apa yang menjadi penyebab utama fluktuasi harga. Harga DES ditingkat petani dipengaruhi harga export DES, dimana harga export DES lima tahun lalu berkisar antara USD 700 – 800/ton. Bandingkan dengan harga DES lima tahun terakhir pada tingkatan harga USD 900 – 1.600/ton dan harga “abnormal” yang mencapai USD 2.750/ton.
Rentang harga yang lebih lebar asalkan masih dalam rentang harga normal menunjukkan semakin luasnya pasar DES. Produk yang sama bisa dijual dengan harga berbeda dengan tujuan pasar yang berbeda. Ekspor ke Philipina dan Cina (Asia) tentu harganya tidak sama dengan ekspor ke Eropa, Amerika dan Afrika. Selain itu harga DES dipengaruhi juga oleh kualitas produk akhirnya.
Lima tahun lalu harga Refine Carageenan (RC) berkisar USD 8 – 9/kg dan Semi Refine Carageenan (SRC) pada harga USD 5 – 6/kg sedangkan harga lima tahun terakhir RC pada harga USD 10 – 14/kg dan SRC pada harga USD 7 – 9/kg yang ketika terjadi krisis tahun 2008, harga “abnormal” RC USD 18 – 19/kg dan SRC USD 12 – 15/kg.
Melihat kondisi fluktuasi harga dan pasar cottonii serta produk akhirnya, sangat menarik jika pemangku kepentingan lebih fokus mempersiapkan masa depan bisnis cottonii ini agar menjadi lebih baik. Riset dan pengembangan untuk perbaikan bibit yang punya daya tahan tinggi terhadap penyakit, “epiphytes” dan “ice-ice” serta perubahan lingkungan sampai saat ini belum optimal. Masih sering terjadi gagal panen dan kurangnya produksi di beberapa daerah penghasil DES yang disebabkan “ice-ice” sehingga pembudidaya cottonii mengalami kerugian.
Peningkatan kualitas pasca panen dan produksi juga masih perlu ditingkatkan mengingat sampai akhir 2010, pasar DES masih terbuka baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Kebutuhan DES dunia yang diperkirakan mencapai 220.000 ton dan produksi DES Indonesia sekitar 90.000 ton tahun ini serta utilisasi pabrik olahan DES yang hanya beroperasi 50-60% dari kapasitas terpasang dengan persentase ekspor DES 40 – 50% menjadikan bisnis cottonii punya masa depan cerah.
Idealnya Indonesia tidak hanya mampu menjadi produsen dan eksporter DES terbesar dunia, lima tahun lagi seharusnya bangsa ini bisa menjadi produsen SRC dan RC terbesar dunia dengan tumbuhnya sentra produksi cottonii, pabrik olahan DES dan transformasi pabrik olahan yang sudah ada menjadi “world class company” sehingga bisa menjadi kebanggaan negeri ini.