
Fluktuasi Harga Cottonii Hal Biasa
Perkembangan rumput laut cottonii di beberapa sentra produksi tahun ini lebih baik dari tahun kemarin meskipun curah hujan cukup tinggi dan masih sering terjadi sampai bulan September 2010. Berdasarkan hasil kunjungan lapangan dan pembinaan petani cottonii di berbagai daerah seperti di Tambeanga dan Saponda (Sulawesi Tenggara) dan Takalar, Bantaeng, Janeponto dan Bulukumba (Sulawesi Selatan) menunjukkan pertumbuhan mulai lambat dan tergolong cukup bagus dibandingkan tahun lalu, hanya saja petani mengalami kesulitan dalam hal pengeringan.
Penjemuran dan pengeringan cottonii perlu waktu yang lebih lama karena cuaca yang tidak menentu dan masih seringnya terjadi hujan. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika wilayah IV dan Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sulawesi Selatan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat, diperkirakan masih terjadi hingga September di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Apa pengaruh musim hujan yang lebih panjang tahun ini dengan usaha rumput laut cottonii? Paling tidak ada beberapa hal yang sangat dirasakan oleh petani dan pelaku usaha cottonii. Beberapa petani di daerah produksi mengalami kendala dalam hal budidaya karena kadar garam yang terlalu rendah dan suhu permukaan air cenderung lebih panas sehingga tidak baik untuk pertumbuhan cottonii.
Hal ini terjadi di Saponda dan Janeponto, dimana mulai akhir bulan Agustus sampai September 2010 pertumbuhan mulai lambat dibandingkan bulan April - July 2010. Selain itu tentunya petani mengalami kesulitan dalam hal pasca panen dan penanaman kembali jika masih sering terjadi hujan.
Bagaimana pengaruhnya terhadap fluktuasi harga cottonii kering atau dried eucheuma seaweed (DES) yang terjadi dalam dua bulan terakhir ini. Beberapa member Jasuda memberikan informasi bahwa harga DES turun dan tidak terkendali. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan fluktuasi harga DES? Selama lima tahun terakhir Jasuda memantau perkembangan harga DES di tingkat petani, pedagang lokal (trader) dan exporter menunjukkan bahwa harga tidak bisa dikendalikan dan fluktuasi atau naik turunnya harga adalah hal biasa.
Kondisi penawaran dan permintaan atau "supply and demand" yang terjadi di pasar jadi faktor penentu utama fluktuasi harga DES. Selama tahun 2005 - 2009 harga DES stabil pada kisaran Rp 8.000 - 12.000/kg ditingkat petani, meskipun pernah sekali terjadi kondisi tidak normal pada bulan September - October 2008, dimana harga DES sempat mencapai harga tertinggi Rp 20.000/kg ditingkat petani karena perilaku "panic buying" dan permintaan tinggi dari Cina. Selain itu juga terjadinya gagal panen cottonii di Philipina karena adanya taifun yang menghancurkan "cottonii farm" beberapa sentra produksi di Kepulauan Mindanao
Selama dua bulan terakhir Agustus - September 2010, fluktuasi harga masih dalam batas normal. Hasil monitoring Jasuda yang diperoleh dari informasi petani, trader dan ekportir menunjukkan hanya Takalar dan Janeponto yang harga DES ditingkat petani pada level terendah Rp 6.000/kg. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terlalu banyaknya pasokan DES dan kurangnya permintaan dari pembeli di wilayah tersebut. Kemungkinan lain biasanya disebabkan kondisi kualitas DES "asalan" tidak sesuai dengan kualitas yang diminta oleh pembeli atau petani "terpaksa" menjual ke pembeli yang telah memberikan pinjaman modal sehingga harganya lebih rendah dari harga pasar atau bisa juga petani menjual dengan harga rendah karena membutuhkan uang untuk keperluan Lebaran.
Hal ini terjadi di Kendari, seminggu sebelum Lebaran harga DES di tingkat petani antara Rp 9.000 - 10.000, begitu mendekati hari Lebaran harga DES dari petani hanya Rp 8.000 karena beberapa trader Kendari hanya membeli DES dengan harga gudang Rp 8.500 - 9.000 dan mengurangi pembelian karena beberapa gudang sudah tutup menjelang Lebaran. Berdasarkan hasil monitoring di lokasi lain harga DES masih normal seperti di Bulukumba, Madura, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku, harga DES ditingkat petani dan trader berkisar antara Rp 10,000 - 11,000 untuk DES dengan kualitas bagus dengan kadar air antara 35 - 38% dan kotoran 3 - 5%
Jadi jika dua bulan terakhir terjadi fluktuasi harga di beberapa tempat atau banyak informasi fluktuasi harga dari pelaku usaha rumput laut seyogyanya disikapi dengan tenang dan biasa saja sepanjang harga DES tidak abnormal seperti tahun 2008. Lebih penting bagi pelaku usaha cottonii dan pemangku kepentingan untuk memberikan kontribusi dan nilai tambah sesuai dengan peran dan fungsinya agar menjadikan rantai nilai rumput laut lebih baik sehingga usaha cottonii di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain dan komoditas usaha tani lainnya. Dengan kontribusi nyata pemangku kepentingan dan pelaku usaha cottonii maka usaha ini pasti akan bekelanjutan.