
Diprediksikan, ribuan hektar areal yang berpotensi untuk pengembangan rumput laut yang tersebar di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut), belum termanfaatkan secara optimal.
Wawancara dengan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulut, Bapak Frits Kaunang, beliau mengatakan, dari sekitar 5.000 hektar areal yang berpotensi pengembangan rumput laut, baru sebagian kecil dimanfaatkan masyarakat. ‘hanya sekitar 400 hektar yang termanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan tanaman yang memiliki nilai ekspor tersebut, ‘katanya.
Menurut Bapak Frits Kaunang, belum termanfaatkannya lahan tersebut, karena masyarakat atau petani nelayan di daerah itu mengalami kesulitan dalam melaksanakan pengembangan rumput laut membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, sementara warga tidak memiliki kemampuan.
Dicontohkan untuk pengembangan rumput laut diareal satu hektar membutuhkan dana sedikitnya Rp. 10 juta. Bagi warga di daerah itu untuk memenuhi jumlah uang tersebut sangat sulit. Sementara itu, untuk mendapatkan dana dari oihak perbankan, petani nelayan sangat sulit untuk memenuhi persyaratan tehnis yang diperlukan bank, apalagi tingkat kehati-hatian dari pihak perbankan dalam memberikan kredit.
Pemerintah propinsi telah melakukan langkah dalam meningkatkan pengembangan rumput laut di Sulut, melalui Crash Program tanaman tersebut. Pemerintah merencanakan untuk melakukan pengembangan rumput laut sekitar 100 hektar dengan anggaran sekitar Rp. 500 juta, di mana petani nelayan akan diberikan sejumlah bantuan seperti bibit, tali dan pelampung.
Pelaksanaan crash program itu akan dilakukan di sejumlah tempat antara lain, di Kabupaten Minahasa Utara untuk daerah Nain, Likupang dan Wori, sementara Kabupaten Minahasa Selatan untuk daerah Belang dan Tumpaan. Dia mengatakan, kualitas produksi rumput laut Sulut sampai saat ini masih diakui dunia internasional, sehingga pemasaraanya tidak terlalu sulit, sebab diminati oleh negara luar dari benua Eropa dan Cina.