
Indonesia menargetkan produksi rumput laut pada 2014 sebanyak 10 juta ton rumput laut basah atau 15 juta ton berat kering rumput laut, untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang grafiknya terus menanjak. Dengan jumlah produksi itu, Indonesia bisa menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia.
"Kami optimistis dalam dua tahun ke depan, volume produksi rumput laut bisa tergapai. Mengingat, potensi Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga pengembangan budi daya rumput laut bisa dijalankan secara optimal," ungkap Ketua Komisi Rumput Laut Indonesia, Farid Ma`ruf di Jakarta, Selasa (3/8/2010).
Apalagi, sambung Farid, ada kebijakan dari Kementerian kelautan dan Perikanan (KKP) bahwa pada 2012 ekspor rumput laut gelondongan atau dried seaweed akan dibatasi dan dilarang. Tujuannya untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan dalam negeri. Sehingga pencapaian sebagai produsen rumput laut terbesar di jagad raya ini bisa teraliasasi.
Dikatakan, untuk menggapai produsen terbesar di pasar dunia, saat ini telah dibangun sebanyak 12 klaster rumput laut di Sumenep Jawa Timur, Gorontalo, Pangkep Sulawesi Selatan, Dompu Nusa Tenggara Barat (NTB), Kabupeten Serang Banten, Kepulauan Riau, Minahasa Utara, Parigi Moutang Sulawesi Tengah, Polewalimandar Sulawesi Barat dan Bau Bau Sulawesi Tenggara.
Bahkan, sambung dia , Provinsi Bangka Belitung mendapat alokasi pengembangan wirausaha budi daya rumput laut sebanyak 382 paket dan pengembangan kebun bibit rumput laut sebanyak 8 paket, untuk Belitung, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur.
"Memang pengembangan budi daya rumput laut sangat mudah, butuh investasi relatif kecil sehingga dapat dilakukan di wilayah pesisir miskin. Bahkan memiliki waktu pemeliharaan yang cukup singkat hanya 45 hari, dengan teknologi yang mudah dan sederhana, sehingga dapat dengan mudah dikembangkan, juga padat karya dan permintaan pasar yang tinggi," urainya.
Juga potensi lahan di teluk maupun perairan pantai Indonesia masih sangat luas. Saat ini lahan untuk rumput laut mencapai seluas 4,5 juta hektare. Hasilnya, sebanyak 15% diekspor dalam bentuk olahan oleh Indonesia, sisanya diekspor dalam bentuk gelondongan. Ekspor rumput laut selain untuk dikonsumsi juga sebagai bahan baku farmasi, kosmetik, dan produk makanan.
Data di Kementrian Kelautan dan Perikanan mencatat tahun 2009, produksi rumput laut tercatat sebesar 2,57 juta ton, naik jauh dari tahun 2005 hanya 910,6 ribu ton. Tahun 2009 ekspor mencapai 102 ribu ton rumpt laut kering dengan nilai US$124 juta. Tahun 2008, total produksi rumput laut sekitar 2.145.060 ton. Target produksi tahun 2010 sekitar 2,6 juta ton.