
Puluhan petani rumput laut di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), gagal panen diduga akibat pencemaran laut.
Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTT Marthen Dira Tome yang baru kembali dari Sabu mengatakan, petani rumput laut mengeluh karena tidak bisa panen. "Petani di sana pasrah," katanya, Rabu (21/4).
Pencemaran laut itu diduga berasal dari tumpahan minyak mentah dari kilang minyak Montara di Australia yang meledak di Laut Timor pada 21 Agustus 2009. Untuk meringankan beban petani, ujar Marthen, instansinya mengirim bantuan 600 kilogram bibit rumput laut untuk dibagikan kepada petani. "Kami berharap bantuan bibit dapat meringankan beban petani," katanya.
Saat ini sedikitnya 18 ribu petani di daerah itu sudah menarik tali rumput lautnya yang telah tercemar minyak ke darat. Banyak rumput laut mati, sehingga petani perlu diberi bantuan bibit baru agar bisa kembali menanam.
Meski begitu, nilai jual rumput laut di Kabupaten Sabu Raijua masih normal yakni Rp8.000 per kilogram. Rumput laut di daerah itu dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian menjualnya lagi ke pedagang besar di Surabaya, Jawa Timur, atau ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Saat ini investor juga mulai membangun pabrik rumput laut di Waingapu, ibu kota Sumba Timur, sehingga petani rumput laut di Sabu Raijua dapat menjual hasil budidaya mereka ke pabrik tersebut.
Menurut Marthen, rumput laut menjadi sandaran hidup sebagian besar masyarakat pesisir di daerah itu setelah tanaman pertanian gagal panen akibat curah hujan yang sangat rendah.