
Tablolong adalah desa di kecamatan Kupang Barat, sekitar 20 km dari kota Kupang. Sebuah desa nelayan dengan penduduk yang berasal dari pulau-pulau di propinsi NTT. Sebagai nelayan penduduk Tablolong mempunyai mobilitas yang tinggi dan dinamis.
Pada tahun 1999, Bupati Kupang memperkenalkan budidaya rumput laut. Bibit cotonii diberikan dan cara pemeliharaan diajarkan oleh DKP kabupaten Kupang. Seluruh cara pemeliharaan dan penanganan hasil panen sudah diterapkan dengan baik. Sampai saat ini pedoman itu masih dipergunakan.
Produksi secara bertahap naik. Puncaknya pada tahun 2003 mencapai 150 ton/bulan cottonii kering dihasilkan oleh 210 kk (640 jiwa), 90 % penduduk Desa Tablolong. Mereka dapat merasakan perbaikan kehidupan dari budidaya rumput laut. Pada saat itu Tablolong menjadi pusat bisnis rumput laut di Kupang. Angka penjualan di Desa Tablolong dapat mencapai 2 kali lipat angka produksi desa ini. Karena petani desa dan pulau disekitarnya banyak yang menjual rumput laut kering ke Desa Tablolong, bahkan petani dari Pulau Rote menjualnya ke desa ini.
Tetapi sejak tahun 2004, penyakit ice-ice menyerang. Petani selalu mengalami kerugian. Seorang demi seorang mengangkat dan menyimpan tali dan peralatan budidaya rumput laut di darat. Hanya tinggal 20 petani yang bertahan dengan hasil kurang dari 2 ton/bulan. Selain itu sudah putus asa dan mengalihkan pekerjaannya . Pengembalian kredit pada pedagang menyusul menjadi persoalan. Karena tidak ada produksi maka pengembalian kredit menjadi tersendat.
Beberapa instansi sudah mencoba memecahkan masalah ini. Universitas Nusa Cendana pernah menurunkan tim, DKP mencoba menelaah persoalan ice-ice ini. Kesimpulannya, ice-ice timbul karena kelimpahan bakteri yang meledak. Terutama di bulan Oktober dan Desember. Pada bulan itu ada kenaikan suhu air laut yang mencapai suhu terpanas sepanjang tahun. Jika dibarengi dengan melimpahnya sampah organic dari rumah tangga dan buangan kapal, maka bakteri akan meledak. Oleh karena itu pembersihan tali dan rumput laut harus dilakukan setiap hari.
Pada waktu panen sengaja bibit dicari dari dearah lain agar dapat menggunakan bibit yang bersih, tidak terinfeksi ice-ice. Tetapi semua usaha ini belum memberikan hasil optimal.
Setelah bergelut selama 2 tahun, doa petani Tablolong terjawab dengan kepulangan warga yang berasal dari Alor yang membawa oleh-oleh bibit dari Alor. Bibit sebanyak 600 kg mulai ditanam bulan Oktober 2005. Ditanam berselang-seling dengan bibit local (lama). Tali bibit Alor, apit oleh bibit local. Hal ini untuk mengetahui ketahanan terhadap penularan ice-ice. Secara fisik perbedaan dengan bibit lama jelas sekali. Bibit Alor batangnya lebih besar dan lebih lentur.
Setelah berjalan 3 bulan bibit Alor ini tidak terinfeksi dan dapat tumbuh subur. Selama 3 bulan rumput laut Alor ini tidak dijual kering. Selalu disemaikan atau dijual sebagai bibit pada petani lain.
Pada awal Desember Pak Hanawi dari Koja Doi, kabupaten Sikka, datang berkunjung dan memastikan bahwa bibit dari Alor ini, sama dengan rumput laut cottonii yang ada di Koja doi. Para petani Alor dulu mencari bibit sampai ke Koja Doi.
Saat ini bibit Alor menjadi harapan baru di Tablolong. Budidaya rumput laut menjadi bergairah lagi seperti tahun 2003. Saat ini bibit baru sudah banyak ditanam. Diperkirakan tahun 2006 ini produksi akan kembali meningkat. Perkiraan diakhir 2006 50 ton/bulan dapat dicapai.
Semoga.