
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung terus menggenjot produksi rumput basah di daerah itu menjadi 105.00 ton pada 2010. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya dan menjaring investasi pengolahan rumput laut.
”Sudah ada investor yang ingin membangun pabrik rumput laut di Babel (Bangka Belitung). Namun, mereka membutuhkan kesinambungan pasokan bahan baku dengan volume produksi rumput laut kering di tingkat pembudidaya, minimal 300 ton per bulan. Karena itu, kami terus menggenjot produksi agar rencana investasi pengolahan segera terwujud,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Babel Yulistyo yang dihubungi dari Palembang, Sumsel.
Menurut Yulistyo, volume produksi rumput laut basah pada 2009 sebanyak 79.350 ton. Jumlah itu naik 19.650 ton dibandingkan dengan tahun 2008 sebanyak 59.700 ton. Mulai 2010, volume produksi ditargetkan meningkat minimal 200.000 ton per tahun dan pada 2014 mencapai 1 juta ton. Setelah dikeringkan, rumput laut menyusut 10-15 persen.
”Sebagai daerah kepulauan, Babel memiliki potensi besar untuk budidaya rumput laut. Animo masyarakat cukup tinggi, sentra pengembangan pun terus diperluas,” ujar Yulistyo. Tahun 2010, areal budidaya rumput laut di Babel ditargetkan 700 hektar, tahun 2011 menjadi 1.216 hektar, dan 2014 (7.000 hektar).
Harga rumput laut basah di tingkat pembudidaya di Babel sekitar Rp 7.500 per kilogram. Usia tanaman rata-rata 45 hari. Pendapatan bersih per hektar dari sekali panen Rp 7 juta-Rp 10 juta dari total pendapatan kotor Rp 18 juta. Dalam setahun, rumput laut bisa tiga kali dipanen. Harga rumput laut kering berkisar Rp 25.000-Rp 50.000 per kg.
Direktur Utama PT Bangun Bangka Mandiri (BBM) Juli Rian Toni mengatakan, selama beberapa tahun ini pihaknya terus melakukan pendampingan terhadap para pembudidaya rumput laut. Selain menyuntikkan modal, perusahaan perikanan itu juga membantu penyediaan bibit, penyuluhan konstruksi, tali, jangkar, dan kebutuhan lain untuk peningkatan volume dan kualitas produksi.
PT BBM dan PT Bilitan Sejahtera Mandiri juga menampung hasil panen. Setelah dikeringkan, rumput laut diantarpulaukan ke Jawa, sebagian lagi diekspor ke Singapura, Filipina, China, dan Malaysia.