
Pengembangan industri pengolahan perikanan budidaya akan fokus pada pengembangan rumput laut. Untuk itu, Kementerian Perindustrian menjajaki pengembangan industri hilir rumput laut dan siap berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Menurut Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun, Selasa (5/1) di Jakarta, tahap awal untuk menyusun rencana kerja pengembangan industri rumput laut, Kementerian Perindustrian mengalokasikan Rp 5 miliar.
Dia mengatakan, tidak semua komoditas perikanan berpotensi dikembangkan dalam skala industri. Ini karena produksi yang tidak menentu dan tergantung musim sehingga sulit mendapat kepastian pasokan bahan baku bagi industri pengolahan perikanan. Berbeda dengan rumput laut, di Indonesia produksinya melimpah, bahkan terbesar di dunia untuk jenis karaginan.
”Fokus kami adalah mengembangkan industri rumput laut yang terpadu dari hulu ke hilir untuk menghasilkan end product (produk akhir),” ujar Alex.
Areal budidaya rumput laut yang dikembangkan saat ini baru 20 persen dari total potensi lahan 1,5 juta hektar. Masa produksi rumput laut 45 hari sehingga produksi cenderung kontinu sepanjang tahun.
Saat ini sekitar 90 persen rumput laut yang dihasilkan diekspor dalam bentuk kering, tanpa diolah. Dengan demikian, tidak ada nilai tambah.
Ekspor rumput laut Indonesia antara lain ke Denmark, China, Filipina, Hongkong, Spanyol, Jepang, dan Amerika Serikat.
”Tahun 2010, sinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan akan dimulai untuk meningkatkan nilai tambah produk rumput laut,” ungkap Alex.
Pengembangan industri terpadu rumput laut, lanjut Alex, akan dititikberatkan pada wilayah kepulauan yang tidak terganggu perubahan cuaca yang ekstrem. Wilayah tersebut antara lain Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.
Untuk pengembangan rumput laut di wilayah-wilayah tersebut, dibuka kesempatan bagi investor asing untuk investasi di industri pengolahannya.
Menurut Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Martani Huseini, investasi industri pengolahan rumput laut baru tumbuh jika ada kepastian pasokan minimal 30 ton rumput laut kering per hari.
Dia menjelaskan, rumput laut berpotensi menghasilkan 500 jenis produk akhir, yakni mulai dari makanan, minuman, kosmetik, perlengkapan mandi, hingga obat-obatan.
Saat ini, kata Martani, sedang dilakukan uji coba kluster rumput laut di Sumenep, yakni 1 ton per hari. Di Gorontalo sebanyak 1 ton per hari untuk menghasilkan produk setengah jadi berupa rumput laut lembaran. Selain itu, dibangun 12 gudang rumput laut berkapasitas masing-masing 150 ton.
Produksi rumput laut kering dunia saat ini berkisar 1,2 juta ton, sekitar 50 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Adapun Filpina memasok 35 persen dari produksi rumput laut dunia. Kebutuhan dunia untuk rumput laut jenis eucheuma 236.000 ton kering per tahun. Produksi dunia baru mencapai 145.000 ton per tahun.
Adapun kebutuhan dunia untuk rumput laut jenis gracilaria, bahan pembuatan agar-agar, 96.000 ton kering per tahun, produksi baru 48.500 ton.
Kebutuhan dunia untuk rumput laut berupa karaginan 69.000 ton kering per tahun, sedangkan produksi dunia 40.000 ton.