
Perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat cocok untuk budidaya rumput laut. Luas perairan untuk komoditi ini mencapai 51.870 hektar dari luas perairan yang membentang di daerah ini.
Hal ini disampaikan Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTT, Bruno Ora, S.Pi ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Senin (9/11/2009).
Menurut dia, berdasarkan potensi yang ada itu, pemerintah menggalakkan pengembangan rumput laut, demi meningkatkan pendapatan masyarakat. "Khusus komoditi ini, kami sudah galakan sejak tahun 2002.
Dari tahun ke tahun, luas arealnya terus bertambah. Demikian juga masyarakat yang menggeluti usaha tersebut. Karena itu, kami terus pacu, sehingga budidaya rumput laut menjadi mata pencaharian andalan masyarakat terutama di pesisir," ujar Bruno.
Dia mengatakan, budidaya komoditi itu telah memberikan hasil yang menggembirakan. Karena itu sebaran rumput laut sudah ke setiap kabupaten/kota di daerah ini. "Kami tetap pacu, sehingga budidaya rumput laut ini menjadi mata pencaharian andalan masyarakat terutama di pesisir," tambah Bruno.
Bruno menjelaskan, wilayah yang memiliki luas perairan terbesar untuk budidaya rumput laut, adalah Kabupaten Kupang. Saat ini tercatat 10.436 ha areal potensial di daerah itu, yang cocok untuk rumput laut.
Berikutnya, lanjut Bruno, di Kabupaten Manggarai Barat seluas 7.614 hektar. Sedangkan daerah yang luas perairannya paling sedikit untuk budidaya rumput laut, adalah Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Lebih lanjut Bruno menyebutkan, budidaya rumput laut mempunyai beberapa kelebihan. Misalnya, permintaan pasar domestik dan luar negeri sangat tinggi. Teknologi yang digunakan dalam budidaya mudah, dan biaya operasionalnya kecil.
"Komoditi ini banyak diminati dan untuk NTT, selalu antarpulaukan rumput laut ke Surabaya dan Ujung Pandang. Permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri selalu ada dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun," ujarnya.
Kepala Seksi (Kasie) Bina Pasar dan Distribusi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTT, Ingrith Hawula mengatakan, dari data yang dimiliki, produksi rumput laut selama kurun waktu dua tahun, cenderung menurun.
Tahun 2007, misalnya, produksi komoditi itu mencapai 47.088 ton dengan nilai Rp 235.440.000.000,00. Sementara pada tahun 2008, volume produksi rumput laut melorot drastis. Hingga Desember 2008, volume produksi hanya 3.779 ton dengan nilai Rp 37.790.000,00.
"Komoditi ini hanya diantarpulaukan ke pelabuhan-pelabuhan besar, seperti Surabaya dan Ujung Pandang. Untuk urusan ekspor juga begitu. Sedangkan data tantang produksi rumput laut tahun 2009, hingga saat ini belum dikirim dari kabupaten/kota," ujar Ingrith, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/11/2009). (*)
Serap Tenaga Kerja
SEKRETARIS DKP NTT, Bruon Ora, S.Pi, menegaskan, salah satu sektor dalam bidang kelautan dan perikanan yang menyerap tenaga kerja cukup banyak adalah budidaya rumput laut. "Sampai tahun 2008, usaha ini sudah menyerap 52.211 orang tenaga kerja. Angka ini selalu meningkat dari tahun ke tahun," ujarnya.
Dia menjelaskan, sesuai data yang dimilikinya, penyerapan tenaga kerja khusus pada perikanan budidaya, terbagi dalam tiga kategori, yaitu budidaya air payau, air tawar, rumput laut dan budidaya laut lainnya.
Menurut dia, sejak tahun 2004, penyerapan tenaga kerja pada bidang budiaya atau pengembangan rumput laut, cenderung meningkat. "Tahun 2004, tenaga kerja pada budidaya rumput laut hanya 14.270 orang. Hingga tahun 2008, jumlahnya sudah mencapai 52.211 orang. Kenaikkannya cukup signifikan," ujarnya.
Menyangkut proses pengolahan rumput laut, ia mengatakan, penanganan pasca panen yang dilakukan, masih didominasi oleh kegiatan untuk menghasilkan rumput laut kering dengan cara menjemur secara tradisional. Rumput laut itu dikeringkan dengan cara menjemur di panas matahari.
Sedangkan pengolahan lainnya belum banyak dilakukan. "Penanganan pasca panen seperti itu mempengaruhi pemasaran rumput laut baik di NTT maupun antarpulau. Umumnya pemasaran komoditi ini masih dalam bentuk bahan mentah," ujarnya. (*) Luas Areal Budidaya Rumput Laut di NTT
-----------------------------------------------------------
No Kab/Kota Potensi (ha)
--------------------------------------------------------------
1 Kota Kupang 10,00
2 Kab. Kupang 10.436,30
3 TTU 3.626,00
4 Belu 1.047,96
5 Alor 3.626,25
6 Lembata 5.394,84
7 Flotim 5.934,84
8 Sikka 3.461,63
9 Ende 1.870,97
10 Ngada, Nagekeo 1.382,90
11 Manggarai, Matim 1.980,95
12 Manggarai Barat 7.614,88
13 Sumba Barat 1.930,97
14 Sumba Timur 3.954,76
15 Rote Ndao 3.003,00
---------------------------------------------------------------
Jumlah 51.870,00
----------------------------------------------------------------
Sumber data: Dinas Kelautan dan Perikanan NTT