
Menurut Safari, kondisi tersebut bisa menjadi faktor yang dapat melemahkan produksi rumput laut Sulsel dari berbagai aspek seperti kuantitas, kualitas dan perilaku (pemerintah, pengusaha dan petani).
"Kita tetap optimis, tetapi akan sulit bicara investasi kalau sistem pengembangan tidak dibenahi sehingga tercipta tata kelolah yang lebih baik. Itu dulu yang diperbaiki, baru kita bicara investasi apalagi menyangkut pembangunan industri baru," ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Mantan Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel itu, lebih jauh menyoroti pelaksanaan program yang dinilai tumpang tindih. Dia menilai daerah masih cenderung berorientasi proyek dalam pengembangan rumput laut dan komoditas unggulan lainnya. "Kalau orientasinya seperti itu ya sekadar menghabiskan anggaran, tidak efektif sehingga tidak mampu memberikan dampak berarti, terutama bagi ketahanan petani," katanya.
Menurutnya, beberapa persoalan krusial di tingkat petani di daerah sentra rumput laut Sulsel antara lain Bantaeng, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Selayar, Sinjai, Bone, dan Luwu misalnya permainan harga dan pasang surut produksi belum terpecahkan dengan baik. "Harusnya Sulsel sudah memiliki blue print, bagaimana menciptakan petani profesional yang memiliki perilaku bisnis," ujarnya.
Komoditas rumput laut ini merupakan salah satu jualan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dalam Investment Luncheon by The Governor of South Sulawesi, di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu 14 Oktober yang dihadiri perwakilan 38 negara. Syahrul membuka peluang bagi investor untuk membenamkan modalnya di sektor industri rumput laut di Sulsel.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel, Iskandar, mengemukakan bahwa saat ini Sulsel sudah menjadi produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan realisasi produksi pada 2008 mencapai 74.852 ton (kering). Tahun ini diprediksi meningkat menjadi 81.064 ton, kemudian 2010 naik menjadi 84.548, 2011 sebesar 88.032 ton. Tahun berikutnya, 2012, ditargetkan mencapai 91.516 ton.
"Dengan produksi 95.000 ton kering pada 2013, berarti kita sudah mengungguli Chili yang saat ini menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia," jelas Iskandar di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. (fmc-id)