
“
Sudah dua bulan kami tidak menanam rumput lagi padahal bulan-bulan sebelumnya di kampung kami ini sangat bagus kualitas rumput lautnya”, demikian ucapan yang dilontarkan Pak Rabaseng Ketua Kelompok Tani Kamboja Dusun Kawaka, Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka kembali kepada kebiasaan semula yaitu melaut. Menurut penuturan Pak Rabaseng seandainya tidak ada lagi kegiatan melaut seperti memancing ikan ia tidak tahu lagi apa yang dapat dijadikan sumber penghasilan untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada umumnya para penduduk di dusun tersebut menggunakan alat tangkap pancing dan umpannya berupa ikan-ikan kecil yang biasanya mereka pancing terlebih dahulu dengan menggunakan mata pancing yang lebih kecil atau juga mereka menggunakan umpan dari udang-udang kecil yang biasa dibeli di pasar atau penjual ikan keliling. Ikan yang mereka tangkap pun beraneka macam tapi pada umumnya adalah ikan-ikan karang seperti ikan kerapu.
Air yang tenang sejak tiga bulan terakhir membuat rumput laut di daerah tersebut semuanya mati, tidak ada yang tersisa sedikitpun. Meskipun penduduk di sana sudah berusaha untuk menanam di lokasi yang lebih jauh dari pinggir pantai namun hasilnya juga tetap sama.
Bukan hanya air tenang.
Menurut Pak Rabaseng pula selain tidak adanya arus dan ombak di laut penyebab lain yang membuat rumput laut mati adalah banyaknya nelayan-nelayan dari daerah luar seperti Galesong (Kabupaten Takalar) yang datang ke daerah tersebut menangkap ikan dengan cara pembiusan (sianida). Usaha penduduk di kampung tersebut untuk melarang penangkap ikan dari luar yang menggunakan bahan kimia tersebut namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan, karena menurut penduduk di kampung tersebut sebelum berhasil sampai kapal-kapal nelayan bius itu, mereka sudah pergi lebih dahulu karena perahu-perahu mereka dilengkapi dengan mesin.
Yang terjadi ini adalah salah satu bukti kenapa penangkapan ikan dengan cara membius tidak bisa dilakukan di tempat-tempat di mana ada budidaya rumput laut. Bahan-bahan kimia beracun yang dikandung sianida sangat mematikan bagi rumput laut. Kalau ikan saja mati apa lagi rumput laut yang hanya dapat tumbuh subur di laut yang bersih, dan mengandung banyak zat-zat makanan. Ini Keadaan ini diperburuk dengan tidak ada ombak. Akibatnya sisa-sisa dari bahan kimia beracun tersebut tidak mengalir ke tempat lain sehingga terjadi penumpukan bahan kimia beracun dalam jumlah yang banyak.
Bukan hanya mematikan rumput laut, bahan kimia beracun ini juga mengakibatkan kerusakan pada terumbu karang. Ketika sisa bahan bius sianida menempel pada karang, umumnya terumbu karang yang terkena oleh cairan kimia tersebut meleleh dan berhenti bertumbuh atau bahkan perlahan-lahan mati.
Hal serupa juga terjadi di Dusun Ujung Bundu, Desa Bonto Ujung Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto. Air yang tenang membuat rumput laut dari jenis Kappaphicus Alverezi yang di Sulawesi Selatan dikenal dengan nama “bangko’” atau “maumere” terkena ulat dan ice-ice yang serius sehingga batang yang sudah tumbuh mudah jatuh karena terputus. Padahal umur tanam sudah berumur 15 hari, pada umumnya pada saat umur seperti ini, rumput laut kelihatan seperti gadis remaja. Penuh tunas baru.
“
Saya juga heran kenapa ada rumput laut yang berdarah, kaya seperti kita manusia kalau luka ada darahnya”, demikian penuturan Abd Jalil Dg Sikki yang menanam rumput laut yang juga dikenal dengan nama tambalang ini di Bonto Ujung. Memang kalau kita lihat dengan teliti rumput laut yang ditanam Dg. Sikki ini terkena sejenis jamur dan ulat (nama lokal: tai kondo). Ulat ini menghasilkan cairan warna merah yang berasal dari sisa makanan yang sudah dicerna oleh ulat yang berada di dalam batang rumput laut tersebut. Warnanya merah mirip dengan darah pada hewan dan manusia sehingga para penduduk di Dusun Bonto Ujung mengatakan rumput lautnya berdarah. Jamur dan ulat tersebut menyerang batang utama sehingga dalam waktu relative singkat terjadi borok di batang sehingga batang akan terputus dengan sendirinya.
Mengenali resiko penyakit rumput laut budidaya.
Pada dasarnya bagi rumput laut atau tanaman laut lainnya yang memiliki zat hijau daun atau klorofil atau memproses makanan dengan bantuan sinar matahari, arus adalah sumber pembawa unsur nutrient (zat makanan) yang diperlukan. Arus yang datang setiap saat juga membantu rumput laut terbebas dari binatang atau tumbuhan pengganggu yang menempel di batangnya. Sama seperti zat makanan, seringkali tumbuhan dan binatang penggangu tanaman rumput laut tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Jadi kalau arus membuat di suatu tempat ada pertukaran zat makanan setiap hari, dan menggerakan batang-batang tanaman sehingga pertumbuhan juga semakin lebih cepat berlangsung, hal sebaliknya yang akan terjadi jika tidak ada arus. Tidak adanya arus dan ombak di lokasi penanaman rumput laut membuat parasit mudah berkembang pada batang terutama jenis jamur dan ulat yang pertumbuhannya sangat cepat.
Cepatnya perkembangan sumber penyakit bagi tanaman rumput laut itu, akan semakin buruk keadaannya bagi rumput laut jka daerah yang diserang adalah daerah yang ditanami dengan padat atau mengalami hujan terus menerus. Hujan yang lebat mengakibatnya terjadinya aliran air dari darat yang berlebih (run off) yang membawa air tawar dalam jumlah yang lebih banyak. Meskipun rumput laut membutuhkan air tawar untuk menyeimbangkan kandungan garam air laut laut (salinitas) namun jika dalam jumlah yang berlebih juga membahayakan pertumbuhan rumput laut. Aliran air dari darat yang cepat dan dalam jumlah besar sekaligus –seperti ketika terjadi banjir- juga membawa berbagai macam sampah dan kotoran ke dalam laut. Tapi yang tidak terlihat adalah, ketika hal ini terjadi air yang mengalir ke dalam laut lewat permukaan tanah belum mengalami pencucian sempurna lewat pori-pori dalam tanah sehingga air yang masuk ke dalam laut pada dasarnya adalah air kotor yang membahayakan habitat dan kehidupan di dalam laut, termasuk tanaman rumput laut.
Cara mengatasinya.
Selain petani harus rajin tiap hari ke laut untuk memberikan ‘sentuhan kasih sayang,’ menurut Pak Amin di Dusun Mattoanging, Desa Bontojai, Kecamatan Bissapu, Kabupaten Bantaeng yang termasuk kelompok yang pertama kali menanam rumput jenis ‘bangko’ ini mengatakan bahwa kalau terserang rumput laut terserang tai kondo atau jamur yang membuat batang rumput laut jadi putih seperti es, maka kita harus panen kemudian batang yang terkena penyakit atau rusak tersebut kita buang dan batang yang baik saja yang diikat kembali. Namun harus dicatat bahwa sebelum di ikat/tanam ulang, bibit harus benar-benar bersih dari parasit tersebut dengan terlebih dahulu mencucinya di laut dan sebaiknya jangan membuang di laut batang rumput laut yang telah terserang penyakit. Hal ini dapat menyebabkan penyebaran sumber penyakit. berlangsung cepat apalagi bila arus kurang.
Menyangkut kepadatan penanaman rumput laut, maka rumput laut harus dipindahkan lokasinya. Sebaiknya pindahkan ke tempat yang lebih dalam, yang lebih terbuka terhadap arus. Karena seperti yang terjadi hanya lokasi-lokasi yang paling luar saja dari pinggir pantai atau yang berada di daerah terumbu karang atau berbatu yang masih bisa bertahan terhadap serangan. Kepadatan lokasi penanaman rumput laut juga menyebabkan makin turunnya mutu dan hasil panen. Tempat yang dahulunya rumput laut tumbuh subur dan baik lama menjadi kurang produktif.