
Terik matahari di Pantai Batu Leleng, Desa Mallasoro, Kec. Bangkala, Jeneponto, sore itu, cukup menyengat. Tapi, seolah tak dihiraukan petani rumput laut. Warga yang berjubel di bibir Pantai Batu Leleng, sore itu bukan menikmati gulungan ombak atau indahnya panorama pantai dengan pasir putihnya. Tapi, mereka memanen rumput laut yang ditanam sebulan lalu.
Jarak kampung ini dari kota Jeneponto, sekitar 40 km. Kalau bepergian menggunakan motor butuh waktu satu jam karena parahnya kerusakan jalan ke kawasan ini. Masyarakat desa ini, mengenal rumput laut sejak 10 tahun lalu. Waktu itu, diperkenalkan seorang pegawai Dinas Perikanan dan Kelautan.
Perlahan-lahan, saat ini, sekitar 500 KK yang dulunya nelayan, beralih ke rumput laut. Perahu-perahu jenis katinting maupun jolloro yang pasang sauh sepanjang pesisir pantai Jeneponto, tidak lagi mendesingkan mesinnya kala mentari mulai menyingsing di ufuk timur.
Sarana transportasi vital nelayan-nelayan pencari ikan itu, bahkan tidak lagi difungsikan melaut mencari ikan. Nelayan ini memilih melabuhkan perahunya di sekitar pesisir saja.
Daeng Nangga bersama isterinya, Daeng Ngintang tampak ceria. Maklum, ia sedang memanen rumput lautnya. Mereka membentangkan tali dari pantai hingga sejauh 25-60 meter di perairan, dengan memanen hasil rumput laut atau sekadar menyematkan bibit-bibit.
Bahkan, masyarakat pun berlomba-lomba mengkavling laut dengan memasang bentangan tali sebagai batas garapannya. Memang ada yang berubah dalam pola kehidupan masyarakat setempat. Setidaknya 10 tahun lalu di sepanjang pesisir pantai Jeneponto di kenal sebagai nelayan. Belakangan, ramai-ramai banting setir.
Alasannya, dengan rumput laut, kesejahteraan mereka bisa lebih baik. “Selama menggeleuti budidaya ini, kebutuhan ekonomi keluarga bisa sedikit tertutupi. Sebulan dengan sekali panen, mampu meraup keuntungan Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.” Beber Nangga.
Dengan penghasilan itu, pria yang hanya mengecap pendidikan hingga SMP ini, mampu membangun rumah, serta membeli sebuah sepeda motor. Rumput laut di kampung itu benar-benar menjadi primadona. “Yang disaksikan ini sudah merupakan kesibukan sehari-hari di Pantai Batu Leleng.” Sambung Nangga.
Bagi petani di Batu Leleng, rumput laut dengan usia panen antara 45-50 hari, lebih menjanjikan. Seperti dikisahkan Daeng Nangga, dulu ketika ia bersama warga Batu Leleng bekerja sebagai nelayan, hasilnya tidak tentu. Apalagi hanya mengandalkan alat tangkap sederhana. Hasil yang didapat sering jauh dari harapan. “Risikonya juga besar.” Kenangnya.
Belakangan, mencara ikan di laut, sesekali masih digeluti, namun itu, hanya untuk memenuhi kebutuhan lauk di rumah. Waktu selebihnya dimanfaatkan untuk berusaha rumput laut.