
Sejauh mata memandang di Desa Wewanriu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang tampak adalah tambak-tambak petani. Dulu tambak-tambak itu menjadi lahan persemaian udang dan kepiting, tapi kini petani tambak berubah haluan ke rumput laut. "Rumput laut menjadi harapan kami. Saya dulu mencoba udang, tapi hasilnya tidak tentu, malah rugi kalau ada hama penyakit yang menyerangnya. Kini dengan tambak 10 hektar, tiap hektar kira-kira menghasilkan 4 sampai 5 ton rumput laut per sekali panen sekitar 45 hari, saya memiliki 10 hektar tambak rumput laut dan dapat penghasilan bersih sekitar 50 juta rupiah per sekali panen," ujar Sampe Bandaso, Ketua Kelompok Tani Mareo Marennu, yang mengkoordinir sekitar 100 kepala keluarga yang mengolah tambak rumput laut di Desa Wawenriu.
Sementara ini, Kelompok Tani Mareo Marennu mengolah sekitar 80 hektar tambak. Direncanakan pada tahun 2008-2009 akan ada perluasan tambak rumput laut di sekitar desanya sehingga bisa mencapai sekitar seluas 300 hektar. "Kalau melihat lahan yang tersedia, di sini masih potensi 500 hektar lebih untuk tambak rumput laut," ujar Sampe Bandaso.
Melihat hasil yang diperoleh kelompok Tani Mareo Marennu, belakangan ini mulai banyak kelompok masyarakat yang terjun ke tambak rumput laut. Selain Kelompok Tani Mareo Marennu, beberapa kelompok masyarakat lain mulai mengolah tambaknya ke rumput laut. Hasilnya, bukan hanya rumput laut diperoleh, dari tambak juga para petani masih mendapatkan ikan bandeng. Ikan bandeng ikut membantu untuk perawatan rumput laut. Ikan bandeng ukuran selebar tiga jari memakan lumut-lumut yang melekat di rumput laut. "Sedangkan yang lebih dari ukuran lima jari, sudah harus diambil, karena ikan bandeng itu memakan rumput laut. Jadi, secara perodik, petani rumput laut harus mengambil ikan-ikan bandeng yang besar-besar itu agar rumput lautnya tidak habis dimakan," ujar Musdar, pendamping teknis Kelompok Tani Mareo Marennu, yang difasilitasi PT International Nickel Indonesia Tbk (PT Inco).
Musdar, membimbing petani rumput laut mulai dari awal pemilihan pembibitan, persemaian, perawatannya, hingga pengambilan panen rumput laut. "Relatif budi daya rumput laut ini tidak serumit dibandingkan pengembiakan udang atau kepiting bakau. Dan setiap 45 hari rumput laut terus menerus bisa dipanen," jelas Musdar.
Kondisi lahan di Desa W memang sangat cocok untuk tambak rumput laut. Petani tidak perlu memompa air laut untuk mengairi tambaknya. Mereka cukup mengatur katup air yang menjadi jalan masuk air ke tambaknya. Menurut Musdar, cukup gampang mengembangbiakkan rumput laut. Bibit rumput laut cukup disemai di tambak, kemudian kontrol air ke tambak, tinggal tunggu 45 hari sudah langsung panen. Adapun ikan bandeng dari tambak bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para petani.
Menurut Sampe Bandaso, PT Inco banyak membantu kelompok tani yang dikoordinirnya, mulai dari pemberian bibit, bantuan teknis, hingga untuk pemasarannya. "Dulunya melalui tengkulak, rumput laut dihargai sekitar 2000 rupiah per kilogram. Kini, dengan langsung ke pabrik pengolah rumput laut, yang difasilitasi PT Inco, bisa mencapai 3000 rupiah per kilogram," ujar Sampe Bandaso.
Bukan mustahil, dalam beberapa tahun ke depan, Luwu Timur, bisa menjadi sentra penghasil rumput laut terbesar di Sulawesi. Sementara itu, permintaan rumput laut, menurut berbagai kalangan pemerhati rumput laut, cukup besar terutama dari beberapa negara seperti Jepang dan negara di Asia Timur lainnya. Rumput laut banyak dijadikan bahan baku agar-agar, minuman, dan berbagai jenis makanan lainnya atau untuk bahan makanan suplemen.