
Petani rumput laut di Pulau Bali mengeluh karena usaha yang ditekuni selama ini banyak yang gagal panen akibat musim pancaroba sehingga keadaan suhu air laut tidak stabil.
"Faktor alam tidak bersahabat terakhir ini merupakan salah satu penyebab gagalnya panen rumput laut di daerah ini," kata Made Merta, salah seorang pengurus kelompok tani pantai di Buleleng, Bali utara, Jumat (26/5).
Nasib serupa juga tampaknya dialami petani lain yang banyak membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma cotoni alfarisi di Kepulauan Lembongan, Nusa Penida, Badung, dan Klungkung.
Berkurangnya panenan rumput laut produksi pantai di Pulau Dewata ini mengakibatkan realisasi ekspor rumput laut dari Bali 0 persen pada awal tahun 2009 sebagaimana dilansir Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali.
Kasubdin Perdagangan Luar Negeri Disperindag Bali Kusumawathi mengakui, realisasi ekspor rumput laut daerah ini pada awal 2009 belum ada yang tercatat di perdagangan luar negeri nonmigas Bali.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa hal itu bukan berarti produksi rumput laut tidak ada sama sekali karena hasil panen petani itu banyak diperdagangkan antarpulau ke Jawa Timur dan dari Surabaya diekspor ke AS, China, ataupun ke Asia lainnya.
Tokoh nelayan Buleleng mengatakan, gagal panen rumput laut kali ini tidak akan menyurutkan sekitar 23 kelompok petani pantai untuk membudidayakan rumput laut di daerah yang memiliki panjang pantai 144 km.
Hal itu terlihat dari luas areal pengembangan bertambah menjadi 250 hektar yang tersebar di seluruh Kecamatan Gerokgak, Seririt, Banjar, Sawan, Kubutambahan, dan Kecamatan Tejakula.
Jumlah produksi selama rentang tahun 2008 sebanyak 1.614,3 ton, tetapi untuk masa panen kali ini petani kehilangan produksi sekitar 30 ton rumput laut, hanya di Kabupaten Buleleng Barat, belum di daerah lainnya.
Adanya pergantian musim nantinya diharapkan alam semakin bersahabat sehingga pengembangan rumput laut yang dilaksanakan petani pantai bisa berkembang baik dan memberikan hasil yang lumayan, katanya.