
Pengusaha Korea Selatan dan Brasil memesan rumput laut dari Maluku untuk diolah menjadi produk-produk turunan, termasuk bioetanol dan bubur kertas. Peluang itu disambut dengan memberdayakan petani untuk meningkatkan produksi rumput laut di daerah itu.
Program Manager Advance Maluku, Elsye Syauta, di Ambon Minggu (17/5), menjelaskan penjajakan kerjasama dengan pembeli dari Korea Selatan dan Brasil sudah dilakukan. Advance Maluku adalah Lembaga yang bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Maluku untuk mencari pasar ekspor.
Kerjasama dengan Brasil sudah memasuki tahap penyusunan kontrak. Korea Selatan lebih maju karena sudah minta pasokan rumput laut untuk diolah menjadi berbagai produk. Beberapa produk turunan rumput laut adalah bioetanol, bubur kertas dan pupuk. Advance Maluku juga mulai membuka jaringan pasar di Filipina, Jepang dan China.
Ristianto Sugiyono, Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan mengatakan bioetanol diproduksi dari limbah pengolahan tepung rumput laut. Setiap 1 Hektar lahan rumput laut menghasilkan 58.000 liter bioetanol. Limbah terakhir rumput laut bisa diolah menjadi kertas dan pupuk.
Produksi kertas dari bahan baku non kayu bisa menyelamatkan degradasi hutan. Rumput laut juga mampu menyerap CO2 sehingga mengurangi pemanasan global. “Korea Selatan memesan untuk bioetanol. Ini Peluang pasar yang bagus” ujar Ristianto.
Belum Mampu
Saat ini Maluku belum mampu memenuhi permintaan pasar ekspor karena produksinya masih rendah, yakni 100.000 ton pertahun. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah, lahan potensial untuk budidaya rumput laut di Maluku 23.613 Hektare. Lahan yang telah dimanfaatkan baru 8.258 hektar. Daerah penghasil rumput laut adalah Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru.
Untuk memenuhi permintaan pasar lanjut Elsye produksi rumput laut perlu ditingkatkan. Peningkatan produksi digenjot melalui teknik budidaya menggunakan GOSEPA. Satu Gosepa dengan luas 250 meter persegi dapat memproduksi 150-200 ton. Sementara cara tradisional hanya menghaasilkan 20 ton per hektar.