
Setelah pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat pesisir di sekitar Teluk Lombok pada tahun 1975, rumput laut jenis Eucheuma cottonii atau dalam nama latin dikenal sebagai Kappaphycus alvarezii kini telah berhasil dibudidayakan dalam skala komersil di hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia. Sentra budidaya eucheuma terutama berada dikawasan timur Indonesia, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, NTT, NTB, sebagian Papua dan Maluku.
Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor bahan baku (raw material) rumput laut kering terbesar dengan volume ekspor 94,073 ton pada tahun 2007 dengan nilai ekspor 57,5 juta US$. (Data Statistik Perikanan Tahun 2007). Pasar ekspor utama rumput laut Indonesia adalah China, Philipina, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara eropa seperti Spanyol, Perancis dan Denmark.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Philipina mengekspor sebagian besar rumput lautnya tidak dalam bentuk raw material, namun dalam bentuk bahan setengah jadi berupa Alkali Treatment Chips (ATC), Semi Refine Carrageenan (SRC) dan bahkan Refine Carrageenan (RC) yang digolongkan menjadi ”food grade gum” sehingga dari sini didapat nilai tambah. Jika pada tahun 2000, nilai eksport bahan baku rumput laut Philipina sebesar US$ 20 juta, maka pada tahun 2006 turun menjadi US$ 6 juta tetapi nilai eksport bahan baku olahan rumput laut ”food grade gum” meningkat tajam dari US$ 33 juta di tahun 2000 menjadi US$ 39 juta pada tahun 2006.
Namun Indonesia sebaliknya, ekspor bahan baku rumput laut memiliki porsi lebih besar daripada ekspor rumput laut olahan. Pada tahun 2000, Indonesia memperoleh nilai ekspor bahan baku sebesar US$ 12 juta dan meningkat tajam pada tahun 2006 menjadi sebesar US$ 38 juta, namun ekspor bahan olahan rumput laut hanya menyumbangkan US$ 15 juta pada tahun 2006, padahal volume ekspor Indonesia jauh lebih besar daripada Philipina (Data olahan Dr. Ian C Neish, SeaPlantNet Foundation, dalam 2008). Kesimpulannya, Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah ketimbang bahan olahan karena minimnya industri pengolahan rumput laut dalam negeri.
Indonesia saat ini menjadi negara pengekspor terbesar rumput laut di dunia dan memiliki potensi pengembangan rumput laut yang luar biasa. Usaha rumput laut telah mengangkat taraf hidup sebagian besar masyarakat pesisir dan salah satunya berdampak langsung merubah pola mata pencaharian dari nelayan tangkap menjadi pembudidaya sebagaimana yang terjadi di beberapa wilayah di NTT dan Sulawesi Selatan. Ini berarti bahwa secara tidak langsung aksi ”destructive fishing” juga semakin berkurang.
Namun, tumbuhnya minat budidaya oleh petani belum dibarengi dengan niat sungguh-sungguh oleh pemerintah untuk memberikan dukungan. Berkembangnya budidaya rumput laut di daerah-daerah baru lebih didorong oleh faktor permintaan pasar terutama membaiknya harga bahan baku rumput laut pada pertengahan tahun lalu, daripada peran pemerintah yang mengkampanyekan usaha peningkatan produksi melalui program-programnya.
Maka tidaklah mengherankan jika pada masa sekarang ini, banyak petani yang tidak lagi membudidayakan rumput laut juga karena faktor permintaan pasar yang menyebabkan anjloknya harga ditingkat petani. Secara hitungan ekonomi, anjloknya harga tidak lagi memberi banyak keuntungan bagi nelayan pembudidaya sehingga mereka lebih memilih untuk gantung tali dan mulai kembali menangkap ikan atau mengurus kebun.
Harga cottonii ditingkat pembudidaya hanya berkisar antara Rp. 4500 sampai dengan Rp. 6000 perkilo atau antara US$ 0.4 s/d 0.5 per kilo. Menurut IMR International, harga international untuk SRC (Semi Refine Carrrageenan) saat ini adalah US$ 12,12/Kg (meskipun turun 45% dari tahun lalu) sedangkan RC (Refine Carrageenan) adalah US$ 16,52/Kg ( juga turun 33% dari tahun lalu).
Jika kita menggunakan asumsi perhitungan biaya pemrosesan untuk pembuatan PES (Processed Eucheuma Seaweed) Refine Carrageenan sebagaimana yang ditulis oleh Dr. Iain C. Neish dalam Seaplant Technical Monograph No. 0105-4B, maka diperoleh harga ideal pembelian bahan baku cottonii oleh industri US$ 7,4 – 9,1 / Kg jika asumsi yang digunakan adalah harga international Refine Carageenan (RC) US$ 16,52/Kg seperti sekarang ini. Namun kenyataan, harga bahan baku cottonii kering ditingkat petani saat ini hanya US$ 0,4-0,5 / Kg. Sungguh sangat ironis!.
Jika saja industri rumput laut dalam negeri dapat berkembang dengan baik, maka selain dapat mendongkrak harga bahan baku dalam negeri yang manfaatnya dirasakan langsung oleh petani pembudidaya, keberadaan industri pemrosesan mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Kita tinggal memilih, bergerak cepat untuk mengembangkan industri rumput laut dalam negeri atau tetap membiarkan petani kita menikmati hanya sedikit sekali dari hasil kerja keras mereka.