
Istilah Pondok seringkali diperbincangkan, baik dalam media ataupun perbincangan keseharian, dan biasanya istilah pondok identik dengan perumahan mewah seperti perumahan pondok indah. Dalam kepariwisataan juga kita juga sering mendengar pondok pariwisata yang biasanya terdapat di pinggir pantai. Pondok ini umum disebut cottage. Dalam pendidikan keagamaan, kata pondok juga digunakan pada Pondok Pesantren.
Namun, pondok ini juga sering dipergunakan untuk oleh petani di Indonesia dengan membangunnya di sawah dan kebun mereka. Pondok ini digunakan sebagai tempat untuk beristirahat sehabis bekerja di ladang atau sawah. Keberadaan pondok ini tentunya untuk mengefesienkan waktu bekerja dan juga sebagai tempat istirahat. Dan tentunya kita takkan lupa dengan iklan RCTI yang menampilkan pondok di tengah sawah yang hijau dengan TV dipondoknya.
Lain halnya dengan para petani di Kecamatan Lemito, Gorontalo. Karena keseharian mereka bekerja di laut, maka mereka juga mendirikan pondok di laut. Pondok ini kira-kira jaraknya 2 mil dari bibir pantai. Pondok yang mereka buat digunakan sebagai tempat untuk mengikatkan bibit di tali dan juga untuk menjemur hasil panen rumput laut mereka, selain itu petani juga menggunakan sebagai tempat istirahat sehabis bekerja dilaut.
“Kami buat pondok dilaut memudahkan bekerja dilaut, selain untuk mengikat bibit dan menjemur hasil rumput laut, di pondok juga sebagai tempat istirahat” aku Pak Usman Kamaru yang sering disapa dengan Ka’ Usu sehari-hari. Di daerah ini panggilan ka’ ditujukan bagi orang yang lebih tua dari kita untuk laki-laki dan ta bagi yang lebih muda umurnya sementara bagi perempuan yang lebih tua dipanggil dengan kata te sebelum nama panggilannya dan ti bagi yang lebih muda umurnya.
Pada hari-hari tertentu mereka juga menginap di pondok tersebut. Ini biasanya mereka lakukan pada saat mereka panen rumput laut yang banyak. Selain untuk menjaga rumput laut, pondok ini juga digunakan untuk jemur cepat pada pagi hari dan menutupnya di malam hari. Selain itu, mereka menjaga dari orang yang kadang mencuri rumput laut mereka di malam hari. Namun banyak juga diantara mereka yang menginap dipondok agar pekerjaan lebih efesien. Hal ini terutama pada sabtu dan ahad dimana satu keluarga biasanya urung rembuk bekerja dilaut, baik istri dan anak juga diikutkan kelaut.
Pondok dilaut ini juga dilengkapi dengan dapur untuk memasak, kamar tidur, dan juga wc cemplung. Jadi jika mereka hendak bermalam, mereka tinggal membawa bahan mentahnya dan memasaknya dilaut. Untuk mendapatkan ikan, biasanya mereka memancing disaat istirahat.
Pada umumnya pondok didirikan diatas area yang relatif lebih tinggi dari sekitarnya. Hal ini untuk memudahkan membuatnya dan juga bahan yang dibutuhkan bisa lebih irit. Rata-rata kedalaman airnya 2-3 meter pada saat pasang tertinggi dan 1 meter pada saat surut terendah agar sampan atau perahu masih bisa merapat ke pondok baik pada saat surut terendah.
Para petani rumput laut di Lemito menjadi harus membuat pondok di laut karena jarak rumah dari lokasi rumput lautnya membutuhkan waktu 30-60 menit perjalanan dengan perahu. Hal ini berarti para petani membutuhkan 1 liter bensin untuk bisa dipakai berangkat dan pulang. Sedangkan untuk ke lokasi budidayanya, mereka bisa menggunakan mesin perahunya atau mendayung karena tidak terlalu jauh dan juga untuk mengirit penggunaan bahan bakar.
Sampai saat ini hampir 30an pondok dilaut yang telah dibangun oleh para petani rumput laut di Lemito meskipun sebagian ada yang rubuh akibat umur yang sudah tua dan juga karena hempasan ombak yang besar disetiap musim barat. Namun, beberapa pondok baru mulai lagi dibangun oleh petani.
Dalam membangun pondok dilaut, mereka bekerjasama secara bertahap. Pada umumnya bagi mereka yang baru mendirikan pondok akan meminta arahan kepada petani yang sudah pengalaman dalam membuat pondok dilaut. Mula-mula mereka membangun bangunan utamanya, kemudian atapnya. Pondok ini digunakan sebagai tempat istirahat dan mengikat bibit dan setelah itu melanjutkan dengan membuat tempat jemuran rumput laut.
Untuk mengefesienkan dalam penjemuran rumput laut, program AMARTA yang didukung oleh USAID memperkenalkan ke petani model penjemuran gantung. Dengan jemuran ini juga, rumput laut lebih cepat kering dibandingkan diserak diatas para-para pondok. Selain itu, rumput laut dijemur gantung memberikan perbedaan berat yang lebih bagus serta lebih disengangi oleh pembeli.
Untuk mendapatkan bahan bakunya, mereka mengambil kayu-kayu yang banyak tumbuh dipulau-pulau sekitarnya yang dekat dengan hanya membayar biaya pemotongan sesuai dengan kebutuhan. Biasanya satu tiang dengan panjang 4 meter dan diameter 15-20 cm harganya Rp 15000,-. Jumlah tiang dan palang tergantung dari ukuran pondok yang diinginkan.
Jadilah mereka, para petani lemito memiliki Pondok di Laut.