
Mayoritas budidaya rumput laut oleh nelayan Tawang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, punah akibat banyaknya air sungai masuk ke laut tempat rumput laut dibudidayakan. Padahal, rumput laut merupakan penghasilan lain nelayan saat nelayan tidak melaut karena ombak besar atau sepi tangkapan ikan.
Berdasarkan pengamatan tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa 2009, Kamis (30/4), laut tempat budidaya rumput laut berada di Teluk Tawang, tidak jauh dari tempat perahu nelayan bersandar dekat Tempat Pelelangan Ikan Tawang. Tidak jauh dari lokasi itu, terlihat jalur Sungai Anakan yang langsung masuk ke teluk.
"Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. Air sungai dalam jumlah besar masuk ke teluk tempat budidaya rumput laut. Air laut menjadi coklat. Kemudian beberapa hari setelah itu, rumput laut yang memenuhi teluk hampir semuanya mati," ujar Nur, nelayan setempat.
Sunarno, nelayan lainnya, yang membudidayakan rumput laut bersama nelayan lainnya sejak tahun 2007, mengatakan seluruh rumput laut yang dikembangkan mati.
Sebelum rumput lautnya mati, setiap kali panen, yaitu setiap 40 hari, dia bisa memperoleh hasil panen sebanyak dua kuintal atau senilai Rp 2,5 juta (setiap kilogram rumput laut dijual dengan harga Rp 12.500).
Hasil dari rumput laut itu menjadi penghasilan lain dirinya saat terpaksa tidak melaut karena tangkapan ikan sepi atau ombak laut besar, seperti yang sudah terjadi sejak enam bulan terakhir. "Ikan teri atau tongkol yang kami tangkap sedikit, tidak sampai 50 kilogram sehingga hasil penjualan hanya bisa menutup ongkos melaut," tuturnya.
Sekarang ketika mayoritas rumput laut milik nelayan sudah mati, hanya sedikit nelayan yang sudah menanam kembali rumput lautnya. Sebagian besar belum memulai menanam bibit baru karena terkendala dana untuk pembelian bibit serta kondisi air dan dasar teluk yang masih kotor sehingga tidak bisa ditanami rumput laut.
Potensi rumput laut di Tawang cukup besar. Jumlah rumput laut yang dipanen bisa mencapai 12 ton setiap kali panen. Nelayan biasa menjual rumput laut tersebut ke pengepul yang datang setiap kali panen tiba. Pengepul lalu membawanya ke kota-kota besar seperti Surabaya.