Untitled Document
Minggu , 03 Mei 2026 | L O G I N |    
  home kami produk jasa berita infoharga komunitas galery transaksi  
Untitled Document
   
M e d i a  
Berita
Litbang
Publikasi
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Port Data
 
   
 
 
 
Berita / Litbang
 
 
 
Rumput Laut yang Mengubah Hidup
Kamis, 30 Apr 2009 - Sumber: Anton Muhajir (balebengong.net ) - Terbaca 5663 x - Baca: 01 May 2026
 
Ketika air di selat antara Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan makin surut, puluhan petani rumput laut dua pulau kecil di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini segera turun ke laut. Petani laki-laki membawa dua keranjang yang dipikul. Petani perempuan membawa satu keranjang yang diseret dengan bekas ban hitam sebagai alas.

Tak sedikit pula petani rumput laut yang mendayung sampan dengan galah bambu menuju areal pertanian rumput laut mereka yang terletak agak di tengah pantai. Rabu siang, sekitar pukul 1, pekan lalu air masih tersisa sekitar 30 cm sehingga mereka masih bisa mendayung sampannya.

Sampai di lahan pertanian rumput lautnya, para petani itu segera memeriksa tanaman tersebut. Bulan ini suhu air tidak terlalu bagus untuk rumput laut. Ini siklus yang terjadi tiap enam bulan sekali. Antara bulan Desember hingga Mei adalah musim hujan di mana suhu air laut jadi lebih panas sehingga merusak rumput laut.

Namun pada enam bulan lainnya adalah musim di mana petani setempat bisa mendapatkan hasil pertanian rumput laut yang jauh berlimpah. “Hidup kami bisa berbuah jauh lebih baik setelah kami bertani rumput laut,” kata I Gede Lama, petani rumput laut di Dusun Nusa Ceningan.

Perubahan yang paling jelas, menurut kelian adat Banjar Ceningan Tengah, ini adalah dari rumah warga yang sekarang sudah berdinding tembok. “Sebelum bertani rumput laut, rumah kami semua hanya berdinding batu dengan lantai tanah dan atap dari daun kelapa,” kata bapak satu anak yang akrab dipanggil Pak Bagas ini.

“Bukan hanya rumah yang sekarang bagus. Warga sini juga makin banyak yang sekolah. Sepeda motor pun jadi sesuatu yang biasa bagi kami dari yang sebelumnya adalah barang mewah,” tambahnya.

Dengan perubahan ekonomi yang makin baik, kini dari sekitar 300 kepala keluarga di Nusa Ceningan pun hampir semuanya bertani rumput laut. Jagung dan singkong di kebun kering mereka hanya jadi sampingan saat ini. Padahal sebelumnya semua warga bergantung pada pertanian lahan kering tersebut.

Meski demikian, menurut Kadek Sukadana, petani lain di Ceningan, warga setempat pada awalnya apatis pertanian rumput laut. Ketika pada 1983 ada pendatang bernama Bambang mengenalkan rumput laut jenis spinosum (Eucheuma spinosum) pada warga setempat, banyak warga yang tidak mau ikut. “Apalagi yang mengenalkan adalah orang Jawa,” tambah Lama.

Pada awalnya diperkenalkan itu hanya ada satu dua warga yang bersedia mau belajar bersama Bambang. “Kami belajar menanam rumput laut yang diikat pada tali menggunakan patok dari pohon gamal. Ketika hasilnya makin bagus, warga makin banyak yang tertarik,” ujar Sukadana.

Saat itu rumput laut spinosum dijual dengan harga Rp 1000 per kilogram kering. Meski pendapatan masih sedikit warga mulai tertarik.

Tak lama setelah itu datang lagi pendatang lain bernama Sumarso yang mengenalkan rumput laut jenis lain yaitu katoni (Eucheuma cottonii). Jenis baru ini, menurut Lama, lebih mahal dibanding jenis spinosum yang hanya dipakai sebagai bahan baku es. Sedangkan jenis katoni biasa dipakai sebagai bahan baku produk kosmetik dan obat-obatan.

Dibanding Bambang yang tinggal hanya sekitar enam bulan, Sumarso tinggal lebih lama bahkan sampai bertahun-tahun di dusun tersebut. Tak hanya mengajarkan cara budidaya, Sumarso juga mengenalkan cara pengeringan rumput laut sampai siap dijual. Warga pun semakin banyak yang bisa belajar apalagi harga rumput laut juga makin mahal. Per kilogram jenis katoni ini bisa sampai Rp 15 ribu per kilogram kering.

Makin banyaknya warga yang bertani rumput laut memunculkan masalah kepemilikan lahan. Sebab sistem kepemilikan lahan di sini, meminjam ungkapan Gede Lama, memang seperti hukum rimba. Siapa kuat dan cepat dia yang dapat. Petani yang pertama kali mengkapling lahan di pantai tersebut langsung diakui sebagai pemilik lahan tersebut meski tanpa adanya sertifikat kepemilikan layaknya lahan pertanian pada umumnya.

“Toh kami tidak pernah sampai rebutan lahan meski sistemnya kepemilikannya demikian,” tambahnya.

Menurut Lama ada dua kali masa keemasan rumput laut di Nusa Ceningan yaitu pada 1987. Karena harga dan kebutuhan rumput laut jenis katoni sangat tinggi pada saat itu maka warga pun ibarat kejatuhan durian runtuh. “Tiap hari sampai ada warga yang beli motor saking banyaknya penghasilan dari jual rumput laut,” katanya.

Masa keemasan yang kedua adalah pada Juli tahun lalu ketika harga rumput laut bisa sampai Rp 15 ribu per kilogram kering dengan kadar air sekitar 36 persen. Dengan lahan sekitar 4 are, satu petani bisa sampai mendapat Rp 100 juta per bulan. “Makanya sama seperti pada tahun 1987, tahun lalu juga tiap hari ada saja warga yang bisa beli motor dari rumput laut,” tambahnya.

Namun, akibat krisis ekonomi global, harga rumput laut kemudian jatuh hingga Rp 3000 per kilogram kering. Saat ini harga rata-rata adalah Rp 4000 per kilogram kering. Selain akibat krisis global, petani lokal juga terkena dampak siklus enam bulanan, ketika musim hujan jumlah panen pun jauh berkurang hingga hanya sepertiga pada masa puncak panen.

Selain tergantung pada situasi ekonomi global petani rumput laut di Nusa Ceningan juga tergantung pada pengepul alias tengkulak. Menurut Sukadana, harga pembelian rumput laut hanya ditentukan sepihak oleh tengkulak.

“Kami tidak bisa menjual ke tempat lain karena kami juga berhutang pada pengepul ketika kami tidak memperoleh pendapatan yang bagus. Kami kan juga butuh uang untuk makan dan sekolah anak-anak ketika musim sedang tidak bagus. Jadi ya kami berhutang ke pengepul,” kata Sukadana.

Koperasi Sarining Segara, milik warga setempat pun belum bisa dipakai untuk tempat menjual hasil pertanian rumput laut secara kolektif. “Kami tidak mungkin bisa melawan pengepul yang sudah punya modal jauh lebih besar dan jaringan pemasaran lebih luas,” ujar Lama.

“Kami sadar kami dipermainkan dan kami tidak lepas dari pengepul,” tambahnya.
 
 
 
More Berita
 
1 . Pelatihan Integrated Ulva spp. Value Chain Training
  Selasa, 28 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 53 x
2 . DPR Dukung Rumput Laut dan Singkong Jadi Pengganti Plastik Impor
  Senin, 20 Apr 2026-https://www.babelinsight.id/ - Terbaca 65 x
3 . Pengiriman Ulva sebagai Bahan Baku Industri Terus Meningkat
  Jumat, 10 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 92 x
4 . Tren Akuakultur Semakin Menjauh dari Target Iklim, Rumput Laut Ditinggalkan
  Selasa, 07 Apr 2026-https://www.suara.com/ - Terbaca 107 x
5 . KM Logistik Nusantara 5 Tambah Kapasitas untuk Dukung Pengiriman Rumput Laut
  Selasa, 31 Mar 2026-https://radartarakan.jawapos.com/ - Terbaca 114 x
6 . Kunjungan KKP ke Jasuda, Olahan Rumput Laut Sulsel Siap Naik Level
  Jumat, 27 Mar 2026-Dian Maya Sari - Terbaca 137 x
7 . Potensi Rumput Laut sebagai Sumber Energi Terbarukan
  Rabu, 25 Mar 2026-https://bahasa.newsbytesapp.com/ - Terbaca 155 x
 
 
 
More Litbang
 
1 . Pengembangan Pewangi Ruangan Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Rumput Laut dan Kulit Jeruk
  Selasa, 07 Apr 2026 - https://www.formosa.news/ - Terbaca 96 x
2 . Inovasi Hijau dari Laut: Rumput Laut Lokal Berpotensi Jadi Sumber Antioksidan dan Antibakteri Alami
  Selasa, 31 Mar 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 116 x
3 . BRIN Gali Potensi Rumput Laut dalam Pengembangan Obat Modern
  Jumat, 27 Mar 2026 - https://brin.go.id/ - Terbaca 147 x
4 . Peneliti UNDIP Kembangkan Teknologi Inovasi Pengering Rumput Laut
  Rabu, 25 Mar 2026 - https://kemdiktisaintek.go.id/ - Terbaca 151 x
5 . Cara Membuat Karagenan Rumput Laut yang Praktis
  Senin, 09 Mar 2026 - https://jualmesinrumputlaut.wordpress.com/ - Terbaca 248 x
6 . Manfaat Jelly Berbahan Rumput Laut untuk Berbuka, Dukung Asupan Serat Selama Ramadan
  Senin, 02 Mar 2026 - https://lifestyle.bisnis.com/ - Terbaca 230 x
7 . “Rumput Laut + Magnet + Biomassa E. coli” untuk Menangkap Tetrasiklin dari Air
  Senin, 23 Feb 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 236 x
 
 
Untitled Document
https://dpmn.pasamanbaratkab.go.id/ https://said.bondowosokab.go.id/ https://lejuk.belitung.go.id/ https://dinkes.sijunjung.go.id/ https://prancis.fkip.unila.ac.id/ https://dokar.dishub.grobogan.go.id/ https://tengah.magelangkota.go.id/ https://bpm.univpgri-palembang.ac.id/ https://dukcapil.sumbatimurkab.go.id/ https://laikateks.fmipa.uho.ac.id/ https://dpmd.hulusungaiselatankab.go.id/ berita hari ini produk kecantikan Belajar di Rumah Jadi Lebih Produktif Tips & Saran Ampuh Agar Nggak Cepat Bosan Peluang Bisnis UMKM Terbaru 2025 rahasia wanita mastering slot machine poker online manfaat obat kuat slot games https://ffnagajp1131.org/
http://acr.ffvelo.fr/ http://ecbc.ffvelo.fr/
SLOT GACOR # Link Login Situs Game Online Resmi & Gampang Maxwin Hari Ini BOS01 : Agen Slot Gacor Maxwin Hari Ini Provider Hits Slot88 Dan Slot777 Online 2025 BOS911 : Situs Slot Gacor Terbaru & Link Login Slot88 Resmi 2025 Bos01 Bos01 Bos911 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01
Team JaSuDa
Kerjasama Kami
Mitra Kami
Cara Pesan Produk
Berita | Litbang
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Info Harga RL
Galeri Photo
Statistik Website
Visitors 1,641,807 Kali
Member JaSuDa 10,757 Org
Buku Promosi 809 lihat
Konsultasi Online 2764 lihat
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas Tamalanrea Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2022. Hosted IDW
Asosiasi dengan SiPlanet Foundation dan Afiliasi dengan Posko UKM JaSuDa
Developed by Irsyadi Siradjuddin