
Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sulawesi Selatan (Sulsel) terus memacu program pengembangan untuk peningkatan produksi. Khusus rumput laut, target utamanya adalah menjadi produsen terbesar dunia pada 2013 dengan volume produksi 95.000 ton (kering). Saat ini, Chili masih menempati urutan pertama.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel, Iskandar, mengemukakan bahwa saat ini Sulsel sudah menjadi produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan realisasi produksi pada 2008 mencapai 74.852 ton (kering). Tahun ini diprediksi meningkat menjadi 81.064 ton, kemudian 2010 naik menjadi 84.548, 2011 sebesar 88.032 ton. Tahun berikutnya, 2012, ditargetkan mencapai 91.516 ton.
“Dengan produksi 95.000 ton kering pada 2013, berarti kita sudah mengungguli Chili yang saat ini menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia,” jelas Iskandar di ruang kerjanya, Selasa, 7 April. Menurut Iskandar, 70 persen dari produksi rumput laut Sulsel adalah jenis euchema yang dikembangkan di laut, sedangkan 30 persen adalah glacilaria yang dibudidayakan di tambak.
Selain rumput laut, kata Iskandar, DKP juga menggenjot produksi udang dan bandeng. Untuk produksi udang, 2008 lalu mencapai 17.733 ton, tahun ini diprediksi mencapai 21.498 ton, lalu pada 2010 menjadi 23.917 ton, selanjutnya 2011 sebesar 26.773 ton. Lalu pada 2012 naik menjadi 30.714 ton, dan 2013 mencapai 33.200 ton.
Sementara produksi ikan bandeng, pada 2008 mencapai 60.549 ton. Pada 2009, pihak DKP menargetkan 63.928 ton, tahun depan naik menjadi 65.207, lalu pada 2011 sebesar 66.511 ton. Kemudian pada 2012 meningkat menjadi 68.506 ton, dan 2013 mencapai 71.246 ton.
Untuk mencapai target tersebut, DKP Sulsel menjalankan program penguatan modal. “Sumbernya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulsel 2009 senilai Rp 6,2 miliar untuk budidaya udang, bandeng, dan rumput laut,” sebut Iskandar.
Sedangkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui program PNPM pada 2007 mencapai Rp 7 miliar. Juga dana dari dekonsentrasi Dinas Kelautan dan Perikanan sebesar Rp 1,05 miliar dan program stimulus melalui Departemen Pekerjaan Umum Rp 67,2 miliar. Iskandar mengaku dukungan perbankan juga sangat besar. Berdasarkan data Bank Indonesia (Januari 2009) kredit yang terserap usaha udang Rp 310,653 miliar, terdiri atas budidaya Rp 17.488 miliar (5,63 persen), perdagangan Rp 242,895 (78,19 persen), dan industri pengolahan sebesar Rp 50,27 miliar (16, 18 persen).