
Rumput laut sering di manfaatkan sebagai bahan makanan, kosmetik dan obat-obatan. Namun kini pemanfaatan rumput laut meluas mejadi bahan pewarna tekstil. Keunggulan pewarna tekstil dari rumput laut selain lebih ramah lingkungan juga memiliki tingkat kecerahan warna yang tinggi dan tidak mudah luntur.
Dosen Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang, Dr. Ab. Susanto Msc, menjelaskan,” Unsur klorofil yang dikandung rumput laut menjadi bahan utama pembuatan pewarna tekstil. “ Rumput laut memiliki biopigmen yaitu klorofil yang merupakan zat warna alami. Ada empat rumput laut yang digunakan dalam proses pewarnaan, yaitu Rhodophyceae (alga merah), Phaephyceae (alga coklat), Chlorophyceae (alga hijau), dan Cyanophyceae (alga biru-hijau).
Selain mampu menghasilkan bahan pewarna tekstil, rumput laut juga mampu menghasilkan bahan alginat yang berfungsi sebagai pengemulsi atau pengental kain sintesis. Alginat dihasilkan dari rumput laut coklat berjenis Sargassum filipendula dan Turbinaria. Alga cokelat biasanya dipilih karena jenis tersebut memiliki struktur manuronat lebih banyak serta memiliki kemampuan mengikat zat pewarna sehingga lebih mudah ditempelkan pada bahan kain.
Hal tesebut ditambahkan oleh Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Prof. Dr. Jana Tjahjana Anggadiredja, “Kedua jenis rumput laut tersebut menurut penelitian BPPT memiliki kandungan alginat antara delapan sampai 32 persen.”
Proses pembuatan pewarna tekstil dari Alginat
Awalnya, kedua jenis ruimput laut yang digunakan , yaitu Sargassum filipendula dan Turbinaria dicuci dan dikeringkan lebih dulu. Pengeringan ini bertujuan agar segala kotoran seperti pasir dan pecahan-pecahan batu karang terlepas dari rumput laut. Pencucian dilakukan dengan cara disemprotkan dengan air. Pengeringannya menggunakan sinar matahari atau alat pengering seperti drum dyer. Setelah bersih dan kering, rumput laut di cuci kembali dengan air yang dicampur dengan larutan 0,5 NaOH yang bersuhu 50-60 derajat celcius selama 30 menit.
Kemudian rumput laut direndam dalam 0,5 Hcl pada temperatur ruang selama 30 menit. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang larut dalam asam hilang dan garam-garam alginat dalam rumput laut dapat diubah menjadi asam alginat. Setelah proses itu selesai, rumput laut dicuci dengan air panas bersuhu 45 derajat celcius selama 30-60 menit, untuk selanjutnya rumput laut dipotong-potong dan diekstrasi. Proses ekstrasi dilakukan pada temperatur 60-70 derajat celcius selama 60 menit dengan larutan Na2CO3 berkadar 12 sampai 13 persen. Proses pencampuaran dengan larutan kimia terus dilakukan sampai didapat bubuk alginat.