
Keberadaan pengolahan dan pembudidayaan rumput laut di sejumlah kawasan di Kota Bau-Bau mengantarkan Walikota Bau-Bau Amirul Tamim tampil sebagai keynotspeaker pada seminar nasional pengembangan cluster rumput laut tingkat nasional, yang dipusatkan di Kota Batam 4 Pebruari kemarin. Acara yang dihelat Departemen Kelautan dan Perikanan menghadirkan sejumlah pengusaha nasional, termasuk diantaranya pengusaha asal Malaysia.
Amirul mengatakan, perhatian pusat termasuk pengusaha nasional terhadap industri rumput laut sangat besar. Pertanyaannya, kenapa harus Bau-Bau yang dijadikan model di level nasional. “Inilah yang saya sampaikan di sana. Rumput laut kita itu, hanya objek utama saja, tetapi bagaimana dukungan terhadap rumput laut, itu yang dikedepankan,” katanya.
Dukungan itu kata Walikota, diantaranya bagaimana kebijakan pemkot Bau-Bau terhadap keberadaan budidaya rumput laut, bagaimana dukungan infrastruktur Bau-Bau yang bisa menunjang para pengusaha di Bau-Bau, serta bagaimana daya dukung sektor lainnya terhadap petani rumput laut itu sendiri. “Ketika demam emas di Bombana, banyak warga Sultra bahkan diluar Sultra yang berbondong-bondong ke Bombana, tetapi petani rumput laut kita tetap bertahan, dan lebih mengandalkan industri rumput lautnya, ini menandakan bahwa pembudidayaan dan pengolahan rumput laut tidak kalah dengan emas yang ada di Bombana sana,” papar Amirul.
Amirul dalam paparannya pada acara seminar, mengajak agar para pengusaha untuk ke Sulawesi Tenggara termasuk ke Kota Bau-Bau, bagaimana melihat prospek iklim usaha di wilayah itu. “Sultra secara umum dan Bau-Bau khususnya adalah, wilayah yang mendukung para pengusaha, ini tidak lepas dari program-program riel bapak Gubernur, jadi sinergitas itu terus terbangun,” imbuhnya.
Hal lain yang disebutkan Amirul Tamim adalah usulannya ke Pusat, agar model cluster industri rumput laut di Bau-Bau dijadikan pilot project. “Intinya kita usulkan ada semacam lembaga sejenis Bulog yang bisa mengatur, menekan serta menormalisasi harga rumput laut, sehingga harga rumput laut senantiasa stabil, dan tentunya menguntungkan petani itu sendiri,” ujarnya.
Pada seminar nasional ini, dari sejumlah daerah di Indonesia yang memiliki budi daya rumput laut, hanya dua wilayah yang dijadikan cluster rumput laut di Indonesia, yakni Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, dan Kabupaten Dompu NTT, sekaligus mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara utama di seminar nasional tersebut. Sementara dari kalangan pengusaha dipercayakan kepada PT Citra Juang Lestari Jakarta. Selain pembicara tersebut, tampil juga sejumlah Dirjen dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI.