
Petani rumput laut di pulau Solor, kabupaten Flores Timur sangat antusias dengan model pemasaran rumput laut melalui E-Balai. Respons ini terungkap dalam kesempatan sosialisasi tentang E-Balai di beberapa desa di Solor pada tanggal 4 dan 5 Desember 2005 lalu. Desa-desa tersebut adalah desa Dani Wato, Kelike, dan Suleng Waseng.
Petani merespons positif model pemasaran melalui E-Balai karena selama ini mereka kesulitan untuk memasarkan rumput lautnya. Mereka baru memulai panen, tapi hasilnya masih sedikit. “Kami hampir putus asa dengan usaha menjual rumput laut ini karena kami tidak tahu harus menjualnya ke mana”, ungkap Nadus, Yance, dan Yos Siku dari desa Dani Wato dalam kesempatan pertemuan dengan Don Suban Garak dari IFC-Pensa. Bahkan mereka mengusulkan agar pihak IFC-Pensa memfasilitasi pembelian rumput laut di Solor sambil menunggu beroperasinya E-Balai nanti.
E-Balai adalah sebuah model pemasaran rumput laut dimana petani difasilitasi menjual rumput lautnya ke luar daerah bahkan ke luar negeri dengan harga yang lebih baik. Untuk itu petani harus memperhatikan kualitas rumput lautnya sehingga laku di pasaran.
Melalui E-Balai, banyak informasi seputar rumput laut seperti harga pasar di Surabaya bahkan di luar negeri, jumlah dan kualitas rumput laut yang diminta pihak pabrik, jalur perdagangan rumput laut, teknologi, dan lain-lain bisa diakses oleh petani sendiri. Dengan demikian tidak ada lagi ruang yang gelap bagi petani seperti yang terjadi selama ini. E-Balai membuat semuanya menjadi transparan sehingga orang bisa berkompetisi secara sehat.
Persyaratan beroperasinya E-Balai di sebuah wilayah, maka wilayah tersebut harus memproduksi rumput laut kering minimal 30 ton. Jumlah tersebut memang belum terjangkau oleh petani di Solor saat ini, tapi dari segi lokasi dan semangat petaninya, permintaan tersebut bisa dipenuhi. Tiga lokasi yaitu desa Dani Wato, Kelike dan Suleng Waseng bisa menjadi basis awal pengembangan rumput laut didukung oleh desa-desa lainnya yang saat ini sudah ada rumput laut sekalipun masih diusahakan dalam skala kecil.
Selain produksi minimal, syarat lain yang harus dipenuhi adalah bahwa harus ada mitra yang mau terlibat dalam E-Balai baik secara perorangan maupun kelompok/lembaga. Di Solor terdapat sekitar 30 UBSP (Usaha Bersama Simpan Pinjam) yang sudah eksis selama bertahun-tahun dan sudah terbukti bisa menopang usaha anggotanya. Kayaknya kelompok ini bisa menjadi mitra dengan E-Balai apalagi sebagian anggota UBSP juga adalah petani rumput laut.
Selain itu juga ada fasilitas pendukung lainnya seperti pelabuhan laut dan gudang di dekat pelabuhan di desa Pamakayo. Semuanya ini bisa menjadi faktor pendukung hadirnya sebuah E-Balai di Solor.