
Wakil Gubernur Kepri HM Sani menghadiri Temu Koordinasi Pengembangan Klaster Industri Rumput Laut yang diadakan di Hotel Grand Majesty, Jodoh Batam, 3 Februari 2009. Tampak hadir juga Perwakilan daerah rencana pengembangan Industri Klaster daerah yang hadir antara lain perwakilan daerah BauBau, Sumenep, Minahasa Utara, Polewali Mandar, Pangkep, Dompu, Sumbawa barat, Sumba Timur, Raja Ampat dan Kabupaten Karimun sendiri. Juga tampak para pejabat di Lingkungan Eselon I dan II Lingkup DKP dan para pelaku usaha industri rumput laut.
Wagub dalam sambutanya mengatakan, Kepri merupakan provinsi kepulauan yang banyak memiliki potensi kelautan, karena kita ketahui bahwa Provinsi Kepri merupakan provinsi yang luas lautnya lebih luas dari pada daratnya. Usaha yang digeluti masyarakat salah satunya rumput laut. Rencana pengembangan rumput laut oleh Dirjen DKP tersebut disambut baik oleh pemerintah provinsi Kepri, karena potensi rumput laut Kepri khususnya di Perairan Karimun akan banyak mendatangkan manfaat kepada daerah. Terlebih lagi dengan rencana Industri Klaster, selain akan mendatangkan pendapatan bagi daerah juga akan menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu juga, sambutan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Depertemen Kelautan dan Perikanan mengatakan seperti kita ketahui bersama bahwa dalam rencana pembangunan Menengah Nasional tahun 2004 - 2009 yang tertuang dalam Perpres no. 7 tahun 2005 dimana salah satu strategi yang di tempuh dalam program revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan. Departemen kehutanan dan perikanan menetapkan komoditas rumput laut, selain komoditas tuna dan udang, sebagai salah satu komoditas yang menjadi priortas dalam revitalisasi perikanan tersebut.
Dipilih komoditas rumput laut sebagai prioritas dalam revitalisasi perikanan karena memiliki beberapa keunggulan antara lain:
1. Indonesia memiliki potensi pengembangan ruput laut sekitar 1.1 juta Ha dan tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia,
2. budaya rumput laut mudah dikembangkan, tidak membutuhkan teknologi yang rumit, dapat dilakukan secara manual sebagian besar dikembangkan oleh pelaku usaha perikanan rumah tetangga sehingga kecenderungan bersifat padat karya dan dilakukan dalam kawasan luas,
3. rumput laut adalah sebagai salah satu komoditas ekspor hasil perikanan yang menghasilkan devisa,
4. produk asal rumput laut memiliki peluang besar yang terbuka lebar karena sebagai sumber pangan, energi dan bahan penunjang industri.
Program pengembangan klaster industri rumput laut sampai dengan TA. 2008 telah dilaksanakan antara lain di Provinsi gorontalo, Jawa Timur (jenis E. Cottonii dan hasilnya berupa Chips) dan banten (Jenis Gracilaria Sp). Pada tahun 2009 klaster industri rumput laut ini direncanakan juga akan dikembangkan pada beberapa daerah, yaitu: Kabupaten Karimun (kepri), kab. Minahasa Utara (sulut), Kab. Polewali Mandar (sulbar), kota Bau-Bau (sultra), kab. Dompu (NTB) dan kab. Sumbawa barat (NTB), kab. Sumba Timur (NTT) dan kab. Raja Ampat (Papua Barat). Terkait dengan lokasi pengembangan klaster ini, maka temu koordinasi pengembangan klaster industri rumput laut dilaksanakan di Provinsi Kepri yang merupakan daerah pengembangan klaster pada tahun 2009.