
Sejak 2004 Maumere sudah dikenal dengan sumber rumput laut yang bagus, “bibit” rumput laut “asal” Maumere bahkan sudah menyebar ke berbagai provinsi seperti Sulsel, Bali, Papua, NTB, Sumut dan Jatim. Produksi di Teluk Maumere sendiri dari tahun ke tahun meningkat mencapai rata-rata 300 ton/bulan. Wajah desa Kojadoi, salah satu desa pembudidaya di teluk Maumere sudah jauh berubah, desa yang pernah diluluhlantakkan oleh Tsunami pada akhir Desember 1992 ini, menunjukkan geliat perkembangan ekonominya melalui budidaya rumput laut.
Sekalipun listrik desa hanya mengalir pada malam hari, namun tidak menyurutkan niat para ibu untuk membeli lamari pendingin, maklumlah di pulau ini tidak ada sayuran yang diproduksi, sementara itu perahu reguler hanya beroperasi sekali seminggu. Perahu ketinting baru tampak berjejer-jejer di pantai, parabola, HP dan sejenisnya melimpah di desa ini. Warga desa ini yang dulunya bekerja di kota kini kembali ke desa untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Sungguh rumput laut terbukti mampu mengangkat status ekonomi masyarakat desa Kojadoi.
Sejalan dengan majunya usaha budidaya, koperasi simpan pinjam yang dibangun masayarakat juga makin menampakkan kekuatannya dengan menjalin kerjasama pasar dengan pabrik pengolah rumput laut di Surabaya. Mutu rumput laut yang dihasilkan dianggap “super” dibandingkan dengan rumput laut dari daerah-daerah lainnya di negeri ini. Selama menjalin bisnis dengan pabrik, tak sekalipun pernah mendapat complain soal mutu dan timbangan, mendekati sempurna bukan?
Sayangnya kondisi yang membaik ini bukan membuat penduduk di Teluk ini bersyukur, malah sebaliknya banyak yang merasa kekurangan, sehingga mencari cara untuk meraup untung lebih banyak dan lebih banyak lagi. Malapetaka datang berawal dari promosi pupuk Green Tonic (GT) yang dilakukan oleh pedagang kepada beberapa petani, secara sembunyi-sembunyi petani tersebut mencoba merendam “bibit” rumput laut di dalam cairan pupuk. Menurut pengakuan petani awalnya pertumbuhan rumput laut yang menggunakan pupuk ini terlihat sangat subur, bahkan dalam waktu 1 bulan sudah harus dipanen kalau tidak mau habis dihempas gelombang. Lama-kelamaan petani yang menggunakan Green Tonic semakin bertambah sekalipun tetap secara sembunyi-sembunyi.
Keberhasilan budidaya di Maumere bahkan mampu menarik minat pak Menteri Kelautan dan Perikanan turun langsung ke desa Kojadoi pada pertengahan 2007. Dalam diskusi dengan para petani, Pak Anepou salah satu pembudidaya yang berkomitmen tidak menggunakan GT, mengajukan pertanyaan ke Pak Menteri, “Pak apakah petani boleh menggunakan pupuk GT dalam memproduksi rumput laut”, pak Menteri menjawab, “boleh-boleh saja asal kamu tanam sampai umurnya 45 hari”.
Serasa mendapat legitimasi, maka serta merta para petani beramai-ramai ke Maumere dan memborong GT bahkan membuat bak-bak perendaman. Pedagang lokal tak mau kalah memborong lebih banyak GT dan mengkreditkankan kepada petani, bahkan ada pedagang yang mengancam tidak akan membeli hasil dari petani jika tidak menggunakan GT.
Awal penggunaan GT menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, tumbuhan terlihat sangat subur. Para petani dengan semangat yang didasari kerakusan terus membah dosis GT, mengharapkan hasil yang melimpah dalam waktu yang singkat. Pedagang di Maumere dan dari luar pulau pun ikut mendorong penggunaan GT, karena buat mereka yang penting banyak dan cepat, ternyata para pedagang tersebut bersikap lebih rakus lagi.
Petani yang comit untuk tetap tidak menggunakan GT semakin sedikit, tergerus oleh bujukan pedagang. “Kita akan mandi uang”, begitulah kalimat yang terus keluar dari mereka yang menggunakan GT, impian mereka melambung ke langit berharap akan menjadi orang yang kaya raya dan menepis kemungkinan bahwa usaha mereka akan gagal dan mereka bisa kembali menderita.
DKP dan Pemda kabupaten Sikka dengan berbagai upaya terus melarang penggunaan GT, bahkan mencabut izin usaha beberapa pedagang yang membeli produk berGT. Namun ada saja akal pedagang sesudah tak berizin, mereka melakukan transaksi di laut, yang jauh dari pengawasan petugas.
Konflik GT yang tak kalah serunya terjadi di dalam desa, mereka yang tidak menggunakan GT menjadi bermusuhan dengan mereka yang menggunakan GT, bahkan permusuhan juga terjadi di dalam keluarga, antara ayah dengan anak. Akibatnya pertemuan-pertemuan desa yang selama ini terlaksana dengan damai kini diwarnai 2 kubu yang berseberangan. Adalah pak Hanawi yang terus mengingatkan para petani pengguna GT untuk berhenti, karena kemungkinan kerusakan yang ditimbulkan di masa yang akan datang. Namun beliau mendapat begitu banyak tantangan bahkan ancaman.
“Sukses GT” ternyata hanya bertahan pada beberapa kali panen, selanjutnya “bibit” ditumbuhi lumut yang sangat tebal, membuat petani harus bekerja lebih keras. Setelah masalah lumut, bibit juga sepertinya tidak tumbuh – tetap kerdil. Pengguna GT kemudian bekerja lebih keras lagi dengan cara tiap minggu merendam kembali bibit yang sedang ditanam. Sampai akhirnya sejak awal 2008 produksi di Teluk Maumere hampir 0. Kasihan sekali petani di teluk Maumere tidak sempat menikmati harga yang meroket sampai Agustus 2008.
Dalam kunjungan Jasuda ke Teluk Maumere pada 19 Januari 09, laut di sekitar pulau Kojadoi, Dambila dan Pangabatang terlihat “kosong” hampir tidak ditemukan pelampung-pelampung penanda adanya rumput laut. Ketika kami memasuki desa tersebut, keadaannya lebih menyedihkan lagi, wajah-wajah yang putus asa, desa yang sepi dan gelap pula. Ternyata sejak setahun belakangan ini sudah lebih dari 35 KK dari Kojadoi yang bermigrasi ke Lewoleba (Kota kabupaten yang harus ditempuh dengan bus dan kapal dengan total 8 jam). Di sana mereka mencoba rumput laut untuk tetap bertahan hidup, istri-istri mereka yang selama ini menjadi mandor dalam pengikatan “bibit”, kini berbalik menjadi buruh pengikat. Anak-anak yang masih sekolah terpaksa dititipkan kepada orang-orang tua yang masih tinggal di kampung.
Mereka yang bertahan di kojadoi, kini kembali menjalani hidup yang sulit dengan memasang bubu, sementara para ibu menghabiskan waktu berjam-jam duduk menenun sarung. Alat tenun yang dulu sudah dibuang ketempat sampah kini diambil kembali untuk menopang kehidupan mereka. Listrik swadaya masyarakat yang selama ini dibanggakan kini padam karena pelanggannya tak mampu membayar iuran bulanan pembeli bahan bakar. Koperasi kehilangan pasar karena tak ada barang yang bisa diperdagangkan lagi. Seorang ibu pemilik kios di pulau ini bahkan menangis karena kiosnya terancam tutup, sebab setelah rumput laut habis, total penjualan seminggu tak lebih dari Rp 5,000,- Untunglah ada dana BOS sehingga anak-anak masih tetap bisa bersekolah.
Cerita yang lebih memilukan lagi terjadi di Dambila, dari 60an KK yang bermukim di pulau ini, kini hanya ada 8 kepala keluarga (itupun yang sudah tua-tua) yang masih bertahan di sana. Mereka yang lain sebagian besar merantau ke Bangka untuk menambang timah dan sebagian lainnya merantau ke Maluku. Cerita ini sangat ironis dengan pedagang rumput laut di pulau ini, yang meraup keuntungan berlipat dari penjualan pupuk dan rumput laut, tak heran kalau ia langsung memiliki 2 rumah mewah di kota Maumere.
Karena keserakahan segelintir orang, maka demikian mahalnya harga yang harus dibayar oleh seluruh penduduk di Teluk Maumere. Bisnis yang tak beretika sering disangka lurus, ternyata ujungnya menuju maut.
Para pedagang yang dahulu membujuk bahkan memaksa petani menggunakan GT, kini hilang tak mau peduli apalagi bertanggungjawab atas kehancuran yang dialami petani.
Belakangan ini begitu banyak pedagang pupuk (Green Tonic, Super Aci, Ronsae Super dll) yang mencoba menawarkan pupuk ke petani rumput laut, tidak saja di pesisir kota-kota kecil, mereka berdagang bahkan sampai nun jauh di pulau-pulau kecil yang tak terlihat di Peta.
Saran kami, berhati-hatilah sebab belum ada pembuktian bahwa pemupukan rumput laut dapat meningkatkan produksi dan menjamin keberlanjutan usaha. Pelajaran berharga dari pengalaman pahit petani di Teluk Maumere kiranya membuat para petani dan para pedagang berbisnis secara lebih beretika agar usaha ini bisa tetap berlanjut dan bisa diwariskan kepada anak cucu.