Untitled Document
Minggu , 03 Mei 2026 | L O G I N |    
  home kami produk jasa berita infoharga komunitas galery transaksi  
Untitled Document
   
M e d i a  
Berita
Litbang
Publikasi
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Port Data
 
   
 
 
 
Berita / Litbang
 
 
 
Menabur Impian Selangit Menuai Nestapa Panjang
Kamis, 22 Jan 2009 - Sumber: Dina Saragih - Terbaca 5831 x - Baca: 03 May 2026
 
Sejak 2004 Maumere sudah dikenal dengan sumber rumput laut yang bagus, “bibit” rumput laut “asal” Maumere bahkan sudah menyebar ke berbagai provinsi seperti Sulsel, Bali, Papua, NTB, Sumut dan Jatim. Produksi di Teluk Maumere sendiri dari tahun ke tahun meningkat mencapai rata-rata 300 ton/bulan. Wajah desa Kojadoi, salah satu desa pembudidaya di teluk Maumere sudah jauh berubah, desa yang pernah diluluhlantakkan oleh Tsunami pada akhir Desember 1992 ini, menunjukkan geliat perkembangan ekonominya melalui budidaya rumput laut.

Sekalipun listrik desa hanya mengalir pada malam hari, namun tidak menyurutkan niat para ibu untuk membeli lamari pendingin, maklumlah di pulau ini tidak ada sayuran yang diproduksi, sementara itu perahu reguler hanya beroperasi sekali seminggu. Perahu ketinting baru tampak berjejer-jejer di pantai, parabola, HP dan sejenisnya melimpah di desa ini. Warga desa ini yang dulunya bekerja di kota kini kembali ke desa untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Sungguh rumput laut terbukti mampu mengangkat status ekonomi masyarakat desa Kojadoi.

Sejalan dengan majunya usaha budidaya, koperasi simpan pinjam yang dibangun masayarakat juga makin menampakkan kekuatannya dengan menjalin kerjasama pasar dengan pabrik pengolah rumput laut di Surabaya. Mutu rumput laut yang dihasilkan dianggap “super” dibandingkan dengan rumput laut dari daerah-daerah lainnya di negeri ini. Selama menjalin bisnis dengan pabrik, tak sekalipun pernah mendapat complain soal mutu dan timbangan, mendekati sempurna bukan?

Sayangnya kondisi yang membaik ini bukan membuat penduduk di Teluk ini bersyukur, malah sebaliknya banyak yang merasa kekurangan, sehingga mencari cara untuk meraup untung lebih banyak dan lebih banyak lagi. Malapetaka datang berawal dari promosi pupuk Green Tonic (GT) yang dilakukan oleh pedagang kepada beberapa petani, secara sembunyi-sembunyi petani tersebut mencoba merendam “bibit” rumput laut di dalam cairan pupuk. Menurut pengakuan petani awalnya pertumbuhan rumput laut yang menggunakan pupuk ini terlihat sangat subur, bahkan dalam waktu 1 bulan sudah harus dipanen kalau tidak mau habis dihempas gelombang. Lama-kelamaan petani yang menggunakan Green Tonic semakin bertambah sekalipun tetap secara sembunyi-sembunyi.

Keberhasilan budidaya di Maumere bahkan mampu menarik minat pak Menteri Kelautan dan Perikanan turun langsung ke desa Kojadoi pada pertengahan 2007. Dalam diskusi dengan para petani, Pak Anepou salah satu pembudidaya yang berkomitmen tidak menggunakan GT, mengajukan pertanyaan ke Pak Menteri, “Pak apakah petani boleh menggunakan pupuk GT dalam memproduksi rumput laut”, pak Menteri menjawab, “boleh-boleh saja asal kamu tanam sampai umurnya 45 hari”.

Serasa mendapat legitimasi, maka serta merta para petani beramai-ramai ke Maumere dan memborong GT bahkan membuat bak-bak perendaman. Pedagang lokal tak mau kalah memborong lebih banyak GT dan mengkreditkankan kepada petani, bahkan ada pedagang yang mengancam tidak akan membeli hasil dari petani jika tidak menggunakan GT.

Awal penggunaan GT menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, tumbuhan terlihat sangat subur. Para petani dengan semangat yang didasari kerakusan terus membah dosis GT, mengharapkan hasil yang melimpah dalam waktu yang singkat. Pedagang di Maumere dan dari luar pulau pun ikut mendorong penggunaan GT, karena buat mereka yang penting banyak dan cepat, ternyata para pedagang tersebut bersikap lebih rakus lagi.

Petani yang comit untuk tetap tidak menggunakan GT semakin sedikit, tergerus oleh bujukan pedagang. “Kita akan mandi uang”, begitulah kalimat yang terus keluar dari mereka yang menggunakan GT, impian mereka melambung ke langit berharap akan menjadi orang yang kaya raya dan menepis kemungkinan bahwa usaha mereka akan gagal dan mereka bisa kembali menderita.

DKP dan Pemda kabupaten Sikka dengan berbagai upaya terus melarang penggunaan GT, bahkan mencabut izin usaha beberapa pedagang yang membeli produk berGT. Namun ada saja akal pedagang sesudah tak berizin, mereka melakukan transaksi di laut, yang jauh dari pengawasan petugas.

Konflik GT yang tak kalah serunya terjadi di dalam desa, mereka yang tidak menggunakan GT menjadi bermusuhan dengan mereka yang menggunakan GT, bahkan permusuhan juga terjadi di dalam keluarga, antara ayah dengan anak. Akibatnya pertemuan-pertemuan desa yang selama ini terlaksana dengan damai kini diwarnai 2 kubu yang berseberangan. Adalah pak Hanawi yang terus mengingatkan para petani pengguna GT untuk berhenti, karena kemungkinan kerusakan yang ditimbulkan di masa yang akan datang. Namun beliau mendapat begitu banyak tantangan bahkan ancaman.

“Sukses GT” ternyata hanya bertahan pada beberapa kali panen, selanjutnya “bibit” ditumbuhi lumut yang sangat tebal, membuat petani harus bekerja lebih keras. Setelah masalah lumut, bibit juga sepertinya tidak tumbuh – tetap kerdil. Pengguna GT kemudian bekerja lebih keras lagi dengan cara tiap minggu merendam kembali bibit yang sedang ditanam. Sampai akhirnya sejak awal 2008 produksi di Teluk Maumere hampir 0. Kasihan sekali petani di teluk Maumere tidak sempat menikmati harga yang meroket sampai Agustus 2008.

Dalam kunjungan Jasuda ke Teluk Maumere pada 19 Januari 09, laut di sekitar pulau Kojadoi, Dambila dan Pangabatang terlihat “kosong” hampir tidak ditemukan pelampung-pelampung penanda adanya rumput laut. Ketika kami memasuki desa tersebut, keadaannya lebih menyedihkan lagi, wajah-wajah yang putus asa, desa yang sepi dan gelap pula. Ternyata sejak setahun belakangan ini sudah lebih dari 35 KK dari Kojadoi yang bermigrasi ke Lewoleba (Kota kabupaten yang harus ditempuh dengan bus dan kapal dengan total 8 jam). Di sana mereka mencoba rumput laut untuk tetap bertahan hidup, istri-istri mereka yang selama ini menjadi mandor dalam pengikatan “bibit”, kini berbalik menjadi buruh pengikat. Anak-anak yang masih sekolah terpaksa dititipkan kepada orang-orang tua yang masih tinggal di kampung.

Mereka yang bertahan di kojadoi, kini kembali menjalani hidup yang sulit dengan memasang bubu, sementara para ibu menghabiskan waktu berjam-jam duduk menenun sarung. Alat tenun yang dulu sudah dibuang ketempat sampah kini diambil kembali untuk menopang kehidupan mereka. Listrik swadaya masyarakat yang selama ini dibanggakan kini padam karena pelanggannya tak mampu membayar iuran bulanan pembeli bahan bakar. Koperasi kehilangan pasar karena tak ada barang yang bisa diperdagangkan lagi. Seorang ibu pemilik kios di pulau ini bahkan menangis karena kiosnya terancam tutup, sebab setelah rumput laut habis, total penjualan seminggu tak lebih dari Rp 5,000,- Untunglah ada dana BOS sehingga anak-anak masih tetap bisa bersekolah.

Cerita yang lebih memilukan lagi terjadi di Dambila, dari 60an KK yang bermukim di pulau ini, kini hanya ada 8 kepala keluarga (itupun yang sudah tua-tua) yang masih bertahan di sana. Mereka yang lain sebagian besar merantau ke Bangka untuk menambang timah dan sebagian lainnya merantau ke Maluku. Cerita ini sangat ironis dengan pedagang rumput laut di pulau ini, yang meraup keuntungan berlipat dari penjualan pupuk dan rumput laut, tak heran kalau ia langsung memiliki 2 rumah mewah di kota Maumere.
Karena keserakahan segelintir orang, maka demikian mahalnya harga yang harus dibayar oleh seluruh penduduk di Teluk Maumere. Bisnis yang tak beretika sering disangka lurus, ternyata ujungnya menuju maut.

Para pedagang yang dahulu membujuk bahkan memaksa petani menggunakan GT, kini hilang tak mau peduli apalagi bertanggungjawab atas kehancuran yang dialami petani.
Belakangan ini begitu banyak pedagang pupuk (Green Tonic, Super Aci, Ronsae Super dll) yang mencoba menawarkan pupuk ke petani rumput laut, tidak saja di pesisir kota-kota kecil, mereka berdagang bahkan sampai nun jauh di pulau-pulau kecil yang tak terlihat di Peta.

Saran kami, berhati-hatilah sebab belum ada pembuktian bahwa pemupukan rumput laut dapat meningkatkan produksi dan menjamin keberlanjutan usaha. Pelajaran berharga dari pengalaman pahit petani di Teluk Maumere kiranya membuat para petani dan para pedagang berbisnis secara lebih beretika agar usaha ini bisa tetap berlanjut dan bisa diwariskan kepada anak cucu.
 
 
 
More Berita
 
1 . Pelatihan Integrated Ulva spp. Value Chain Training
  Selasa, 28 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 53 x
2 . DPR Dukung Rumput Laut dan Singkong Jadi Pengganti Plastik Impor
  Senin, 20 Apr 2026-https://www.babelinsight.id/ - Terbaca 65 x
3 . Pengiriman Ulva sebagai Bahan Baku Industri Terus Meningkat
  Jumat, 10 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 92 x
4 . Tren Akuakultur Semakin Menjauh dari Target Iklim, Rumput Laut Ditinggalkan
  Selasa, 07 Apr 2026-https://www.suara.com/ - Terbaca 107 x
5 . KM Logistik Nusantara 5 Tambah Kapasitas untuk Dukung Pengiriman Rumput Laut
  Selasa, 31 Mar 2026-https://radartarakan.jawapos.com/ - Terbaca 116 x
6 . Kunjungan KKP ke Jasuda, Olahan Rumput Laut Sulsel Siap Naik Level
  Jumat, 27 Mar 2026-Dian Maya Sari - Terbaca 138 x
7 . Potensi Rumput Laut sebagai Sumber Energi Terbarukan
  Rabu, 25 Mar 2026-https://bahasa.newsbytesapp.com/ - Terbaca 155 x
 
 
 
More Litbang
 
1 . Pengembangan Pewangi Ruangan Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Rumput Laut dan Kulit Jeruk
  Selasa, 07 Apr 2026 - https://www.formosa.news/ - Terbaca 97 x
2 . Inovasi Hijau dari Laut: Rumput Laut Lokal Berpotensi Jadi Sumber Antioksidan dan Antibakteri Alami
  Selasa, 31 Mar 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 116 x
3 . BRIN Gali Potensi Rumput Laut dalam Pengembangan Obat Modern
  Jumat, 27 Mar 2026 - https://brin.go.id/ - Terbaca 147 x
4 . Peneliti UNDIP Kembangkan Teknologi Inovasi Pengering Rumput Laut
  Rabu, 25 Mar 2026 - https://kemdiktisaintek.go.id/ - Terbaca 151 x
5 . Cara Membuat Karagenan Rumput Laut yang Praktis
  Senin, 09 Mar 2026 - https://jualmesinrumputlaut.wordpress.com/ - Terbaca 248 x
6 . Manfaat Jelly Berbahan Rumput Laut untuk Berbuka, Dukung Asupan Serat Selama Ramadan
  Senin, 02 Mar 2026 - https://lifestyle.bisnis.com/ - Terbaca 231 x
7 . “Rumput Laut + Magnet + Biomassa E. coli” untuk Menangkap Tetrasiklin dari Air
  Senin, 23 Feb 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 236 x
 
 
Untitled Document
https://dpmn.pasamanbaratkab.go.id/ https://said.bondowosokab.go.id/ https://lejuk.belitung.go.id/ https://dinkes.sijunjung.go.id/ https://prancis.fkip.unila.ac.id/ https://dokar.dishub.grobogan.go.id/ https://tengah.magelangkota.go.id/ https://bpm.univpgri-palembang.ac.id/ https://dukcapil.sumbatimurkab.go.id/ https://laikateks.fmipa.uho.ac.id/ https://dpmd.hulusungaiselatankab.go.id/ berita hari ini produk kecantikan Belajar di Rumah Jadi Lebih Produktif Tips & Saran Ampuh Agar Nggak Cepat Bosan Peluang Bisnis UMKM Terbaru 2025 rahasia wanita mastering slot machine poker online manfaat obat kuat slot games https://ffnagajp1131.org/
http://acr.ffvelo.fr/ http://ecbc.ffvelo.fr/
SLOT GACOR # Link Login Situs Game Online Resmi & Gampang Maxwin Hari Ini BOS01 : Agen Slot Gacor Maxwin Hari Ini Provider Hits Slot88 Dan Slot777 Online 2025 BOS911 : Situs Slot Gacor Terbaru & Link Login Slot88 Resmi 2025 Bos01 Bos01 Bos911 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01
Team JaSuDa
Kerjasama Kami
Mitra Kami
Cara Pesan Produk
Berita | Litbang
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Info Harga RL
Galeri Photo
Statistik Website
Visitors 1,641,816 Kali
Member JaSuDa 10,757 Org
Buku Promosi 809 lihat
Konsultasi Online 2764 lihat
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas Tamalanrea Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2022. Hosted IDW
Asosiasi dengan SiPlanet Foundation dan Afiliasi dengan Posko UKM JaSuDa
Developed by Irsyadi Siradjuddin