
Harga rumput laut merosot gara-gara resesi global. Toh, prospek pasar ekspor rumput laut tetap bagus. Bahkan ada investor dari Korea yang ingin membangun pabrik pengolahan rumput laut di Indonesia.
Beruntunglah Indonesia sebagai negara kepulauan. Ini membuat sumber daya alam laut tak pernah kehabisan stok. Salah satunya rumput laut.
Sayangnya, walaupun punya set melimpah, masih ada banyak masalah. Misalnya saja, cara pengeringan rumput laut oleh petani yang terkesan masih seadanya sehingga tidak bisa menghasilkan mutu bagus. Selain itu, penangangan petani rumput laut pun masih tumpang tindih.
Lalu, sekarang ini masalahnya bertambah lagi: pukulan dari krisis global. Maklum, sebagian besar produksi rumput laut Indonesia adalah untuk ekspor. Di tengah krisis yang melanda negara maju, khususnya Amerika dan Eropa, maka permintaan berkurang, sementara pasokan tetap atau bahkan cenderung naik. Maka, tidak aneh kalau harga rumput laut lantas merosot.
Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis bilang, harga rumput laut jenis euchema cottoni (ecottoni) yang belum diolah saat ini berkisar Rp 10.000,- per kg. Padahal, harga ecottoni ini tercatat pernah mencapai Rp 25.000,- / kg
Ecottoni ini merupakan jenis rumput laut yang biasa digunakan untuk membuat karaginan atau jelly. Rumput laut jenis ini dibudidayakan di laut. Nah, yang lain adalah jenis grasilaria yang dibudidayakan di air payau. Grasilaria inilah yang biasa dipakai untuk membuat agar-agar. Pembudidayaan ecottoni yang jauh di tengah laut membuat harganya lebih tinggi ketimbang grasilaria.
Sulawesi Selatan, Bali, Sumbawa, Jawa, dan daerah Indonesia bagian Timur masih merupakan primadona penghasil rumput laut. “Sementara pasarnya, kami ekspor ke Eropa, Amerika, China, dan Filiphina,” ujar Safari.
Rumput laut kerap dipakai untuk bahan baku pembuatan makanan, kosmetik, dan bubur kertas. Sebagai bahan baku makanan, rumput laut berfungsi untuk menjaga tekstur adonan agar tercampur dengan baik. Beberapa produk makanan yang memakai rumput laut sebagai penstabil misalnya cokelat, saus, kecap, jus, selai, roti, mayones, sirup, yoghurt, dan makanan dalam kaleng.
Menurut Safari, hampir seluruh produksi rumput laut Indonesia langsung diekspor. Tahun 2007 saja, ekspor rumput laut Indonesia mencapai 100.000 ton. Produksi rumput laut pada tahun 2008 tumbuh 10% menjadi 110.000 ton.
Mengurangi kadar air, membikin media tanam
Kurangnya disiplin dalam membudidayakan rumput laut menyebabkan mutu rumput lautnya rendah, sehingga harganya pun murah. Padahal, menurut Safari, untuk ekspor selayaknya rumput laut Indonesia memenuhi standar internasional. “Pembeli inginnya rumput laut dijermu di atas wadah biar bersih, bukan di atas pasair,” papar Safari. Selain kebersihan, pembeli juga menginginkan rumput laut yang ditanam selama 45 hari. Syarat-syarat itu tidak dipenuhi petani.
Ayus Dodi Kiranan, pendiri CV Agro Jawa Dwipa, pemasok rumput lainnya, juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, kontrol kualitas yang minim menjadi penyebab rendahnya harga beli dari petani. Jadi, tak aneh, di kala harga fluktuatif, harga beli dari petani cenderung tetap datar.
Selain itu, “Mereka minim informasi karena tidak ada koperasi,” tutur Ayus. Sehingga, harga yang terbentuk bukan ditentukan oleh petani, melainkan oleh pembeli.
Menyiasati harga yang naik turun, para pengusaha pun putar otak. Jawa Dwipa memilih cara mengajari petani proses pembudidayaan rumput laut hingga layak jual. Usaha yang berdiri sejak 2003 ini mengambil pasokan rumput laut dari pesisir laut Makassar sepanjang 50 km.
Setiap bulan, Jawa Dwipa menyediakan pasokan rumput laut sebanyak 50 ton hingga 100 ton. Dari porsi tersebut, sebanyak 60% merupakan jenis ecottoni, sedangkan 40% lainnya merupakan grasilaria.
Jawa Dwipa menjual ecottoni seharga Rp 10.000,- hingga Rp 11.000,- per kg, dengan harga beli dari petani sebesar Rp 8.000,- hingga Rp 9.000,- per kg. Sementara harga jual grasilaria mencapai Rp 4.500 hingga Rp 5.000,- per kg dengan harga beli rata-rata Rp 2.500 per kg. Dengan begitu, setiap bulan Jawa Dwipa bisa mengantongi pendapatan minimal Rp 780 juta.
Lain lagi ceritanya dengan Miftah Baharuddin Machaly, pemasok ecottoni dari Pantai Utara Jawa. Mencium gelagat harga yang tak stabil, pengusaha ini menyiasatinya dengan mengolah ecottoni biasa menjadi ecottoni tawar dan asin. Menurut Miftah, kadar keasinan ditentukan dari kandungan air yang terdapat didalamnya. Ecottoni tawar memiliki kandungan air dibawah 10%. Sementara, ecottoni asin memiliki kandungan air 30%-40%. “Semakin sedikit kadar air, semakin bagus,” ujar Miftah.
Proses pengeringan yang laam dan panjang membuat harga ecottoni ditawar lebih tinggi ketimbang rumput laut asin. Usaha yang berdiri awal tahun 2008 ini setiap bulan menyediakan pasokan 40 ton ecottoni tawar dan 5 ton ecottoni asin. Ecottoni tawar dijual Rp 50.000 hingga Rp 75.000,- per kg. dengan harga beli dari petani sebesar Rp 40.000,- hingga Rp 70.000,- per kg. Sementara ecottoni asin dijual seharga Rp 25.000,- hingga Rp 35.000,- per kg dengan harga beli Rp 20.000- hingga Rp 30.000,- per kg. Sehingga, sebulan Mifta bisa mengantongi Rp 2,1 miliar.
Berbeda lagi ceritanya dengan Iwan Setiabudi, pemasok rumput loaut dari Sulawesi. Sebulannya, Iwan memasok sebanyak 40 ton hingga 80 ton. Iwan menjual ecottoni seharga Rp 10.000,- hingga Rp 30.000,- per kg. Sementara untuk grasilaria, Iwan menjual Rp 3.000,- hingga Rp 4.000,- per kg. Selain menyediakan rumput laut bagi pabrik, Iwan juga menjual ke eksportir yang mengirimkan sebagian besar rumput laut ke China.
Tak hanya itu, ia juga menyediakan ampas rumput laut yang dibeli dari pabrik sebanyak 5 ton hingga 10 ton perhari. Ampas ini nantinya berguna sebagai media tanam atau pakan ternak. Sayangnya, Iwan enggan membocorkan pendapatannya tiap bulan. “Yang jelas, keuntungan saya bisa mencapai 20%-30% dari pendapatan,” tutur Iwan.
Pengusaha hilir pun tak mau ketinggalan menikmati fulus yang lezat. Muhammad Misbahun, pendiri sekaligus Direktur Utama PT Agar Sehat Makmur Lestari, mengatakan bahwa krisis global memang membuat klien perusahaannya mengalami kesulitan dalam mengembalikan kredit. Meski sekarang hal tersebut belum mempengaruhi permintaan Agar Sehat, namun Misbakhun khawatir kondisi ini bakal berlangsung lebih buruk pada tahun depan.
Agar Sehat mampu memproduksi 20 ton agar setiap bulan. Sebanyak 80% dari produks ini diekspor, antara lain ke Amerika Serikat (AS), sementara 20% sisanya dijual ke pasar domestik. Agar Sehat menjual bubuk agar ke pasar ekspor seharga US$ 13 per kg dan ke pasar domestik seharga US$ 9 per kg.
Agar Sehat juga memproduksi agar untuk panganan kecil berlabel AgarKita. Agar ini dijual Rp 1.700,- hingga Rp 2.000 per saset. “Harga jual kami stabil walaupun terjadi krisis,” tutur Misbakhun. Dengan begitu, ia optimis mengantongi pendapatan Rp 20 miliar.
Investor Korea Selatan
Melihat keuntungan yang menggiurkan ini, investor asing pun tertarik. Baru-baru ini, investor asal Korea Selatan (Korsel) menyatakan minatnya di bidang rumput laut. Menurut Farid Ma’ruf, Direktur Investasi dan Usaha Direktorat Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), hal ini disebabkan investasi di Indonesia masih lebih menguntungkan ketimbang membeli rumput laut di pasar global. “Membangun pabrik di sini dibanding dengan membeli barang di pasar ekspor bisa 1:4,” ujar Farid.
Ongkos transpor dan angkutan yang mahal memang membuat harga sampai di importir empat kali lipat. Itulah sebabnya, perusahaan Korea ini akan mendirikan pabrik pengolahan rumput laut untuk dijadikan bubur kertas. Selain itu, ada juga tujuh investor Korsel yang siap membiakkan duit di industri yang sama. Silahkan merumput di laut!.