
Rumput laut menjadi komoditi unggulan Sultra dibanding komoditi sektor lain seperti perkebunan, kehutanan maupun pertambangan. Penempatan sektor budidaya perikanan tersebut setelah Badan Riset Daerah (BRD) melakukan kajian.
Kemarin, lembaga kajian riset tersebut memaparkan hasil penelitian mereka dalam seminar yang di gelar di Aula Teporombua BI Kendari, kemarin.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sultra, Hotman Hutauruk, yang hadir dalam pertemuan itu, mengaku bahwa gubernur sendiri telah mencanangkan rumput laut untuk menjadi ikon komoditi Sultra. "Saya menargetkan hingga tahun 2013 penanaman rumput laut bisa mencapai 41.0500 hektar," terangnya.
Dari data yang ada di DKP Sultra tahun 2007 produksi rumput laut berkisar 57 ribu ton. Di tahun 2008 ini diprediksi peningkatan bisa dua kali lipat, karena saat ini telah dilakukan pengembangan pembudidayaan besar - besaran. "Nantinya kami akan membuat beberapa zonasi di wilayah Sultra. Seperti Buton, Muna dan Bau-bau akan dibuat dalam satu zonasi. Demikian di Kendari, Konsel dan Konawe," ujarnya.
Selama ini sebagian besar hasil rumput laut dijual dalam bentuk kering. Kedepan DKP sudah merencanakan untuk mengolah dalam produk jadi ataupun setengah jadi, agar nelayan memiliki nilai tambah. Selama ini pun sudah dilakukan pengolahan dan ada 10 jenis hasil olahan dalam bentuk makanan jadi.
Dalam pengelolaan menjadi produk jadi tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pabrik pengolahan rumput laut ini tentunya harus dikelola investor. Cara ini akan menciptakan menciptakan proses industrialisasi. Untuk itu, DKP pun sedang mengkonsep untuk membuat lokasi penggudangan dalam bentuk kawasan industri rumput laut. Sehingga jika ada investor yang ingin berinvestasi, sudah tidak repot mencari data produksi, karena stok sudah tersedia.
Demikian Pemimpin Bank Indonesia (PBI) Kendari, Lawang M.Siagian, yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, pihak bank akan menyambut rencana besar itu. Yakni kontribusinya dalam menyalurkan modal. Karena sudah sistem bank, jika di suatu daerah itu usahanya berkembang, maka bank pun akan mengikutinya. Namun semua itu tentunya harus didukung dengan sarana. "Percuma saja, program besar kalau infrastruktur tidak mendukung. Contohnya saja jalan, dari data di BI secara nasional, banyak daerah yang insfratrukturnya rusak. Untuk Sultra 53 persen jalanan rusak," paparnya.
Nantinya dalam kajian dan penelitian pengembangan rumput laut, pembenahan insfratruktur dimasukkan dalam permasalahan, untuk itu harus memasukkan Dinas Kimpraswil. "Saya yakin jika infrastruktur Sultra bagus, daerah kita ini akan maju. Perekonomian tumbuh pesat, dan akan mereduksi kemiskinan karena lapangan kerja di daerah terbuka lebar," tandas Lawang.
Sementara Kasubdin Perdagangan Luar Negeri (PLN) Disperindag Sultra, Sahibo M.SE mengatakan, jika pasar rumput laut cukup bagus. Departemen Perdagangan juga meminta agar komoditi ini digalakkan, sehingga diharapkan rumput laut bisa menjadi kontribusi bagi negara.
Selama ini lanjut Sahobo, produksi rumput laut di Sultra sudah banyak. Namun marketnya masih melalui daerah lain yaitu di Makassar dan Surabaya, sehingga semua itu tercatat di daerah lain bukan Sultra. "Kalau masalah pergudangan, Perindag sudah punya sarana pasar lelang. Wadah ini sudah bisa dijadikan link pasar bagi para nelayan," ujarnya.
Kepala Badan Riset Daerah Sultra Saemu Alwi dalam forum sama mengatakan sebagai lembaga pusat kajian pihaknya akan selalu memaparkan hasil penelitian, agar bisa dimanfaatkan dalam perkembangan daerah. "Kami tidak mau selesai penelitian, membuat laporan dan selesai adminisatrasi. Namun apa yang kami lakukan ini bisa dimanfaatkan untuk peningkatan perekonomian Sultra," paparnya.