
Rumput laut ternyata sudah menarik perhatian banker Kupang. Sampai-sampai Bank Indonesia sebagai “Pengatur” Bank dan lembaga keuangan di Indonesia memilih rumput laut sebagai salah satu prospek usaha yang dibicarakan dalam workshop ini. Bank Indonesia cabang Kupang memilih rumput laut dan garam sebagai komoditi yang an layak dikembangkan di NTT.
Dalam sesi rumput laut, hadir sebagai pembicara : Ir. Siti Adimuwarni MM (WaKadiv Kredit Program BRI, Jakarta), DR Fred Benu (Dosen Universitas Nusa Cendana), DR, Ir, Farid Widodo M, MSc (Kepala Pusat Riset dan Teknologi DKP dan Ketua Forum Rumput Laut), Ir. Cidia S Riris Lestari (Kabid Tata laksana Sumberdaya dan Sarana Badan Riset DKP).
Sebagai Pembahas : Mech Saba (Ketua Kadin NTT) dan Dominggus Paraede (Kabid Statistik Produksi, BPS NTT).
Masalah yang ditemukan, seperti yang juga ditemukan IFC-Pensa adalah akses pasar, manajemen, kualitas SDM, teknologi informasi dan permodalan. Khusus NTT investasi, produksi dan pemasaran lebih rendah dibandingkan daerah lain. Padahal sumber daya alam jauh lebih unggul.
Lambatnya pengembangan rumput laut di NTT karena orientasi pelaku usaha masih pada pengumpulan. Hal ini terlihat dari peserta yang hadir. Sebagian besar pelaku bisnis yang hadir adalah para pedagang pengumpul rumput laut di Kupang. Hal ini karena Bank Indonesia sebagai penyelenggara sulit mencari produsen / petani rumput laut yang dapat mewakili.
Petani masih bekerja sendiri-sendiri, belum ada organisasi petani rumput laut. Oleh karena itu untuk para petani harus memperkuat kelompok tani yang ada dan menjalin kerjasama antar kelompok. Dengan itu para petani akan mudah dikenal dan fihak-fihak yang berkepentingan (stakeholder) akan mudah mencari untuk bekerjasama.
Ketidak-hadiran para produsen ini sangat disayangkan. Padahal menurut para bankir, analisa usaha harus bersinergi dengan pembudidayaan, pengembangan dan pasca panen. Analisa usaha inilah yang menentukan dalam mekanisme pembiayaan oleh perbankan. Jika sudah ada kerjasama yang erat (sinergi) antara Petani rumput laut, pengumpul dan eksportir maka perbankan lebih percaya diri untuk membantu dalam hal pembiayaan.
Karena pedagang saja yang hadir, masalah harga menjadi pembicaraan yang cukup seru. Para eksportir saat ini lebih dominant dalam menentukan harga. Alasan mereka, belum ada standar mutu yang dapat menjadi patokan untuk menentukan harga. Mutu hasil produksi produksi para petani sangat bervariasi. Rumput laut kering dari Kupang, Rote, Flores, Sabu, Sumba berbeda.
Hal ini yang menyebabkan perbedaan harga di setiap tempat. Karena sebagai bahan baku industri standar mutu penting sekali untuk para pengguna (end user) pada tahap proses pengolahan rumput laut berikutnya. Standar mutu ini juga akan menaikan posisi tawar-menawar para produsen rumput laut.
Menurut para pengumpul teknis penanganan rumput laut juga masih kurang dalam hal pencegahan hama dan penanganan paska panen (cara pelepasan dari tali dan penjemuran.) Jika hal ini bisa diperbaiki posisi harga dapat dinaikan karena mutu menjadi tolok ukur untuk penawaran pada eksportir.
Saripati dari workhop ini adalah perlu adanya jalinan komunikasi yang lebih baik antara petani rumput laut (produsen), Pengumpul, Eksportir dan lembaga keuangan. Agar masing masing dapat menjalankan fungsinya dan bersinergi. Sehingga lebih optimal.