
Matheus (depan) dan Gotlif (belakang) merupakan petani rumput laut yang sukses membudidayakan kekayaan alam setempat. Dalam sebulan mereka meraup pendapatan Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.
atheus Tambaru senang bukan main. Sejak aktif membudidayakan rumput laut, dia mengaku, pendapatannya menjadi berlipat-lipat. Bahkan, pria yang sebelumnya berprofesi nelayan itu, kini mampu menyekolahkan anak-anaknya, membeli parabola, dan membangun rumah. Singkatnya, Matheus mampu hidup mapan dari bertanam rumput laut. Padahal, ketika menjadi nelayan, Matheus hanya memperoleh untung Rp 40.000 per bulan. Jangankan untuk menyekolahkan anak, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja dia mengaku masih kesulitan.
"Tetapi sekarang, pendapatan saya mencapai Rp 6 juta per bulan pada masa panen atau normalnya Rp 2-3 juta per bulan hanya dengan budidaya rumput laut," kata Matheus ketika ditemui SP di Desa Kuli, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.
Awalnya, Matheus hanya mengandalkan jaring nelayannya untuk menangkap ikan. Dari hasil tangkapannya itulah, dia memperoleh pendapatan sekitar Rp 40.000 per bulan. Pendapatan itu kemudian digunakannya untuk kehidupan sehari-harinya bersama istri dan enam anaknya.
Pada tahun 2004, Matheus menginjakkan kakinya ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, guna mempelajari cara bertani rumput laut dan mengikuti serangkaian pelatihan. Berkat ilmu itulah, dia mulai tergerak untuk mempraktikkan budidaya rumput laut di desanya, di Pulau Rote.
Hasilnya, dua kaveling seluas masing-masing 50 meter x 30 meter telah dimiliki Matheus. Dari dua kaveling itu, dia mampu menghasilkan rumput laut kering sebanyak 500 kilogram, yang kemudian dia jual dengan harga normal Rp 7.500 per kg.
"Pada masa panen normal, saya mampu mengantongi Rp 2-3 juta. Tetapi, kalau harganya naik seperti bulan kemarin, sempat Rp 22.500, saya bisa mengantongi Rp 6 juta," ujarnya.
Alhasil, bukan hanya kebutuhan makan sehari-hari keluarganya yang saat ini bisa dia penuhi, tetapi juga membangun rumahnya. Bahkan, Matheus dan keluarganya bisa menonton siaran televisi nasional dengan parabola yang baru dibelinya.
"Selain itu, dari enam anak saya, sekarang tiga di antara mereka sudah duduk di bangku sekolah," tegasnya.
Matheus mengungkapkan, untuk memulai budidaya rumput laut, modal yang dia butuhkan berkisar Rp 3 juta untuk satu kaveling. Uang itu digunakannya untuk membeli tali dan bibit. Tetapi, tali itu pun bisa digunakan berulang- ulang, sehingga modal kedua dan ketiga akan lebih murah lagi.
"Apalagi sejak 2007 lalu, badan kemanusiaan World Vision Indonesia (WVI) terus memberikan bantuan bibit dan tali, serta pendampingan untuk pengembangan budidaya rumput laut," tutur Matheus.
Di samping itu menurut dia, bertani rumput laut lebih mudah dan banyak mendatangkan keuntungan. Itu sebabnya, banyak petani padi dan bawang di desanya yang kini beralih profesi menjadi petani rumput laut.
"Bertani rumput laut ini, sekarang menjadi mata pencaharian utama saya, dan nelayan menjadi sampingan. Rata-rata petani di sini juga demikian. Mereka tetap bertani padi dan bawang, tetapi menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian utama mereka," tegasnya. Sebab dengan budidaya rumput laut, minimal pendapatan yang bisa diperoleh petani mencapai Rp 1 juta. Itu pun terjadi, hanya jika masa panen sedang buruk.
Matheus mengatakan, selama satu tahun, dia dapat menuai keuntungan dari lima kali masa panen. Sepanjang Januari hingga Mei, dia terus menanam, dan berhenti pada Juni, Juli, dan Agustus. Kemudian, dia lanjutkan lagi pada September, Oktober, November, hingga Desember.
"Selama tiga bulan saya tidak bertani rumput laut, yakni pada Juni, Juli, dan Agustus. Biasanya, saat itu saya kembali menangkap ikan. Tetapi selebihnya, saya bertani rumput laut," tutur dia.
Prospektif
Budidaya rumput laut petani di Desa Kuli merupakan salah satu proyek binaan World Vision Indonesia yang termasuk dalam program kemanusiaan Lintas (Livinghood Nusa Tenggara Timur Seaweed).
Area Development Manager (ADP) Rote WVI, Sugiarto Atmodjo mengatakan, proyek Lintas ini dilakukan di enam desa di Pulau Rote, yaitu Desa Tesabela, Kuli, Oelua, Oelolot, Oenitas, dan Mbueaen dengan jumlah keseluruhan petani mencapai 644 orang yang terbagi dalam 20 kelompok.
"Kami melihat, dengan budidaya rumput laut ini dampak ekonomi yang diberikan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani rumput laut," ujar Sugiarto.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia Kupang, pemanfaatan lahan untuk budidaya rumput laut di Kabupaten Rote Ndao mencapai 2.714,98 hektare (ha) dan tersebar di enam kecamatan dan 31 desa. Dari total lahan yang dimanfaatkan, tahun 2003 saja mampu menghasilkan 1.935 ton rumput laut kering dan meningkat menjadi 3.964 ton pada 2004.
Kemudian tahun 2005, terjadi peningkatan pemanfaatan lahan budidaya sebesar 1,8 persen menjadi 3.298 ha dengan produktivitas rumput laut kering hingga 5.086 ton. Dari jumlah tersebut, tenaga kerja yang mampu terserap mencapai 7.146 orang.
Prospek usaha budidaya rumput laut di NTT dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Hal ini terbukti dari meningkatnya permintaan bahan baku rumput laut kering, baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu, permintaan dan nilai jual rumput laut juga terus meningkat, dari sekitar Rp 600 per kg pada 1998 menjadi RP 4.500-Rp.5.000 per kg pada 2006. Demikian pula usaha budidaya rumput laut di Pulau Rote, yang jumlah produksinya masih belum mampu memenuhi permintaan pasar.
Kebanyakan jenis dan metode rumput laut yang dibudidayakan di perairan Rote, yaitu Eucheuma cottonii dari divisio algae merah dan marga eucheuma. Jenis ini umumnya tumbuh di daerah pasang surut atau daerah yang selalu terendam air, melekat pada substrat di dasar perairan.
Teknik budidaya yang paling umum digunakan, yaitu teknik rakit apung dan long line. Metode long line, selain murah dalam investasinya juga paling sederhana dalam pengaplikasiannya, dan juga metode ini relatif aman dari predator, seperti bulu babi. Kendati demikian, metode long line juga rentan terhadap gelombang dan angin cukup keras yang dapat mengakibatkan penurunan produktivitas petani.
Saat ini, kendala yang banyak dialami petani rumput laut, yaitu hama parasit. Hama yang kerap menyerang tanaman mereka adalah ice-ice. "Hama ini sangat mengganggu karena, selain belum dapat menemukan cara untuk memberantasnya, rumput laut sangat sensitif dan mudah terserang hama ini," tutur Yohanes Anabukai, salah satu petani rumput laut dari Desa Kuli. Hama ice-ice, sambungnya, membuat batang-batang rumput laut patah. Akibatnya, rumput laut tidak dapat tumbuh dengan baik dan produktivitas petani menurun.