
RUMPUT laut ternyata tak hanya bermanfaat sebagai bahan pangan dan kosmetik, namun bisa menjadi sumber bagi bahan bakar nabati (BBN) dengan kadar minyak tinggi. Pengembangan komoditas inipun ramah lingkungan.
Untuk itulah, kini Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), menjajaki kerja sama dengan Korea Institute of Industrial Technologi (KITECH) memanfaatkan rumput laut sebagai sumber bioenergi. Penandatanganan kerja sama ini pada akhir tahun.
Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Soen’an Poernomo mengatakan, saat ini sudah ada tiga tempat yang menjadi daerah penghasil rumput laut di Indonesia. Ketiga kawasan ini siap dikembangkan sebagai bahan baku bioenergi adalah Maluku seluas 20 ribu hektare (ha), Belitung 10 ha dan Lombok secara bertahap.
“Kerja sama ini akan mempertemukan kebutuhan dan potensi dua pihak yang saling menguntungkan. Korea Selatan telah memiliki teknologi untuk memanfaatkan rumput laut lengkap dengan grand strategi, road map, model dan kegiatannya. Sedangkan kita siap dengan sumber bahan baku yang melimpah,” katanya di Jakarta, Senin(3/11).
Dia mengatakan, untuk menghasilkan 58,700 liter minyak diperlukan 4,5 meter area tanaman rumput laut di darat sebagai penampung atau persiapan.
Indonesia memiliki kawasan budidaya rumput laut seluas 1,1 juta hektare. Jenis yang diminati pasar ialah euchema sp, euchema cottonii, dan gracilaria sp.
Saat ini, dari Korea Selatan sudah ada tujuh investor yang bersedia mengembangkan rumput laut sebagai bahan bakar. Meski dana yang dibutuhkan besar tetapi dalam waktu panjang pengembangan akan bermanfaat bagi lingkungan. “Biaya produksi yang dikeluarkan US$2 per liter tetapi untuk tiga tahun mendatang bisa menjadi US$1 per liter. Sekarang tidak efisiensi tetapi ke depan bagus. Rumput laut ini kandungan minyaknya sangat tinggi.”