
Sesaat setelah pembicaaran dimulai dalam satu kelompok di salah satu rumah tokoh masyarakat yang membicarakan tentang bibi baru yang berasal dari maumere dengan serentak peserta diskusi mengucapkan “oh bibit bangko ya”. begitulah bibit ini dikenal di tengah masyarakat di Dusun Manyumbeng dan Ujung Loe, Desa Biringkassi, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Nama bibit bangko diambil dari salah seorang petani yang berasal dari Dusun Ongkoa, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Selain karena Dg Bangko yang membudidayakan lebih awal di Takalar sehingga petani dari daerah lain yang mengambil bibit dari ongkoa menyebutnya saja bibit bangko. Bibit bangko ini sebenarnya bernama Kappaphycus alvarezy (trade name : Cottonii).
Memang benar adanya bahwa bibit yang dibawa ke Dusun Ujung Loe dan Manyumbeng tepatnya hari Jumat, 11 Nopember 2005 ini adalah bibit yang diambil dari dusun Ongkoa. Sesampai di kedua dusun tersebut, Karaeng Lau sebagai tokoh masyarakat di Dusun Ujung Loe membuat kesepakatan bahwa bibit yang datang berkisar 500 kg akan dibagikan rata kepada setiap petani sehingga diperkirakan bahwa setiap petani akan memiliki satu bentang bibit cottonii baru tersebut.
Karaeng Lau pun langsung mengambil nama-nama petani yang sudah tersusun pada pertemuan sebelumnya serta merta memasang alat timbangan (local name : dacing). Iyya, allei asengngi mae karongnu nampa nibageoki tasampulonu kilo se’re tau, petunju’na lemba ngasemaki nipakainga battu ristafna PENSA”. Itulah sepenggalan kalimat dari Karaeng Lau yang semakna dengan “ok, setiap petani akan mendapatkan satu karung (sack), setiap orang akan dapat 10 kg, cara pengikatan bibitnya sesuai dengan penjelasan dari staffnya PENSA”.
Satu persatupun maju dan mengisi karungnya. Kemudian Karaeng Lau menimbangnya sendiri. Satu demi satu datang sampai bibit habis terbagi semuanya dan akhirnya 42 petani mendapatkan bibit cottonii baru. Kamaluddin (Fasilitator Lapangan) yang mendampingi petani dengan serta merta mengeluarkan alat timbangannya untuk memberikan contoh kepada petani bahwa idealnya setiap ikatan bibit mempunyai berat 200 gram namun kalau talinya terlalu kecil diusahakan minimal 100 gram dengan jarak tanam 15-20 cm perikat-nya. Melihat tali (bentang) mereka kecil (tali ukuran no. 3) maka mereka hanya mengikatnya 100 gram saja persimpul.
Demikian juga di Dusun Manyumbeng, setelah bibit sampai di dusun tersebut masyarakat yang sudah ikut pada pertemuan sebelumnya berlomba-lomba membawa karungnya untuk diisi dengan bibit. “Iyya, inakke sikarong bageangku, teammako timbangi”. Karena semangat mereka untuk ingin memiliki bibit cottonii baru tersebut tanpa sadar terucaplah kalimat yang semakna dengan “satu karung untuk saya, tidak usah ditimbang”.
Saipul (REDC) mengingatkan kembali kesepakatan pada pertemuan sebelumnya bahwa setiap orang akan mendapatkan bibit yang sama jumlahnya agar setiap petani memiliki 1 bentang bibit cottonii baru. Karaeng Simbung pun sebagai yang dihormati juga menambahkan penjelasan tersebut “kan kanne bibit beru petunjuk berutongisse, nipinawang tongisse petunj’na tauwwa supaya na berhasil, jai wasselena” semakna hal tersebut yaitu “Ini kan bibit baru dengan petunjuk baru juga, petani harus mengikutinya supaya bisa berhasil dan hasilnya banyak”. Satu-persatupun datang dengan membawa karung dan bentangnya untuk diisi dengan bibit cottonii. Walhasil 22 petani mendapatkan bibit cottonii baru.
Sebagian diantara mereka mengikat ditempat bibit dibagikan dan sebagian lagi membawanya pulang kerumah untuk diikat. Namun sebelum mereka pergi sudah diberikan petunjuk pengikatan bibit tersebut. Meskipun sudah diberitahukan caranya, namun tetap harus didemonstrasikan besarnya bibit, jarak pengikatan ditempat tersebut.
Demikian juga halnya uji coba (trial) yang dilakukan di Desa Sapolohe, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba (185 km arah selatan dari Makassar). Bibit yang di bawa dari Mattoanging, Kecamatan Bissapu, Kabupaten Bantaeng tiba pada pukul 11.56 tepatnya hari Selasa, 22 Nopember 2005. Bibit pun dibagikan kepada petani, sebagian ada yang membawa pulang kerumah dan sebagian lagi mengikatnya ditempat pembagian bibit. Pak Subair sebagai tokoh masyarakat sibuk membantu memberikan penjelasan cara pengikatan bibit dari berat bibit sampai jarak ikatan perbibitnya. Walhasil 35 orang petani mendapatkan bibit cottonii baru. Jumlah bibit yang dibawa adalah 500 kg.
Setiap petani yang telah selesai mengikat dalam satu bentang maka diharuskan untuk menimbangnya supaya diketahui berat awal bibit. Bertanyapun berkisar 12 kg perbentang dengan panjang bentang 15 depa’ (berkisar 20 m). sesuai dengan perjanjian antara petani bahwa bila bibit ini berhasil maka setiap petani yang kebagian bibit cottonii baru mempunyai kewajiban untuk memberikannya kepada petani di tetangganya minimal sebanyak yang diberikan secara cuma-cuma juga.