
Program pengembangan kawasan budi daya rumput laut di pantura, memang sebenarnya sudah terlambat. Hal itu disebabkan secara teori, air di kawasan tersebut keruh. Namun setelah dilakukan penelitian, kini budi daya itu bisa dikembangkan.
Demikian diungkapkan Direktur Produksi Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Ir. Iskandar dalam acara "Temu Lapang Pengembangan Kawasan Budidaya Rumput Laut", di Desa Mayangan, Kec. Legonkulon, Kab. Subang.
Untuk itulah, lanjut dia, kini di kawasan pantura ada tiga wilayah yang akan dijadikan percontohan pengembangan budi daya rumput laut, yakni di Kab. Subang dan Indramayu (Jabar), serta Kab. Pemalang (Jateng).
Di Kab. Subang akan dikembangkan rumput laut jenis kotoni, yakni rumput laut yang dibudidayakan di lautan. Selain itu, akan dikembangkan juga rumput laut jenis grasilaria yang dibudidayakan di areal tambak.
"Untuk program ini, DKP memberikan bantuan kepada petani, berupa rumput laut, udang, bandeng, dan bantuan sosial lain," kata Iskandar.
Dalam kesempatan itu, Bupati Subang Maman Yudia mengatakan, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu para petani secara ekonomi. Untuk itu, ia mengucapkan terima kasih kepada DKP pusat dan propinsi yang masih konsisten memberikan bantuan kepada para petani.
Sementara itu, Kepala Seksi Budidaya DKP Prov. Jabar, Ratman Herliawan A.Pi., menyarankan agar petani melakukan pola penggabungan (polyculture) dalam budi daya rumput laut di areal tambak. Caranya yakni dengan memelihara udang dan ikan bandeng secara bersamaan di areal tersebut. "Dari penelitian, hasil penggabungan itu akan lebih menguntungkan," ujarnya.
Sedangkan Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kab. Subang, Wahyu Hidayat A.Pi., S.Pd., mengharapkan agar para petani lebih serius dalam mengembangkan budi daya rumput laut tersebut karena prospeknya cukup bagus. "Saat ini sudah ada perusahaan yang siap menerima hasil rumput laut dari petani," ujarnya.