Bandar Lampung, Kompas - Lemahnya pengetahuan mengenai teknologi pengolahan berakibat nilai tambah produk yang dapat dinikmati nelayan menjadi minim. Dukungan teknologi pengolahan dan pembinaan budidaya mendesak dilakukan untuk memaksimalkan potensi rumput laut Lampung Selatan.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung Selatan Syahroni, Minggu (2/11), mengatakan, nelayan rumput laut di Lampung Selatan tidak memiliki pengetahuan mengenai teknis pengolahan pascapanen. Akibatnya, harga jual produk sering kali tertekan dan tak stabil.
Nelayan rumput laut Lampung Selatan terbiasa mengolah rumput laut dengan cara tradisional. Mereka memanen rumput laut dan mengeringkan, lalu dijual. Satu kilogram rumput laut dihargai Rp 4.000-Rp 7.000 oleh pedagang pengumpul.
Syahroni mengatakan, proses pengeringan memang tergantung pada cuaca. Akan tetapi, apabila nelayan jeli, dengan mengeringkan secara benar rumput laut bisa dijual dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000 per kilogram.
”Dengan harga penjualan sebesar itu, nelayan sudah mendapatkan harga bagus. Tinggal bagaimana membuat pencapaian harga itu stabil,” ujar Syahroni.
Kaya potensi
Menurut Syahroni, rumput laut berpotensi diolah menjadi bahan baku beragam jenis produk, seperti kosmetik, obat-obatan, makanan, pewarna tekstil, hingga minuman. Akan tetapi, nelayan rumput laut di Lampung Selatan belum mampu mengolah rumput laut sehingga memiliki kualitas sesuai standar bahan baku aneka produk tersebut.
”Lemahnya pembinaan dan dukungan teknologi pengolahan membuat nelayan rumput laut Lampung Selatan belum bisa memenuhi kualitas rumput laut yang diinginkan konsumen,” ujar Syahroni.
Selama ini nelayan rumput laut sudah terbiasa dengan kondisi di mana pedagang pengumpul membeli dan membawa rumput laut produksi mereka. Para pedagang pengumpul itulah yang kemudian sedikit mengolah rumput-rumput laut yang dibeli dari nelayan sebelum menjualnya kepada produsen kosmetik dan obat-obatan. Sebagian besar rumput laut itu dijual ke Jakarta.
Menurut Syahroni, HNSI Lampung Selatan berupaya bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Selatan. Kerja sama tersebut bertujuan untuk menyediakan tenaga pembina budidaya dan teknologi pengolahan.
”Peran serta pemerintah untuk memerhatikan nelayan rumput laut dari aspek pembinaan dan dukungan,” ujarnya.