
Makassar – Departemen Kelautan dan Perikanan terus memacu budidaya rumput laut. Tahun depan, produksi ditargetkan mencapai 1,9 juta ton untuk memenuhi kebutuhan nasional dan permintaan ekspor.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi menjelaskan, 2005 lalu, produksi rumput laut nasional sebanyak 910.636 ton dari target 993.000 ton. Produksi 2006 naik menjadi 1.079.850 ton dari target 1,1 juta ton. Dan target produksi 1,9 juta ton 2009 dinilai sangat realistis.
”Indonesia memiliki areal budidaya rumput laut 1,1 juta hectare, yang sudah dimanfaatkan 222.180 hectare atau 20 perswen dari areal potensial,” kata Freddy saat membuka First Indonesia Seaweed Forum (ISF) di Hotel Clarion, Selasa 28 Oktober. Turut hadir Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, beberapa dirjen terkait, serta pengusaha dan produsen rumput laut dari beberapa negara tetangga.
”Kita bisa memperbesar produksi karena potensi lahan kita mendukung. Permintaan pasar terhadap rumput laut juga terus naik sehingga dapat memberikan pemasukan bagi daerah,” tutur Freddy.
Selain makanan, dengan teknologi yang sedang dikembangkan, rumput laut saat ini sudah bisa diolah sebagai sumber energi untuk bahan biofuel. Bila diolah dengan baik, maka mampu menghasilkan bahan biofuel yang lebih besar.
Menurut hitungan Freddy, setiap hektare rumput laut mampu menghasilkan 58.700 liter (30 persen minyak) per tahun. Sementara jagung hanya mampu memproduksi biofuel sebanyak 172 liter pertahun, dan kelapa sawit 5.900 liter pertahun.
Sebelumnya, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, lahan potensi rumput laut di Sulsel masih sangat luas, kira-kira 250 ribu hektare di sepanjang 1.973 kilometer garis pantai Provinsi Sulsel. Dari areal hektare tersebut, baru 10-20 persen yang dimanfaatkan.
Untuk produksi, pada 2005 baru mencapai 50 ribu ton, meningkat 15 ribu ton menjadi 65 ribu ton pada tahun 2006. ”Meski masih terbilang baru dikembangkan, komoditas ini bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi Sulsel,” Kata Syahrul.
Tekad Pemprov Sulsel sambung Syahrul, adalah berupaya untuk mendekatkan industri pengolahan dengan sumber produksi untuk memberi nilai tambah, kualitas, dan harga bagi masyarakat Sulsel terutama petani.