JAKARTA : Kendati terdapat sedikitnya 670 jenis rumput laut di seluruh Indonesia, namun baru 2 jenis rumput laut yang sudah dibudidayakan secara luas, yaitu
Eucheuma cottonii dan
Glacilaria spp.
Jenis
Glacilaria spp, umumnya untuk agar-agar dan sebagian besar (80%) diserap industri dalam negeri. Sedangkan
Eucheuma cottonii yang dimanfaatkan untuk kosmetik dan farmasi, sebagian besar diserap untuk ekspor.
“Karena baru dua jenis tersebut yang memiliki potensi pasar sehingga dibudidayakan secara luas. Sedangkan, sebagian besar jenis rumput laut lainnya belum dimanfaatkan kendati terdapat lebih dari 670 jenis di seluruh Indonesia,” ujar Prof. Dr Rachmaniar R. Apt, peneliti Puslit Oseanografi LIPI di Jakarta, Senin (13/10).
Hingga saat ini, LIPI sudah meneliti lebih dari 100 jenis rumput laut, dan sebagian diantaranya memiliki potensi untuk dibudidayakan. “Sekitar 30 jenis diketahui memiliki potensi melimpah di habitatnya, sehingga tinggal dimanfaatkan. Namun, beberapa diantaranya hanya sedikit jumlahnya kendati memiliki potensi market sehingga harus dibudidayakan,” ujarnya.
Dari hasil penelitian skala laboratorium, diketahui beberapa jenis rumput laut memiliki waktu lama untuk dibudidayakan. “Jenis
Sargassum misalnya, memiliki waktu panen lebih lama dari
E. cottonii yang memiliki masa panen 45 hari,” ujarnya.
Namun demikian, kendala budidaya tersebut, kata Rachmaniar, bisa diterobos melalui pendekatan bioteknologi.