
Rumput laut telah menjadi komoditas primadona bagi warga Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar. Tak heran, kebanyakan warga berlomba-lomba membudidayakannya.
Pulau Tanakeke menjadi salah satu daerah di Kabupaten Takalar yang masih butuh pembenahan. Meski taraf hidup masyarakat di daerah itu relatif bagus, namun fokus pengembangan masih terus dilakukan, terutama pengembangan usaha rumput laut.
Hal inilah yang memicu Pemerinah Kabupaten Takalar menjadikan tempat ini sebagai leading sector produksi rumput laut. Betapa tidak, komoditas unggulan di daerah itu menjanjikan untuk peningkatan taraf hidup dan ekonomi warga.
Ketua Tim Koordinasi Perencanaan Pembangunan Daerah Tertinggal (TK-P2DT) Takalar, Nirwan Nasrullah, mengatakan Program P2KP-DT yang dicanangkan pemerintah pusat memang dipusatkan untuk daerah kelautan. Alasannya, rumput laut di Takalar telah menjadi komoditas unggulan daerah.
”Saat ini memang kita fokus pada terbangunnya kawasan produksi berbasis komoditi unggulan. Untuk Takalar, pemerintah pusat mengucurkan anggaran khusus pengembangan rumput laut,” jelas Nirwan.
Program tersebut baru kali pertama diarahkan ke daerah yang dijuluki Butta Panrannuangku itu. Realisasinya, pemerintah setempat telah membentuk kelompk warga yang menjadi ujung tombak.
Sebagai langkah awal, pihaknya menempatkan program itu pada dua wilayah kecamatan; Sanrobone dan Mappakasunggu. Kemudahan operasional terbantu dengan terbentuknya enam kelompok pada masing-masing kecamatan itu.
Di kecamatan Mappasunggu misalnya, ada empat kelompok yang sudah dibentuk. Mereka tersebar di Desa Takalar, Maccini Baji, dan Mattiro Baji. Untuk Sanrobone mendapatkan jatah dua kelompok yang ditempatkan di Lagaruda.
”Masing-masing kelompok beranggotakan 25 orang. Totalnya ada 150 orang yang akan didampingi tenaga ahli perikanan dan kelautan selama tiga bulan,” urai Nirwan.
Anggaran proyek, Nirwan mengaku mendapat kucuran sebesar Rp 760 juta. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pemenuhan sarana dan prasaran setiap kelopok.
Secara rinci, setiap kelompok akan mendapatkan bantuan berupa bibit rumput laut sebesar 865 kilogram, 9.000 botol pelampung, enam perahu, 260 kilogram tali bentangan, serta enam lembar terpal atau penjemuran.
Dari total anggaran, sedikitnya Rp 724 juta untuk biaya pengadaan sarana, sisnya, Rp 34 juta untuk operasional pendampingan. Setiap kelompok menghabiskan anggaran Rp 116 juta.
”Dari bantuan itu, setiap anggota kelompok akan menggarap minimal dua hektare lahan rumput laut.” Kata Ketua Pokja, Nurhidayat.
Dengan demikian, diperkirakan lahan rumput laut untuk kelangsungan proyek tersebut mencapai 150 hektare. ”Banyak petani rumput laut yang tidak bisa menggarap keseluruhan lannya, sehingga dengan bantuan ini lahan yang belum tergarap akan dirampungkan,” tambahnya.
Atas bantuan itu, seorang warga Dusun Camba Loe, Desa Mattiro Baji, Dg Bonto sangat bersyukur. Dia menceritakan, selama ini para petani rumput laut kesulitan mengembangkan usaha lantaran keterbatasan sarana.
“Kesulitan yang kami hadapi adalah kurangnya tali bentangan dan tempat penjemuran,” terang lelaki berusia 45 tahun ini.
Dia mengharapkan, Pemkab Takalar dapat merealisasikan bantuan tersebut. Selain tali dan tempat jemuran, Dg Bonto juga mengaku kesulitan mendapatkan modal usaha.
Bibit rumput laut diakuinya sangat mahal. Untuk satu kilogram, warga harus menguras koeck Rp 2.500,-. Menurut dia, bibit yang digemari warga untuk diproduksi adalah jenis cottonii warna coklat. ”Pendapatan kami sebulan biasanya Rp 500 ribu. Itu jika bibit yang kami gunakan adalah bibit unggulan,” sebut Dg Bonto.