JAKARTA-Harga jual kertas berbahan dasar kayu semakin merangkak naik. Padahal, luas hutan di Indonesia semakin menyusut. Dari data produksi tahun 2007, 1 ton pulp memerlukan 4,5 meter kubik kayu bulat, dan pada tahun tersebut dibutuhkan 24 juta meter kubik kayu bulat. Untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan sekitar 300.000 ha hutan alam.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengkaji budidaya rumput laut jenis Gelindium sebagai bahan dasar kertas. Tim BPPT dari Jakarta sedang melakukan survey di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. "Jika budidaya tersebut berhasil maka tahun 2009 investor dari Korea Selatan akan melanjutkan pengembangan kertas berbahan baku rumput laut di Indonesia," kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Prof. Dr. Jana T. Anggadiredja di Jakarta kemarin ( 10/10).
Produksi kertas dari bahan rumput laut sudah dilakukan di Korea Selatan, tapi karena negara tersebut wilayahnya kecil, maka mereka ingin mengadakan kerjasama dengan Indonesia. BPPT sedang mencari lokasi yang baik, dan kemudian mencari bibit yang bagus.
Menurut Jana, BPPT melakukan survei di Pulau Rote karena kondisi pulau tersebut dinilai cukup baik untuk budidaya rumput laut jenis itu. Jenis rumput laut Gelindium juga dapat digunakan sebagai bahan pangan berupa agar-agar. "Seratnya lebih bagus dari rumput laut jenis Gracilaria jadi kuat untuk bahan kertas," katanya.
BPPT akan memproduksi agar-agar lebih dulu, kemudian ampasnya nanti yang akan menjadi bahan baku kertas."Jadi kita bisa memenuhi kebutuhan pangan dan kertas, sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui, katanya.
Selain jenis Gelindium, BPPT juga meneliti rumput laut jenis Makro Algae (sejenis ganggang hijau kecil) yang juga akan dikembangkan menjadi bahan alternatif kertas."Seratnya lebih unik dibandingkan Gelindium, kalau untuk Makro Algae tahapannya masih uji lab," katanya.
Pertumbuhan industri kertas dan bubur kertas (pulp) pada tahun ini diprediksi bakal melambat dibanding tahun sebelumnya. Penyebabnya akibat kenaikan harga bahan baku dari dalam dan luar negeri. Data dari Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, produksi pulp akan turun menjadi 5,93 juta ton dari sebelumnya 5,85 juta ton. Sedangkan produksi kertas akan naik menjadi 8,58 juta ton dari sebelumnya 8,27 juta.
Turunnya produksi pulp ini terkait minimnya pemenuhan kebutuhan bahan baku yang sebagian besar atau lebih 95 persen berupa kayu. Bahan baku selama ini dipenuhi dari hutan tanaman industri (HTI), bridging material (dari hasil land clearing HTI), limbah pembalakan dan hutan rakyat. Kebutuhan kayu sesuai rencana produksi nasional tahun ini sebesar 26,66 juta meter kubik. Hingga Desember 2007 terdapat 14 pabrik pulp dan 79 pabrik kertas nasional dengan kapasitas masing-masing 6,73 juta ton pulp dan 10,36 juta ton kertas per tahun. Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar 6,23 juta ton pulp dan 8,64 juta ton kertas.